Apa Itu Mandela Effect? Fenomena Aneh yang Bikin Ingatan Kita Salah Kaprah

AKURAT.CO Efek Mandela adalah fenomena psikologis ketika seseorang secara keliru meyakini bahwa suatu peristiwa atau fakta tertentu pernah terjadi, padahal sebenarnya tidak pernah terjadi.
Istilah ini bermula dari keyakinan banyak orang yang salah ingat bahwa Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, meninggal dunia pada tahun 1980-an. Faktanya, Mandela baru dibebaskan dari penjara pada 1990, menjabat sebagai presiden pada 1994, dan wafat pada 2013.
Fenomena salah ingat yang dialami oleh sekelompok orang secara bersamaan inilah yang kemudian dikenal sebagai Mandela Effect. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Fiona Broome pada tahun 2009.
Baca Juga: Mengenal Efek Mandela, Fenomena Distorsi Ingatan
Penjelasan Ilmiah Tentang Efek Mandela
Ada beberapa penjelasan ilmiah yang dianggap dapat menjelaskan munculnya Efek Mandela. Salah satunya adalah konsep pemusnahan memori atau confabulation.
Pemusnahan memori merupakan kondisi ketika otak mencampur atau bahkan membentuk ingatan baru yang keliru untuk menutupi kekosongan dalam memori. Hal ini bisa muncul saat seseorang menerima informasi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan ingatan aslinya.
Dalam kasus Efek Mandela, misalnya, sebagian orang mungkin pernah memperoleh informasi yang salah mengenai kematian Nelson Mandela pada tahun 1980-an. Otak mereka kemudian menciptakan ingatan palsu berdasarkan informasi tersebut, sehingga mereka meyakini peristiwa itu benar-benar pernah terjadi.
Baca Juga: Haji Lulung: Jangan Samakan Ahok dengan Nelson Mandela
Dampak Efek Mandela
1. Orang dapat dengan mudah meyakini dan menyebarkan informasi yang salah karena ingatannya
Efek Mandela menunjukkan betapa mudahnya seseorang percaya pada ingatan yang keliru. Saat banyak orang memiliki ingatan yang sama, mereka bisa menganggapnya benar dan kemudian menyebarkannya ke orang lain.
2. Semakin maraknya penyebaran berita palsu di era media sosial
Dengan adanya media sosial, informasi yang salah dapat menyebar jauh lebih cepat. Ingatan yang salah bisa berubah menjadi “fakta populer” karena sering dibagikan, hingga jadi sulit untuk membedakan mana yang benar dan salah.
3. Kerentanan ingatan manusia terhadap pengaruh eksternal
Ingatan manusia tidak selalu akurat. Paparan informasi baru, terutama yang berulang, dapat memengaruhi ingatan kita sehingga apa yang kita percaya sebagai pengalaman pribadi sebenarnya bisa dipengaruhi oleh faktor eksternal.
4. Semakin luasnya penyebaran informasi
Dunia digital memungkinkan informasi, baik benar maupun salah, menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Hal ini membuat fenomena seperti Efek Mandela lebih mudah muncul karena banyak orang bisa terpapar kesalahan informasi yang sama.
5. Masyarakat harus menjadi lebih kritis akan informasi yang diterima
Efek Mandela menjadi pengingat penting bahwa tidak semua yang kita ingat atau baca itu benar. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis, melakukan cek fakta, dan membandingkan sumber agar tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan.
Nadia Nur Anggraini - Magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









