Kenali Penyebab Jarum Timbangan Mandek di Tengah Proses Diet

AKURAT.CO Pada awal diet, banyak orang merasa optimis ketika angka di timbangan turun dengan cepat. Namun memasuki minggu kedua, perubahan itu sering mendadak berhenti.
Timbangan tak bergerak, meski pola makan dan olahraga tetap dijalankan. Situasi ini membuat sebagian orang ragu, apakah diet salah atau tubuhnya kebal terhadap program yang sedang dijalani.
Kondisi stagnan ini sebenarnya cukup umum. Tubuh yang semula kaget dengan pola baru pada minggu pertama, mulai menyesuaikan diri.
Apa yang semula hilang berupa cairan dan glikogen, kini bergeser ke proses pembakaran lemak yang membutuhkan waktu lebih panjang. Peralihan inilah yang sering membuat penurunan berat badan terlihat melambat.
Apa yang Membuat Berat Badan Mendadak Macet?
Ada beberapa penyebab utama yang sering terjadi pada minggu kedua diet:
1. Metabolisme mulai menyesuaikan
Ketika tubuh menerima lebih sedikit kalori, mekanisme pertahanannya bekerja. Energi yang dikeluarkan diperlambat agar tubuh tetap stabil. Metabolisme yang menurun membuat proses pembakaran kalori tidak secepat minggu pertama.
2. Pergeseran komposisi tubuh
Pada tahap awal, banyak berat yang hilang berasal dari cairan. Setelah itu, tubuh beralih ke pembakaran lemak dan perbaikan jaringan. Proses ini lebih lambat, sehingga timbangan tampak berhenti meski perubahan tetap terjadi di dalam tubuh.
3. Asupan nutrisi belum seimbang
Banyak yang merasa sudah makan sedikit, padahal komposisinya kurang mendukung penurunan berat badan.
Kekurangan protein, serat, atau lemak sehat bisa menghambat rasa kenyang, membuat energi cepat turun, dan memperlambat metabolisme.
4. Kalori terlalu rendah
Program diet yang terlalu ketat, misalnya memotong porsi besar-besaran justru membuat tubuh masuk ke mode hemat energi. Akibatnya, penurunan berat badan terhambat.
5. Kurang tidur dan stress
Ketidakseimbangan hormon akibat stres atau kurang istirahat dapat meningkatkan nafsu makan dan menahan pelepasan lemak.
Kondisi ini sering terjadi pada minggu-minggu awal karena tubuh masih beradaptasi dengan rutinitas baru.
Bagaimana Mengatasinya?
Stagnasi tidak berarti diet gagal. Tubuh hanya membutuhkan strategi baru agar tetap responsif.
1. Perbaiki komposisi makan, bukan hanya jumlahnya
Penuhi kebutuhan protein, tambah serat dari sayuran dan buah, sertakan lemak sehat, dan pilih karbohidrat kompleks. Perubahan kecil dapat memberi dorongan besar pada metabolisme.
2. Tambahkan latihan kekuatan
Latihan beban membantu membangun massa otot. Semakin banyak otot, semakin tinggi pembakaran kalori bahkan saat istirahat.
3. Atur intensitas olahraga
Jika selama ini hanya melakukan kardio stabil, tambahkan interval singkat, perpanjang durasi, atau kombinasikan dengan jenis lain agar tubuh tidak cepat beradaptasi.
4. Istirahat cukup dan kendalikan stres
Pemulihan adalah bagian penting dari diet. Tidur membantu menyeimbangkan hormon lapar dan menjaga metabolisme tetap optimal.
5. Tinjau ulang pola makan harian
Catatan makan atau pengukuran porsi bisa membantu melihat apakah ada asupan yang tanpa sadar berlebih atau kurang.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Menimbang?
Perubahan berat badan sangat fluktuatif dari hari ke hari. Untuk memantau perkembangan dengan lebih akurat:
• Menimbang 1-2 kali per minggu
• Dilakukan pada waktu yang sama, idealnya pagi hari sebelum sarapan
• Fokus pada tren mingguan, bukan angka harian yang mudah berubah
Cara ini memberi gambaran lebih realistis mengenai hasil diet, tanpa terjebak pada naik-turun kecil yang tidak mencerminkan perkembangan sebenarnya.
Diet bukan sekadar menurunkan angka di timbangan tetapi membangun kebiasaan jangka panjang. Perubahan mungkin tidak langsung terlihat setiap hari, tetapi konsistensi selalu memberi hasil di akhirnya.
Laporan: Mutiara MY/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









