Apa Itu Hernia? Penjelasan Lengkap, Jenis, Gejala, dan Pengobatannya

AKURAT.CO Hernia adalah kondisi ketika jaringan atau organ dalam tubuh — biasanya bagian usus atau lemak perut — menonjol keluar melalui area dinding otot yang lemah. Akibatnya muncul benjolan di permukaan tubuh, yang sering terlihat di area perut atau selangkangan.
Menurut MedlinePlus, sebagian besar hernia terjadi di sekitar rongga perut dan lipatan paha. Meski tampak sederhana, hernia bisa menyebabkan rasa nyeri, ketidaknyamanan, hingga komplikasi serius bila dibiarkan tanpa penanganan.
Jenis-Jenis Hernia yang Paling Umum
Tidak semua hernia sama. Berikut beberapa tipe hernia yang paling sering ditemukan di praktik medis:
-
Inguinal (selangkangan): jenis paling umum, terutama pada pria. Bisa bersifat indirect (bawaan sejak lahir karena saluran inguinal tidak menutup sempurna) atau direct (karena kelemahan dinding otot bagian belakang).
-
Femoral: muncul di bagian atas paha dan lebih sering menyebabkan masalah serius karena berisiko “terjepit” (strangulasi).
-
Umbilikal: terjadi di sekitar pusar, sering terlihat pada bayi tapi juga bisa muncul pada orang dewasa dengan berat badan berlebih.
-
Incisional/Ventral: muncul di sekitar bekas sayatan operasi sebelumnya.
-
Hiatal: berbeda dari jenis lainnya karena bagian lambung naik ke rongga dada melalui lubang di diafragma — sering memicu gejala seperti nyeri dada dan refluks asam.
Selain itu, ada beberapa jenis langka seperti Spigelian, obturator, dan perineal, namun kasusnya jauh lebih sedikit.
Seberapa Umum Hernia Terjadi?
Secara global, diperkirakan lebih dari 20 juta operasi hernia inguinal dilakukan setiap tahun. Di Amerika Serikat saja, angkanya mencapai sekitar 800 ribu operasi per tahun.
Risiko seumur hidup pria untuk mengalami hernia inguinal bahkan mencapai sekitar 27%, sedangkan pada wanita hanya sekitar 3%. Jenis inguinal sendiri mencakup hampir tiga perempat dari seluruh kasus hernia dinding perut yang dilaporkan.
Mengapa Hernia Bisa Terbentuk?
Secara sederhana, hernia muncul karena kombinasi dua faktor: adanya kelemahan pada dinding otot perut dan peningkatan tekanan di dalam rongga perut.
Beberapa kondisi yang sering memicu tekanan itu antara lain:
-
batuk kronis (terutama pada perokok berat atau penderita penyakit paru),
-
konstipasi atau mengejan terlalu keras,
-
obesitas dan kehamilan,
-
kebiasaan mengangkat beban berat,
-
serta faktor bawaan sejak lahir pada sebagian orang.
Selain itu, usia lanjut dan kelainan jaringan ikat juga bisa meningkatkan risiko karena otot dan jaringan penunjang cenderung melemah seiring bertambahnya umur.
Gejala Hernia yang Perlu Diwaspadai
Ciri paling umum hernia adalah benjolan yang bisa terlihat atau dirasakan di area tertentu — misalnya selangkangan, pusar, atau bekas luka operasi. Benjolan ini biasanya akan:
-
tampak lebih jelas saat berdiri, batuk, atau mengangkat beban,
-
hilang saat berbaring atau ditekan perlahan (pada hernia yang masih bisa direduksi),
-
disertai rasa nyeri tumpul, sensasi berat, atau ketidaknyamanan di area tersebut.
Sebagian kasus bahkan tidak menimbulkan gejala sama sekali dan baru diketahui setelah pemeriksaan medis.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Hernia?
Biasanya diagnosis hernia dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter. Namun, jika benjolan tidak jelas atau dicurigai hernia di lokasi yang dalam, dokter bisa menyarankan pemeriksaan tambahan seperti:
-
Ultrasonografi (USG): pilihan awal karena mudah, aman, dan cukup akurat.
-
CT scan atau MRI: digunakan untuk mendeteksi hernia kompleks atau bila dicurigai adanya komplikasi seperti usus terjepit.
Panduan radiologi dari American College of Radiology (ACR) juga menegaskan bahwa pemilihan metode pencitraan harus disesuaikan dengan lokasi dan gejala pasien.
Komplikasi yang Bisa Terjadi
Meskipun banyak hernia tidak berbahaya, ada dua komplikasi serius yang perlu diwaspadai:
-
Inkarserasi: isi hernia tidak bisa dikembalikan ke posisi semula, menyebabkan rasa nyeri hebat dan risiko penyumbatan usus.
-
Strangulasi: aliran darah ke jaringan yang terjebak terputus, menyebabkan jaringan mati (nekrosis) dan kondisi darurat bedah.
Sebuah studi di JAMA Network menemukan bahwa pada pasien yang memilih metode “watchful waiting” (pengawasan tanpa operasi langsung), risiko kejadian akut seperti strangulasi hanya sekitar 1,8 kasus per 1.000 pasien per tahun, namun tetap berpotensi fatal bila terjadi.
Pilihan Pengobatan Hernia: Antara Menunggu atau Operasi
1. Watchful Waiting (Menunggu dengan Pengawasan)
Bagi pasien yang tidak memiliki gejala berat, terutama pria dengan hernia kecil, strategi watchful waiting terbukti aman dalam jangka pendek. Studi besar di JAMA 2006 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dalam kelompok ini tidak mengalami komplikasi serius selama beberapa tahun pemantauan. Namun, banyak yang akhirnya memilih operasi karena keluhan makin terasa.
2. Operasi Hernia (Hernia Repair)
Operasi tetap menjadi solusi utama untuk mengoreksi hernia secara permanen.
Dua pendekatan utama yang lazim digunakan adalah:
-
Operasi terbuka (open repair): misalnya teknik Lichtenstein yang menggunakan mesh untuk memperkuat dinding otot.
-
Operasi laparoskopik (TAPP/TEP): teknik minimal invasif dengan luka lebih kecil, pemulihan cepat, dan risiko nyeri kronis lebih rendah.
Menurut Cochrane Review, penggunaan mesh sintetis menurunkan risiko kekambuhan dibandingkan teknik tanpa mesh. Namun, mesh juga membawa risiko lain seperti nyeri kronis, infeksi, hingga migrasi mesh pada sebagian kecil pasien. Karena itu, pemilihan metode harus disesuaikan dengan kondisi dan preferensi pasien.
Kontroversi Penggunaan Mesh
Topik mesh dalam operasi hernia menjadi perdebatan panjang.
Di satu sisi, mesh dinilai revolusioner karena menekan angka kekambuhan dan mempercepat pemulihan. Namun, di sisi lain, muncul laporan kasus komplikasi jangka panjang seperti nyeri menetap, infeksi kronis, atau reaksi tubuh terhadap material sintetis.
Beberapa produsen mesh bahkan menghadapi gugatan besar di Amerika Serikat terkait efek samping produk mereka. Meski begitu, komunitas medis tetap merekomendasikan penggunaan mesh pada sebagian besar kasus — dengan syarat dilakukan oleh ahli bedah berpengalaman dan indikasi yang tepat.
Tren Terbaru dalam Penanganan Hernia
Dunia medis kini banyak mengembangkan mesh ringan dan biosintetik yang sebagian dapat diserap tubuh. Tujuannya untuk menjaga kekuatan jaringan tanpa menimbulkan reaksi kronis.
Pendekatan bedah minimal invasif seperti laparoskopi dan robotik juga semakin populer, terutama di rumah sakit besar, karena hasil pemulihan lebih cepat dan rasa nyeri pascaoperasi lebih rendah.
Namun, di banyak negara berkembang, akses ke operasi hernia elektif masih terbatas, sehingga sebagian besar pasien baru datang dalam kondisi darurat — dengan risiko komplikasi lebih tinggi.
Cara Mencegah Hernia dan Mengurangi Risikonya
Walaupun tidak selalu bisa dicegah, ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu menurunkan risikonya:
-
Menjaga berat badan ideal dan pola makan tinggi serat untuk mencegah konstipasi.
-
Menghentikan kebiasaan merokok agar tidak memicu batuk kronis dan mempercepat penyembuhan jaringan.
-
Mengangkat beban dengan teknik yang benar — gunakan kekuatan kaki, bukan punggung.
-
Mengatasi batuk kronis, alergi, atau gangguan prostat yang membuat sering mengejan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis atau ke UGD jika:
-
benjolan terasa sangat nyeri, keras, dan tidak bisa dikembalikan,
-
kulit di area benjolan memerah atau menggelap,
-
disertai demam, mual, muntah, atau perut kembung parah.
Tanda-tanda ini bisa berarti hernia sudah terjepit atau tercekik (strangulasi), kondisi yang membutuhkan operasi darurat.
Kesimpulan
Hernia adalah keluarnya organ atau jaringan tubuh melalui area otot yang melemah, paling sering di selangkangan. Meski banyak kasus ringan bisa dipantau, hernia tidak boleh diabaikan karena berpotensi menyebabkan komplikasi serius.
Perkembangan teknologi bedah dan material mesh telah menurunkan risiko kekambuhan secara signifikan, namun tetap perlu kehati-hatian dalam pemilihan metode.
Baca Juga: Angkat Beban Sembarangan Bisa Sebabkan Hernia, Yuk Ketahui Gejalanya
FAQ
Apa itu hernia?
Hernia adalah kondisi ketika jaringan atau organ dalam tubuh — seperti usus atau lemak perut — menonjol keluar melalui area otot yang lemah. Biasanya muncul sebagai benjolan di perut atau selangkangan.
Apa penyebab utama hernia?
Hernia terbentuk karena kelemahan pada dinding otot yang dikombinasikan dengan peningkatan tekanan di dalam perut. Faktor pemicunya bisa berupa batuk kronis, konstipasi, obesitas, kehamilan, atau sering mengangkat beban berat.
Apakah hernia berbahaya?
Tidak selalu. Banyak hernia bersifat ringan dan bisa dipantau tanpa operasi. Namun, jika isi hernia terjepit (strangulasi), bisa menyebabkan aliran darah terputus dan berujung darurat medis yang berbahaya.
Apa saja gejala hernia yang umum?
Gejalanya berupa benjolan di perut atau selangkangan yang tampak saat berdiri atau batuk, disertai rasa nyeri, berat, atau tidak nyaman. Pada beberapa kasus, benjolan bisa hilang saat berbaring.
Bagaimana cara dokter mendiagnosis hernia?
Biasanya cukup dengan pemeriksaan fisik. Bila perlu, dokter dapat menggunakan ultrasonografi (USG), CT scan, atau MRI untuk memastikan lokasi dan tingkat keparahan hernia.
Apakah semua hernia harus dioperasi?
Tidak. Hernia yang tidak menimbulkan gejala berat bisa dikelola dengan metode watchful waiting atau pemantauan rutin. Namun, operasi menjadi pilihan utama bila menimbulkan nyeri, gangguan aktivitas, atau risiko komplikasi.
Apa bedanya operasi terbuka dan laparoskopi untuk hernia?
Operasi terbuka dilakukan dengan sayatan besar di area hernia, sementara laparoskopi menggunakan sayatan kecil dan kamera. Teknik laparoskopi cenderung mempercepat pemulihan dan menurunkan risiko nyeri kronis.
Apakah penggunaan mesh pada operasi hernia aman?
Menurut berbagai studi, penggunaan mesh menurunkan risiko kekambuhan dibanding teknik tanpa mesh. Meski begitu, sebagian kecil pasien dapat mengalami nyeri kronis atau infeksi, sehingga keputusan penggunaannya harus dipertimbangkan bersama dokter bedah.
Bisakah hernia dicegah?
Beberapa langkah yang dapat membantu mencegah hernia antara lain menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, menghindari mengangkat beban berat secara berlebihan, serta mengonsumsi makanan tinggi serat untuk mencegah sembelit.
Kapan harus ke dokter?
Segera periksa ke dokter atau ke UGD jika benjolan terasa nyeri hebat, tidak bisa dikembalikan, atau disertai mual dan muntah. Kondisi ini bisa menandakan hernia terjepit yang perlu penanganan darurat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 5Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 6Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia






