Jika Tuhan Maha Kuasa, Kenapa Masih Ada Orang Miskin dan Menderita?

AKURAT.CO Dalam diskusi tentang teologi dan filsafat, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, "Jika Tuhan Maha Kuasa dan Maha Penyayang, mengapa masih ada orang miskin dan menderita?"
Pertanyaan ini, yang juga dikenal sebagai "masalah kejahatan," merupakan salah satu topik yang telah lama diperdebatkan oleh filsuf dan teolog dari berbagai tradisi, termasuk dalam filsafat Islam.
Konsep Tuhan dalam Islam
Dalam Islam, Tuhan (Allah) digambarkan sebagai Maha Kuasa (Al-Qadir), Maha Mengetahui (Al-Alim), dan Maha Penyayang (Ar-Rahman). Dalam keyakinan Islam, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berada di bawah kehendak dan pengetahuan Allah.
Namun, keberadaan kemiskinan dan penderitaan seringkali memicu pertanyaan tentang bagaimana atribut-atribut ilahi ini selaras dengan realitas dunia.
Baca Juga: Jika Alam Diciptakan Tuhan, Siapa yang Menciptakan Tuhan?
Ujian Kehidupan
Dalam pandangan Islam, kehidupan di dunia ini dianggap sebagai ujian bagi manusia. Al-Qur'an sering menyebutkan bahwa Allah menguji manusia dengan berbagai keadaan, baik itu kebahagiaan maupun kesedihan, kekayaan maupun kemiskinan.
Ujian ini bukan hanya bertujuan untuk menguji kesabaran dan ketabahan seseorang, tetapi juga untuk melihat bagaimana seseorang merespon keadaan tersebut.
Misalnya, dalam Surah Al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
Kehendak Bebas dan Tanggung Jawab Sosial
Islam juga mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas (ikhtiyar) untuk memilih perbuatannya. Meskipun segala sesuatu berada dalam pengetahuan Allah, manusia bertanggung jawab atas pilihan yang mereka buat.
Oleh karena itu, kemiskinan dan penderitaan bisa jadi merupakan hasil dari tindakan manusia, baik secara individu maupun kolektif.
Dalam Islam, terdapat tanggung jawab sosial untuk membantu mereka yang membutuhkan. Konsep zakat, infak, dan sedekah adalah manifestasi dari kewajiban ini.
Dengan membantu mereka yang kurang beruntung, umat Islam diharapkan dapat mengurangi penderitaan dan ketidakadilan sosial.
Hikmah di Balik Penderitaan
Dalam filsafat Islam, ada keyakinan bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah atau kebijaksanaan di baliknya, meskipun mungkin tidak selalu jelas bagi manusia.
Penderitaan dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, meningkatkan keimanan, dan memurnikan jiwa. Sering kali, melalui kesulitan, seseorang dapat mencapai tingkat kedewasaan spiritual yang lebih tinggi dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan dan tujuan akhir.
Dari perspektif filsafat Islam, keberadaan kemiskinan dan penderitaan tidak serta merta menunjukkan ketiadaan atau ketidakpedulian Tuhan.
Sebaliknya, hal ini dianggap sebagai bagian dari rencana ilahi yang lebih besar, yang mungkin tidak selalu dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Melalui ujian kehidupan, manusia diberi kesempatan untuk menunjukkan ketaatan, kesabaran, dan kasih sayang kepada sesama.
Dengan demikian, penderitaan dan kemiskinan memiliki tujuan yang lebih besar dalam konteks keimanan dan kehidupan spiritual.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









