Setelah menerima wahyu pertama, Rasulullah Muhammad SAW terus menerima wahyu secara berangsur-angsur selama periode 23 tahun. Proses ini mencakup berbagai konteks dan situasi, seperti peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, hukum-hukum syariat, serta petunjuk moral dan etika.
Baca Juga: Lupa Niat Puasa Sunah Bulan Rajab di Malam Hari? Begini Ketentuannya dalam Islam
Rasulullah menerima wahyu dalam berbagai kondisi, baik dalam keadaan senang maupun sulit, mencerminkan kesempurnaan wahyu sebagai panduan hidup bagi umat manusia. Saat terjadi konflik atau pertempuran, wahyu memberikan petunjuk taktis dan strategis untuk mengatasi situasi tersebut. Selain itu, wahyu juga menanggapi pertanyaan dan peristiwa kontemporer, memberikan bimbingan terkait kehidupan sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu, Rasulullah tidak hanya menjalani pengalaman menerima wahyu secara individu, tetapi juga berbagi pesan-pesan ilahi dengan umatnya. Wahyu tersebut diturunkan untuk menjawab pertanyaan, menyelesaikan konflik, dan memberikan pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam.
Pentingnya wahyu dalam kehidupan Rasulullah dapat dilihat dari transformasi masyarakat Arab pada masa itu. Ajaran-ajaran wahyu menciptakan fondasi moral yang kokoh, menegaskan prinsip-prinsip keadilan, persamaan, dan kebijaksanaan. Rasulullah memimpin umatnya dengan teladan, menunjukkan betapa wahyu itu sendiri adalah rahmat bagi seluruh alam.
Proses menerima wahyu menjadi bukti ketulusan dan ketaatan Rasulullah terhadap tugas kenabian. Kesabaran dan kesungguhan beliau dalam menyampaikan wahyu kepada umatnya menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya. Melalui pengalaman menerima wahyu, Rasulullah membawa cahaya petunjuk Allah kepada dunia, membentuk fondasi agama Islam, dan mengarahkan umat manusia ke jalan yang benar.