Isu Rasis Pada Ajang MasterChef Indonesia, Berikut Penjelasan Sikap Diskriminasi Yang Dilarang Dalam Islam

AKURAT.CO Kemenangan Belinda Christina sebagai juara pertama dalam kompetisi memasak MasterChef Indonesia Season 11 menimbulkan banyak kritik masyarakat akan adanya isu rasisme dan kecurangan penilaian. Disisi lain, bagaimana Islam memandang perilaku rasisme seperti ini?
Dalam kasus kompetisi memasak ini, sejumlah netizen menganggap Belinda sebagai keturunan Tionghoa, mendapatkan keuntungan saat melawan Kiki yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, dan berhasil meraih kemenangan karena bantuan dari ras tionghoa yang dimilikinya.
Pada dasarnya, rasisme muncul dari ketidakmampuan seseorang untuk menerima perbedaan orang lain sehingga memunculkan sikap intoleransi dan diskriminasi. Disisi lain, adanya perbedaan merupakan kepastian pada suatu lingkungan majemuk, termasuk masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Pentingnya Pendidikan Islam Bagi Anak, Ini Yang Harus Ditanamkan Orang Tua Dalam Sanubari Buah Hati
Allah SWT sendiri telah menciptakan adanya perbedaan, baik suku, bangsa, agama, dan lainnya sebagai suatu keniscayaan pada manusia agar sesamanya dapat saling mengenal. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīr
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13).
Dalam Islam, diskriminasi merupakan sikap tercela, dimana Allah SWT memerintahkan umatNya untuk hidup rukun, damai, dan saling menghargai. Sikap ini pun tidak berlaku hanya pada perbedaan ras, melainkan pada latar belakang sosial lain dalam isu SARA, yakni suku, agama, ras, dan antar golongan.
Dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 152, Allah SWT berfirman:
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَلَمْ يُفَرِّقُوا۟ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ أُو۟لَٰٓئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Wallażīna āmanụ billāhi wa rusulihī wa lam yufarriqụ baina aḥadim min-hum ulā`ika saufa yu`tīhim ujụrahum, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā
Artinya: “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang (rasul) pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nisa: 152).
Berdasarkan ayat tersebut Allah SWT melarang kaum muslimin untuk melakukan diskriminasi dengan membeda-bedakan perlakuan, baik saat berhubungan dengan sesamanya, maupun dengan orang lain dengan perbedaan SARA.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







