Akurat

Apakah Boleh Minum Kopi setelah Mengonsumsi Obat? Ini Penjelasan yang Akurat

Idham Nur Indrajaya | 24 November 2025, 15:59 WIB
Apakah Boleh Minum Kopi setelah Mengonsumsi Obat? Ini Penjelasan yang Akurat

 

AKURAT.CO Pertanyaan soal keamanan minum kopi setelah mengonsumsi obat memang sering muncul, terutama bagi mereka yang terbiasa mengawali hari dengan secangkir kopi. Banyak yang mengira bahwa kopi hanyalah minuman pengusir kantuk, padahal kafein di dalamnya bisa berinteraksi dengan obat tertentu dan memengaruhi cara kerja obat di tubuh.

Kafein bekerja sebagai stimulan yang memengaruhi sistem saraf pusat dan irama kerja organ lainnya, termasuk lambung dan jantung. Karena itu, mengonsumsi kopi terlalu dekat dengan waktu minum obat berpotensi mengubah proses penyerapan obat, efektivitasnya, bahkan efek samping yang muncul. Para ahli kesehatan menyarankan memberi jeda waktu minimal satu jam sebelum minum obat atau dua jam setelahnya agar risiko interaksi dapat diminimalkan.


Kenapa Kopi Perlu Dijeda dari Waktu Minum Obat?

Kopi tidak sekadar memengaruhi rasa kantuk, tetapi juga dapat mengubah cara tubuh memproses sesuatu yang masuk ke pencernaan. Sebuah studi pada 2021 menunjukkan bahwa kopi merangsang aktivitas lambung dan memengaruhi waktu transit makanan maupun obat di sistem pencernaan. Ini berarti waktu obat untuk mencapai usus dan diserap bisa berubah.

Tidak hanya itu, kecepatan penyerapan obat ke aliran darah juga dapat terpengaruh. Itulah sebabnya mengonsumsi kopi terlalu dekat dengan waktu minum obat dapat mengurangi atau justru meningkatkan efek obat secara tidak terduga. Jeda waktu 1–2 jam adalah langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko tersebut.


Bagaimana Kopi Bisa Mengubah Penyerapan Obat di Tubuh?

Efek kopi terhadap obat bisa berbeda-beda, bergantung pada jenis obat yang dikonsumsi. Namun ada tiga mekanisme utama yang paling sering terjadi: mengurangi penyerapan obat, memengaruhi efektivitas, dan meningkatkan risiko efek samping.

Kopi Dapat Mengurangi Penyerapan Obat

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kopi dapat mengubah pH lambung, mempercepat atau memperlambat pengosongan perut, hingga memengaruhi proses disolusi obat. Dalam jurnal Biochemistry Research International, kopi dilaporkan dapat mengganggu aktivitas enzim tertentu yang mempengaruhi metabolisme glukosa, yang pada akhirnya bisa mengubah cara tubuh menyerap obat.

Salah satu obat yang paling terpengaruh adalah levothyroxine, obat untuk hipotiroidisme. Studi pada 2022 menemukan bahwa kafein dari kopi atau teh dapat mengurangi penyerapan levothyroxine di saluran cerna.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa minum 2–3 cangkir kopi dapat menurunkan penyerapan midazolam hingga 75%. Selain itu, beberapa obat antipsikotik, antidepresan, serta suplemen vitamin dan mineral — seperti vitamin D, kalsium, dan zat besi — juga bisa berkurang penyerapannya bila dikonsumsi terlalu dekat dengan kopi.

Sebaliknya, ada pula obat yang justru penyerapannya meningkat saat dikombinasikan dengan kafein, misalnya aspirin, ergotamine (obat migrain), dan levodopa (obat Parkinson). Meningkatnya penyerapan bisa membuat efek obat menjadi lebih kuat dari yang seharusnya.


Kopi Bisa Mengubah Efektivitas Obat

Tidak hanya soal penyerapan, kopi juga bisa membuat efektivitas obat menjadi terlalu kuat atau justru melemah.

Dalam jurnal Pharmaceutics, disebutkan bahwa kafein dapat memperkuat efek stimulan pada obat ADHD seperti methylphenidate. Kombinasi keduanya dapat meningkatkan kecemasan, membuat sulit tidur, dan memicu jantung berdebar lebih cepat.

Pada obat anti-kejang, interaksi dengan kafein justru dapat menurunkan efektivitas obat dan meningkatkan risiko kambuhnya kejang. Contoh obat yang terpengaruh antara lain carbamazepine, phenobarbital, phenytoin, dan valproate.


Meningkatkan Risiko Efek Samping Obat

Beberapa obat bisa bereaksi cukup sensitif terhadap keberadaan kafein. Pada obat pengencer darah seperti warfarin, kafein dapat mengganggu metabolisme obat sehingga kadarnya meningkat di dalam darah. Ketika kadar warfarin terlalu tinggi, risiko perdarahan pun meningkat.

Pada obat diuretik, tubuh akan mengeluarkan lebih banyak cairan dan elektrolit, termasuk kalium. Karena kafein juga memiliki efek serupa, kombinasi keduanya dapat menyebabkan kadar kalium turun hingga berbahaya bagi jantung.

Sementara itu, obat alergi dan asma seperti ephedrine memiliki sifat stimulan yang mirip kafein. Minum kopi setelah mengonsumsi obat ini dapat membuat detak jantung melonjak drastis, tekanan darah naik, dan meningkatkan risiko gangguan jantung jangka panjang.

Interaksi kafein dengan pil KB atau obat yang mengandung estrogen juga perlu menjadi perhatian. Kafein dapat memengaruhi cara tubuh memetabolisme estrogen, sementara estrogen dapat memperkuat efek stimulan dari kafein. Akibatnya, risiko sakit kepala, jantung berdebar, dan hiperaktivitas bisa meningkat.

Beberapa obat lain seperti ciprofloxacin, cimetidine, dan verapamil juga diketahui dapat meningkatkan efek kafein bila dikonsumsi berdekatan dengan kopi.


Kopi Juga Berpengaruh terhadap Efektivitas Antibiotik

Kopi ternyata juga dapat mengganggu efektivitas antibiotik tertentu. Pada antibiotik kelompok tetracycline seperti doksisiklin, kafein dapat membuat efek obat menjadi kurang optimal. Penelitian dari Acta Biochimica Polonica bahkan menunjukkan potensi interaksi beracun antara kafein dan antibiotik tertentu terhadap bakteri baik di tubuh, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan.


Bagaimana Kopi Mengubah Penyerapan Obat di Lambung?

Kopi dapat memengaruhi penyerapan obat melalui tiga mekanisme:

  1. Memperlambat pengosongan lambung sehingga penyerapan obat tertunda.

  2. Berinteraksi langsung dengan molekul obat, sehingga obat sulit diserap di usus.

  3. Meningkatkan produksi asam lambung, yang dapat mengganggu kestabilan obat yang sensitif terhadap perubahan pH.

Misalnya, obat antasida yang bekerja menetralisir asam lambung bisa kehilangan efektivitas jika diminum terlalu dekat dengan konsumsi kopi karena sifat kopi yang asam.


Tips Aman Mengonsumsi Kopi dan Obat Secara Bersamaan

Untuk menghindari risiko interaksi yang tidak diinginkan, beberapa langkah berikut bisa membantu:

  • Konsultasikan dengan dokter atau apoteker, terutama jika mengonsumsi obat jangka panjang atau obat dengan efek kuat.

  • Berikan jeda waktu 1–2 jam antara minum kopi dan minum obat.

  • Batasi konsumsi kopi, terutama pada obat yang sensitif terhadap kafein.

  • Perhatikan reaksi tubuh, apakah muncul jantung berdebar, pusing, atau gangguan tidur.

  • Minum air putih yang cukup untuk menjaga hidrasi dan membantu penyerapan obat.

Konsumsi 3–4 cangkir kopi per hari umumnya dianggap aman untuk orang dewasa, tetapi untuk yang sedang menjalani pengobatan tertentu, jumlah ini mungkin perlu disesuaikan.


Kapan Sebaiknya Kamu Menghindari Kopi Sama Sekali?

Ada situasi tertentu ketika kopi sebaiknya dihindari:

  • Saat minum obat yang efek sampingnya mirip kopi, seperti jantung berdebar atau sulit tidur.

  • Saat minum obat yang sensitif terhadap perubahan pH lambung.

  • Saat mengonsumsi obat yang membutuhkan penyerapan optimal tanpa gangguan.


Alternatif Minuman Selain Kopi Saat Minum Obat

Kalau ingin tetap menikmati minuman hangat atau segar tanpa risiko interaksi, beberapa pilihan yang lebih aman antara lain:

  • Teh herbal tanpa kafein

  • Air lemon hangat

  • Jus buah segar

  • Air putih sebagai pilihan paling aman


Kesimpulan

Minum kopi setelah minum obat bukan hal yang sepenuhnya dilarang, tetapi perlu perhatian ekstra. Kafein dapat mengubah cara obat bekerja, baik dari sisi penyerapan, efektivitas, maupun risiko efek samping. Memberi jeda waktu, mengamati reaksi tubuh, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan adalah langkah terbaik untuk memastikan konsumsi obat tetap aman dan efektif.

Kalau kamu ingin mendapatkan informasi kesehatan lainnya yang relevan, terus ikuti update terbaru di AKURAT.CO.

Baca Juga: Penyebab Perut Kembung Setelah Minum Kopi

Baca Juga: Apakah Kopi Aman untuk Ibu Hamil? Ini Penjelasan Medis dan Rekomendasi Dokter

FAQ

1. Apakah boleh minum kopi setelah minum obat?

Boleh, tetapi sebaiknya beri jeda 1–2 jam. Kafein dalam kopi dapat memengaruhi penyerapan dan efektivitas obat tertentu.

2. Kenapa kopi harus dijeda dari waktu minum obat?

Kopi dapat mengubah aktivitas lambung, mempercepat atau memperlambat pengosongan perut, serta memengaruhi pH lambung. Semua ini dapat mengubah cara obat diserap di tubuh.

3. Obat apa saja yang paling sensitif terhadap interaksi dengan kopi?

Beberapa di antaranya: levothyroxine, midazolam, obat antipsikotik, antidepresan, obat ADHD, obat anti-kejang, warfarin, diuretik, ephedrine, ciprofloxacin, dan verapamil.

4. Apa saja obat yang penyerapannya menurun jika diminum dekat dengan kopi?

Levothyroxine, midazolam, zat besi, kalsium, vitamin D, obat antidepresan tertentu, dan beberapa suplemen mineral.

5. Apakah ada obat yang justru penyerapannya meningkat jika dikombinasikan dengan kopi?

Ya, seperti aspirin, ergotamine (obat migrain), dan levodopa (obat Parkinson).

6. Mengapa kopi bisa mengubah efektivitas obat?

Karena kafein merupakan stimulan yang dapat memperkuat atau melemahkan efek obat tertentu, terutama yang bekerja pada saraf pusat.

7. Apakah kopi berpengaruh terhadap antibiotik?

Ya. Pada antibiotik tetracycline seperti doxycycline, kopi dapat menurunkan efektivitasnya.

8. Apa gejala yang muncul jika kopi dan obat bereaksi?

Jantung berdebar, sulit tidur, pusing, kecemasan meningkat, atau efek samping obat terasa lebih kuat.

9. Apakah aman minum kopi saat mengonsumsi obat pengencer darah seperti warfarin?

Harus berhati-hati. Kafein dapat meningkatkan kadar warfarin dalam darah dan memicu risiko perdarahan.

10. Berapa lama jeda ideal antara minum kopi dan obat?

Umumnya 1 jam sebelum minum obat atau 2 jam setelah minum obat.

11. Apakah aman minum kopi saat sedang minum obat diuretik?

Perlu dihindari karena keduanya meningkatkan pembuangan cairan dan elektrolit, sehingga risiko kekurangan kalium meningkat.

12. Apakah kopi memengaruhi obat asam lambung atau antasida?

Ya. Kopi meningkatkan produksi asam lambung, sehingga bisa mengurangi efektivitas antasida.

13. Kapan sebaiknya tidak minum kopi sama sekali?

Saat mengonsumsi obat yang memiliki efek samping mirip kafein (berdebar, gelisah, sulit tidur) atau obat yang penyerapan optimalnya sangat sensitif terhadap perubahan pH.

14. Apa minuman pengganti kopi yang lebih aman saat minum obat?

Teh herbal tanpa kafein, air lemon hangat, air putih, atau jus buah segar.

15. Berapa batas aman konsumsi kopi per hari saat sedang minum obat?

Pada orang dewasa sehat 3–4 cangkir per hari dianggap aman, tetapi bagi pengguna obat tertentu jumlah ini bisa perlu dikurangi.

16. Apakah kopi memengaruhi penyerapan suplemen?

Ya. Suplemen seperti zat besi, kalsium, dan vitamin D dapat berkurang penyerapannya bila diminum dekat dengan kopi.

17. Bagaimana cara aman menikmati kopi sambil tetap minum obat?

Ikuti jeda waktu, perhatikan reaksi tubuh, batasi asupan kafein, dan konsultasikan dengan dokter bila mengonsumsi obat jangka panjang.

18. Apakah efek interaksi kopi dengan obat bisa berbeda pada setiap orang?

Ya. Faktor usia, kondisi kesehatan, metabolisme, serta jenis obat yang diminum sangat memengaruhi respons tubuh.

19. Apakah kopi hitam lebih aman dibanding kopi susu?

Interaksi terutama disebabkan kafein, sehingga baik kopi hitam maupun kopi susu tetap perlu diperhatikan jeda waktunya.

20. Apakah minum kopi sebelum sarapan memengaruhi konsumsi obat pagi hari?

Bisa. Jika kamu minum obat pagi yang sensitif terhadap kafein, minum kopi sebelum makan bisa memicu interaksi lebih besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.