Mendengkur Keras Bisa Jadi Tanda Sleep Apnea, Gangguan Tidur Serius pada Orang Dewasa

AKURAT.CO Mendengkur keras saat tidur kerap dianggap sepele. Banyak orang mengira dengkuran hanyalah kebiasaan tidur atau tanda kelelahan.
Padahal, di balik dengkuran yang berulang dan napas yang terhenti sesaat, bisa tersembunyi gangguan tidur serius bernama sleep apnea.
Pada orang dewasa, kondisi ini sering tidak terdeteksi, meski dampaknya dapat memengaruhi kesehatan jantung, otak, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Sleep apnea bukan sekadar gangguan tidur biasa. Kondisi ini menyebabkan pernapasan seseorang berhenti dan kembali lagi secara berulang selama tidur tanpa disadari penderitanya.
Akibatnya, tubuh kekurangan oksigen dan kualitas tidur menurun, meski durasi tidur terlihat cukup.
Apa Itu Sleep Apnea pada Orang Dewasa?
Sleep apnea merupakan gangguan tidur kronis yang ditandai dengan henti napas berulang saat seseorang tertidur.
Pada orang dewasa, jeda napas dapat berlangsung beberapa detik hingga lebih dari satu menit dan bisa terjadi puluhan kali dalam semalam.
Setiap kali napas terhenti, kadar oksigen dalam darah menurun. Otak kemudian memberi sinyal darurat untuk membangunkan tubuh secara singkat agar pernapasan kembali normal.
Proses ini sering kali tidak disadari, tetapi membuat tidur menjadi terputus-putus dan tubuh gagal mencapai fase tidur dalam yang penting untuk pemulihan fisik dan mental.
Baca Juga: Menangis di DPR, Nenek Saudah Minta Keadilan atas Penganiayaan Saat Pertahankan Tanah Ulayat
Penyebab Sleep Apnea
Pada orang dewasa, sleep apnea umumnya terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan jalan napas bagian atas saat tidur.
Otot-otot tenggorokan yang terlalu rileks dapat menghambat aliran udara, terutama saat tidur telentang.
Kondisi ini diperparah oleh kelebihan berat badan, lingkar leher besar, bentuk rahang tertentu, hingga pembesaran jaringan di tenggorokan.
Selain itu, terdapat jenis sleep apnea yang disebabkan oleh gangguan sinyal dari otak ke otot pernapasan.
Dalam kondisi ini, tubuh seolah “lupa” bernapas untuk sementara waktu.
Faktor usia, penyakit jantung, riwayat stroke, serta penggunaan obat-obatan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan ini.
Ciri Bunyi Sleep Apnea
Tanda sleep apnea sering kali pertama kali disadari oleh orang di sekitar penderita. Bunyi yang muncul biasanya berupa dengkuran keras dan terputus-putus, diselingi hening sesaat saat napas berhenti.
Setelah itu, penderita dapat terdengar tersedak, mendengus, atau menarik napas dalam secara tiba-tiba. Pola ini dapat berulang sepanjang malam.
Pada beberapa kasus tertentu, dengkuran bisa lebih halus atau bahkan tidak terdengar, sehingga sleep apnea menjadi semakin sulit dikenali.
Kelompok Berisiko
Sleep apnea dapat dialami siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada pria dewasa, terutama yang mengalami kelebihan berat badan. Wanita juga berisiko, khususnya setelah memasuki masa menopause.
Faktor risiko lainnya meliputi riwayat keluarga, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol sebelum tidur, gangguan hidung kronis, serta penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung.
Usia lanjut juga membuat sistem pernapasan saat tidur menjadi kurang stabil.
Dampak Jika Tidak Diobati
Sleep apnea yang tidak ditangani dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius.
Kekurangan oksigen berulang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, penyakit jantung koroner, hingga stroke.
Baca Juga: Siti Zuhro Cerita Pertemuan dengan Prabowo: Saya Bukan Oposisi, Tapi Pengingat Negara
Selain itu, kondisi ini berdampak pada fungsi otak. Penderita sering mengalami kantuk berlebihan di siang hari, sulit berkonsentrasi, perubahan suasana hati, hingga penurunan daya ingat.
Dalam jangka panjang, sleep apnea dapat mengganggu produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Cara Mengatasi Sleep Apnea
Penanganan sleep apnea disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya.
Pada kasus ringan, perubahan gaya hidup menjadi langkah awal, seperti menurunkan berat badan, berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, serta mengatur posisi tidur.
Pada kasus sedang hingga berat, dokter dapat merekomendasikan penggunaan alat bantu pernapasan saat tidur yang menjaga jalan napas tetap terbuka.
Beberapa penderita juga memerlukan alat khusus di mulut untuk menyesuaikan posisi rahang dan lidah. Pada kondisi tertentu, tindakan medis atau operasi dapat menjadi pilihan.
Harus Berobat ke Mana?
Jika seseorang sering mendengkur keras, terbangun dengan napas tersengal, atau merasa sangat mengantuk di siang hari meski tidur cukup, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.
Pemeriksaan dapat dimulai dari dokter umum, lalu dirujuk ke spesialis penyakit dalam, paru, THT, atau dokter spesialis gangguan tidur.
Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat menyarankan pemeriksaan tidur yang memantau pola pernapasan, kadar oksigen, dan aktivitas tubuh selama tidur.
Pentingnya Deteksi Dini
Sleep apnea pada orang dewasa sering luput dari perhatian karena terjadi saat tidur dan tidak selalu menimbulkan keluhan yang jelas.
Padahal, dampaknya sangat luas bagi kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup.
Mengenali gejala sejak dini dan mendapatkan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius.
Tidur bukan hanya soal durasi, tetapi juga kualitas. Ketika napas terganggu saat tidur, tubuh sebenarnya sedang memberi sinyal bahwa ada masalah yang tidak boleh diabaikan.
Baca Juga: Hendri Satrio: Beda Persepsi Publik terhadap Teddy dan Purbaya
Laporan: Mutiara MY/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










