Akurat

Ramai soal Panggilan Haji Thariq Halilintar, Ini Sejarah Panggilan Haji di Indonesia

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Juli 2024, 09:30 WIB
Ramai soal Panggilan Haji Thariq Halilintar, Ini Sejarah Panggilan Haji di Indonesia

AKURAT.CO Belakangan ini, media sosial dihebohkan dengan perdebatan mengenai panggilan "Haji" yang digunakan oleh Thariq Halilintar, salah satu anggota keluarga Gen Halilintar yang dikenal luas di Indonesia.

Pro dan kontra mengenai penggunaan gelar ini menarik perhatian publik dan menimbulkan berbagai tanggapan.

Untuk memahami lebih dalam mengenai fenomena ini, mari kita telusuri sejarah dan signifikansi panggilan haji di Indonesia.

Sejarah Panggilan Haji di Indonesia

Gelar "Haji" berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang telah menunaikan ibadah haji. Haji sendiri merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu secara finansial dan fisik untuk melaksanakannya setidaknya sekali seumur hidup.

Di Indonesia, tradisi menambahkan gelar "Haji" di depan nama seseorang yang telah menunaikan ibadah haji sudah berlangsung lama. Praktik ini dianggap sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas pencapaian spiritual yang dicapai oleh individu tersebut.

Baca Juga: Profil Mantan Ketua KPU Hasyim Asy'ari, Pernah Menjadi Pengurus MUI dan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia

Asal-Usul dan Perkembangan

Panggilan "Haji" mulai digunakan sejak Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13. Pada masa kolonial, gelar ini semakin populer seiring dengan peningkatan jumlah jamaah haji dari Indonesia. Masyarakat pada saat itu menganggap gelar haji sebagai tanda status sosial dan kebijaksanaan, mengingat betapa sulit dan mahalnya perjalanan ke Tanah Suci.

Pada masa itu, jamaah haji dari Indonesia harus menempuh perjalanan laut yang panjang dan berbahaya. Oleh karena itu, pulang dari haji menjadi momen yang sangat dihormati dan dihargai, sehingga penggunaan gelar "Haji" menjadi simbol kebanggaan dan prestise.

Kontroversi dan Persepsi Publik

Meskipun penggunaan gelar "Haji" diterima secara luas, namun tidak lepas dari kontroversi. Beberapa kalangan menilai bahwa gelar ini sering disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau komersial. Misalnya, ada yang berpendapat bahwa penggunaan gelar "Haji" oleh selebriti atau tokoh publik cenderung untuk meningkatkan citra atau popularitas, bukan semata-mata sebagai pengakuan spiritual.

Baca Juga: Mantan Ketua KPU Hasyim Asy'ari Pernah Mesantren Selama 4 Tahun di Pesantren Ini

Kasus Thariq Halilintar menjadi salah satu contoh bagaimana penggunaan gelar ini bisa menimbulkan perdebatan. Beberapa netizen mempertanyakan keaslian dan motivasi di balik penggunaan gelar tersebut, sementara yang lain melihatnya sebagai hak pribadi yang tidak seharusnya dipermasalahkan.

Pada akhirnya, panggilan "Haji" memiliki akar budaya dan sejarah yang dalam di Indonesia. Meskipun penggunaan gelar ini bisa menimbulkan berbagai pandangan, penting bagi kita untuk menghormati pilihan individu dan memahami konteks serta makna di balik tradisi ini. Terlepas dari kontroversi yang ada, gelar "Haji" tetap menjadi simbol pencapaian spiritual yang dihormati di tengah masyarakat Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.