Mengenal Gejala Sakau: Tantangan Terberat dalam Pemulihan dari Narkoba

AKURAT.CO Ketika seseorang berhenti menggunakan narkoba, tubuh akan memasuki fase penyesuaian yang dikenal sebagai sindrom putus obat (withdrawal syndrome) atau sakau.
Fase ini merupakan reaksi alami tubuh yang kehilangan zat adiktif yang sebelumnya digunakan secara rutin.
Intensitas gejalanya dapat ringan hingga sangat berat, tergantung jenis narkoba, lama penggunaan, frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan pengguna.
Tahap ini menjadi salah satu proses tersulit dalam pemulihan karena memengaruhi kondisi fisik dan mental secara signifikan.
Dampak Fisik Saat Menghentikan Narkoba
Tubuh yang terbiasa dengan zat adiktif akan berusaha beradaptasi kembali ketika konsumsi dihentikan. Reaksi fisik yang umum muncul antara lain:
-
Nyeri otot dan tulang
-
Mual, muntah, dan sakit perut
-
Gangguan tidur atau insomnia
-
Gemetar, kejang, atau berkeringat berlebihan
-
Perubahan nafsu makan (menurun atau meningkat)
-
Jantung berdebar dan tekanan darah naik
-
Tubuh lemas dan tidak bertenaga
Gejala ini menunjukkan bahwa tubuh sedang memulihkan fungsi normalnya setelah lama bergantung pada zat kimia narkoba.
Baca Juga: Wapres Gibran Tekankan Sinergi Pusat–Daerah Tangani Banjir Semarang
Dampak Psikologis Akibat Putus Narkoba
Selain gejala fisik, efek psikologis juga sangat besar dan sering berlangsung lebih lama. Beberapa gejala mental yang sering dialami antara lain:
-
Perubahan suasana hati yang ekstrem
-
Kecemasan, rasa gelisah, hingga depresi
-
Sulit berkonsentrasi
-
Halusinasi atau delusi
-
Paranoia dan ketakutan berlebihan
-
Keinginan kuat untuk menggunakan kembali (craving)
-
Mudah marah atau berperilaku agresif
Kondisi ini terjadi karena sistem kimia otak—terutama dopamin dan serotonin—mengalami gangguan setelah zat adiktif dihentikan.
Mengapa Proses Detoksifikasi Harus Diawasi Tenaga Medis
Menghentikan narkoba secara mendadak tanpa pengawasan medis dapat berbahaya. Beberapa jenis zat seperti opioid, alkohol, dan benzodiazepin dapat memicu komplikasi serius, seperti kejang, gangguan pernapasan, hingga kematian jika penghentian tidak dilakukan bertahap.
Detoksifikasi medis dan rehabilitasi dilakukan untuk:
- Mengurangi gejala sakau secara aman
- Mencegah komplikasi kesehatan
- Menekan risiko kambuh (relapse)
Dengan pendampingan dokter, perawat, dan konselor, pemulihan fisik dan mental dapat berjalan lebih efektif dan terkontrol.
Baca Juga: Beli Rumah dengan Gaji UMR? Bisa Banget! Begini Strateginya
Dampak Narkoba terhadap Organ Tubuh
Penggunaan narkoba jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan organ vital, antara lain:
-
Jantung: detak jantung tidak teratur, risiko serangan jantung
-
Hati: perlemakan hati, hepatitis, hingga sirosis
-
Paru-paru: gangguan pernapasan, kerusakan jaringan paru
-
Ginjal: penurunan fungsi ginjal hingga gagal ginjal
-
Otak: gangguan saraf, penurunan daya ingat, perubahan kepribadian
-
Sistem pencernaan: mual kronis, gangguan lambung, penurunan berat badan
Pengguna jarum suntik juga memiliki risiko tinggi tertular HIV/AIDS, Hepatitis B, dan Hepatitis C.
Ketergantungan Psikologis dan Gangguan Mental
Ketergantungan narkoba tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis. Meskipun gejala fisik dapat mereda dalam hitungan hari atau minggu, dorongan untuk kembali memakai sering bertahan lebih lama.
Tanpa dukungan emosional dan terapi psikologis, mantan pengguna dapat mengalami:
-
Depresi atau kehilangan motivasi hidup
-
Perilaku berisiko atau menyakiti diri sendiri
-
Kekerasan, tindakan impulsif, hingga percobaan bunuh diri
Pemulihan mental memerlukan pendampingan jangka panjang agar pengguna dapat kembali berfungsi normal dalam kehidupan sosial.
Penggunaan Narkotika di Bidang Medis
Sebagian narkotika tetap memiliki manfaat medis, namun penggunaannya harus dengan resep dan pengawasan dokter. Contohnya:
Baca Juga: Anak Susah Makan Sayur? Ini Penyebabnya dan Cara Efektif Mengatasinya
-
Opioid: pereda nyeri berat setelah operasi atau untuk pasien kanker
-
Kokain (dosis tertentu): bahan anestesi lokal dalam prosedur medis tertentu
-
Ganja medis: untuk mengurangi nyeri kronis, mual, atau kejang pada pasien tertentu
Penggunaan ini terbatas dan tidak boleh digunakan sembarangan.
Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini, terutama bagi remaja dan generasi muda. Langkah yang dapat dilakukan:
-
Edukasi bahaya narkoba di sekolah, keluarga, dan masyarakat
-
Bangun komunikasi terbuka antara orang tua dan anak
-
Kembangkan kepercayaan diri dan kemampuan menolak ajakan negatif
-
Libatkan anak dalam kegiatan positif (olahraga, seni, komunitas)
-
Perkuat kerja sama antar lembaga dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba
Menghentikan penggunaan narkoba bukan hal mudah dan memerlukan dukungan medis, psikologis, dan sosial.
Proses sakau dapat menimbulkan gejala fisik dan mental yang berat, sehingga perawatan yang tepat sangat penting agar pemulihan berlangsung aman dan mencegah kekambuhan.
Baca Juga: Bahaya Konsumsi Alkohol pada Remaja: Penyebab, Dampak, dan Cara Mencegahnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










