Suntik Hormon Saat Berpuasa, Ini Hukum dan Penjelasan yang Perlu Diketahui

AKURAT.CO Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana spiritual yang berbeda bagi umat muslim.
Selain menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, ibadah puasa juga menuntut kehati-hatian dalam berbagai aktivitas sehari-hari, termasuk urusan kesehatan.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul, terutama di kalangan perempuan dan pasien yang menjalani terapi medis, adalah apakah suntik hormon membatalkan puasa.
Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Suntik hormon digunakan dalam berbagai kebutuhan medis, mulai dari program keluarga berencana, terapi gangguan hormon, hingga pengobatan penyakit tertentu. Ketika terapi tersebut harus tetap dilakukan di bulan Ramadan, banyak orang merasa ragu apakah puasanya tetap sah atau justru batal.
Baca Juga: 7 Rahasia Cara Mengonsumsi Asam Jawa untuk Hormon Agar Tubuhmu Lebih Seimbang
Suntik Hormon dan Fungsinya dalam Dunia Medis
Suntik hormon merupakan tindakan medis yang dilakukan dengan memasukkan cairan berisi hormon tertentu ke dalam tubuh melalui jarum suntik. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk mengatur keseimbangan hormon, mencegah kehamilan, atau mendukung terapi kesehatan tertentu.
Dalam praktiknya, suntikan hormon dapat diberikan pada beberapa bagian tubuh seperti lengan, paha, atau bokong.
Cara kerjanya adalah dengan memasukkan zat aktif langsung ke jaringan tubuh, kemudian diserap secara perlahan oleh sistem peredaran darah.
Karena melibatkan cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh, wajar jika muncul kekhawatiran apakah tindakan ini termasuk sesuatu yang membatalkan puasa.
Kapan Suntik Hormon Dilakukan Saat Puasa?
Pertanyaan mengenai waktu pelaksanaan suntik hormon biasanya muncul dari pasien yang memiliki jadwal rutin terapi.
Suntikan hormon sering kali diberikan secara berkala, misalnya setiap satu bulan atau tiga bulan sekali, tergantung kebutuhan medis masing-masing individu.
Dalam situasi tertentu, jadwal suntikan bisa bertepatan dengan bulan Ramadan. Kondisi ini membuat pasien dihadapkan pada dua pilihan, yakni tetap menjalani suntikan sesuai jadwal medis atau menundanya demi menjaga ibadah puasa.
Keputusan ini sering kali menimbulkan kebingungan karena berkaitan dengan dua hal penting sekaligus, yaitu kesehatan dan kewajiban ibadah.
Apakah Suntik Hormon Membatalkan Puasa?
Dalam kajian fikih, mayoritas ulama memandang bahwa suntikan yang tidak berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman tidak membatalkan puasa.
Suntik hormon termasuk dalam kategori tindakan medis yang bertujuan untuk terapi, bukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Puasa pada dasarnya batal apabila seseorang memasukkan sesuatu yang bersifat makanan atau minuman ke dalam tubuh melalui jalur yang lazim, seperti mulut atau hidung, hingga sampai ke lambung. Sementara itu, suntik hormon diberikan melalui jaringan tubuh dan tidak melewati saluran pencernaan.
Karena sifatnya yang tidak menggantikan fungsi makan dan minum, suntik hormon umumnya dianggap tidak membatalkan puasa.
Dengan kata lain, seseorang yang menjalani terapi suntik hormon masih dapat melanjutkan puasanya selama tidak muncul kondisi kesehatan yang membahayakan.
Baca Juga: Apakah Suntik Vitamin Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya
Bagaimana Jika Suntikan Mengandung Nutrisi?
Meski suntik hormon pada umumnya tidak membatalkan puasa, terdapat pengecualian pada jenis suntikan tertentu.
Jika cairan suntikan mengandung zat yang berfungsi sebagai pengganti makanan atau minuman, maka hukumnya bisa berbeda.
Suntikan yang bertujuan memberikan energi atau nutrisi tambahan biasanya dipandang sebagai sesuatu yang berpotensi membatalkan puasa. Hal ini karena fungsinya menyerupai makan dan minum, meskipun tidak melalui jalur pencernaan.
Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk memahami jenis suntikan yang diterima dan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menjalani terapi selama Ramadan.
Bagaimana Jika Suntik Hormon Dilakukan Karena Kebutuhan Mendesak?
Dalam ajaran Islam, menjaga kesehatan merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan.
Jika suntik hormon harus dilakukan karena kebutuhan medis yang tidak bisa ditunda, maka tindakan tersebut tetap diperbolehkan.
Apabila terapi tersebut menyebabkan kondisi tubuh melemah atau menimbulkan efek samping berat sehingga seseorang tidak mampu melanjutkan puasa, maka puasa dapat diganti di hari lain.
Prinsip ini sejalan dengan kemudahan yang diberikan dalam syariat bagi orang yang sedang sakit.
Efek Samping Suntik Hormon yang Perlu Diperhatikan Saat Puasa
Beberapa orang yang menjalani terapi hormon mungkin mengalami efek samping tertentu, terutama pada awal penggunaan.
Efek tersebut bisa berupa perubahan siklus menstruasi, pusing, perubahan berat badan, hingga rasa tidak nyaman pada tubuh.
Saat berpuasa, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi stamina dan daya tahan tubuh.
Jika efek samping terasa berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang dianjurkan untuk memprioritaskan kesehatan terlebih dahulu.
Tips Aman Menjalani Terapi Suntik Hormon Saat Puasa
Bagi pasien yang tetap ingin menjalani puasa sambil menjalani terapi hormon, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar kondisi tubuh tetap stabil.
Pertama, pastikan tubuh mendapatkan asupan gizi yang cukup saat sahur dan berbuka.
Nutrisi yang seimbang membantu menjaga energi dan kestabilan hormon.
Kedua, perbanyak konsumsi cairan pada waktu malam hari untuk mencegah dehidrasi, terutama jika terapi hormon menimbulkan perubahan pada kondisi tubuh.
Ketiga, konsultasikan jadwal suntikan dengan tenaga medis. Dalam beberapa kasus, jadwal terapi dapat disesuaikan agar lebih nyaman dijalani selama Ramadan.
Keempat, perhatikan tanda-tanda tubuh mengalami gangguan kesehatan.
Jika muncul keluhan berat seperti pusing berlebihan atau tubuh terasa sangat lemah, sebaiknya segera beristirahat dan mempertimbangkan untuk membatalkan puasa.
Secara umum, suntik hormon tidak membatalkan puasa karena tidak termasuk dalam kategori makan atau minum.
Selama suntikan tersebut bertujuan sebagai terapi medis dan tidak mengandung zat nutrisi pengganti makanan, puasa tetap dianggap sah.
Namun, setiap individu memiliki kondisi kesehatan yang berbeda.
Oleh sebab itu, memahami kebutuhan medis dan menjaga kesehatan tetap menjadi hal yang utama.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran serta menjaga keseimbangan antara kewajiban agama dan kondisi tubuh.
Mutiara MY (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









