AKURAT.CO Dalam budaya Jawa, weton adalah hari kelahiran seseorang berdasarkan penanggalan Jawa yang seringkali digunakan sebagai pedoman dalam menentukan berbagai aspek kehidupan, termasuk perjodohan, kesehatan, dan rezeki.
Setiap tahun, berbagai ramalan mengenai weton tertentu yang dianggap akan membawa keberuntungan besar sering muncul, terutama pada bulan Suro, yang merupakan bulan pertama dalam kalender Jawa.
Tahun 2024 tidak terkecuali dari tren ini, dengan banyak yang percaya bahwa beberapa weton akan memperoleh hoki besar pada bulan Suro tahun ini.
Namun, bagaimanakah perspektif Islam terhadap kepercayaan seperti ini?
Baca Juga: Meninggal di Malam 1 Suro, Keluarga Sebaiknya Lakukan 5 Hal ini Agar Almarhum Tenang di Alam Kubur
Perspektif Hadis dalam Islam
Dalam Islam, segala bentuk ramalan atau kepercayaan terhadap peruntungan berdasarkan waktu atau tempat tertentu seringkali dianggap sebagai bentuk takhayul yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan banyak petunjuk dalam hadis-hadisnya mengenai pentingnya bergantung kepada Allah SWT dalam segala urusan, termasuk dalam hal rezeki dan keberuntungan.
Salah satu hadis yang relevan adalah sebagai berikut:
"مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ"
Artinya: "Barangsiapa yang menggantungkan nasibnya kepada sesuatu (selain Allah), maka dia akan diserahkan kepada sesuatu itu." (HR. Ahmad)
Hadis ini menekankan bahwa mengandalkan sesuatu selain Allah, seperti ramalan atau weton, dalam mencari keberuntungan atau rezeki, merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini dikarenakan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berada di bawah kekuasaan Allah, dan hanya kepada-Nya lah kita seharusnya bergantung.
Konteks Keberuntungan dalam Islam
Dalam pandangan Islam, keberuntungan atau rezeki adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak bisa diubah oleh ramalan atau kepercayaan tertentu. Islam mengajarkan bahwa usaha dan doa adalah cara yang paling benar untuk mencapai keberhasilan dan keberuntungan.
"إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ"
Artinya: "Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa jiwa tidak akan mati hingga rezekinya disempurnakan. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik." (HR. Abu Nu'aim)
Baca Juga: Hukum Melakukan Ruwatan di Bulan Suro, Apakah Sesuai Syariat Islam?
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap manusia telah ditetapkan rezekinya oleh Allah SWT, dan yang terpenting adalah bertakwa kepada Allah dan mencari rezeki dengan cara yang baik, bukan dengan bergantung pada ramalan atau kepercayaan yang tidak berdasar.
Kepercayaan bahwa weton tertentu akan membawa hoki besar di bulan Suro tahun 2024 mungkin menjadi bagian dari tradisi dan budaya Jawa yang kaya.
Namun, dari perspektif Islam, sangat penting untuk tidak bergantung pada ramalan atau kepercayaan semacam itu.
Islam mengajarkan bahwa keberuntungan dan rezeki datang dari Allah SWT dan hanya kepada-Nya lah kita harus bergantung.
Oleh karena itu, usaha, doa, dan tawakal adalah cara terbaik untuk mencapai kesuksesan dan keberuntungan yang sejati.