Mengenal Efek Mandela, Fenomena Distorsi Ingatan

AKURAT.CO Pernahkah kamu mendengar istilah efek Mandela? Atau bisa jadi kamu juga pernah mengalaminya secara tidak sadar? Efek Mandela ini bisa dialami oleh siapa saja. Bahkan tidak sedikit orang yang mengalami efek Mandela ini. Lalu, apa sih sebenarnya efek Mandela ini?
Efek Mandela merupakan fenomena di mana seseorang atau sekelompok orang memiliki ingatan yang salah tentang suatu peristiwa, tapi dipercaya sebagai kebenaran. Situasi seperti ini mengacu pada kepercayaan yang dianggap benar. Padahal, sebenarnya hal tersebut keliru atau bahkan tidak pernah terjadi.
Fenomena ini berbeda dengan hoaks. Hoaks secara sengaja menyebarkan informasi palsu untuk membuat orang percaya. Sementara efek Mandela terjadi begitu saja semata-mata karena orang tidak mengingat atau salah ingat atas kejadian tersebut.
Kamu tentunya tidak asing dengan brand cokelat yang satu ini, yaitu Kit-Kat? Kalau kamu merasa penulis Kit-Kat ini sudah benar, berarti kamu mengalami efek Mandela. Sebab, penulisan brand camilan cokelat yang benar adalah KitKat. Tanpa menggunakan tanda setrip.
Kemudian, pernahkah kamu menonton kartun Curious George? Kartun Monyet yang terkenal karena memiliki rasa penasaran yang tinggi dan tinggal dengan seorang pria bertopi kuning. Mungkin tidak sedikit orang yang mengingat George memiliki ekor. Padahal, monyet ini tidak memiliki ekor, lho. Hal ini juga merupakan contoh efek Mandela.
Efek Mandela pertama kali dicetuskan oleh Fiona Broome. Perempuan ini percaya bahwa Nelson Mandela telah meninggal pada era 1980 di saat dipenjara. Menurut pengakuannya, kematian Mandela juga ramai diberitakan saat itu. Bahkan istri Mandela pun telah memberikan pidato terkait kabar duka tersebut.
Padahal, Nelson Mandela tidak meninggal pada 1980-an di penjara. Kenyataannya, Mandela meninggal pada 5 Desember 2013. Ketika Broome mulai berbicara dengan orang lain tentang ingatannya tersebut, ternyata ia tidak sendirian. Ada orang lain juga memiliki ingatan yang sama dengan dirinya. Broome terkejut karena tidak sedikit orang yang mengingat peristiwa identik yang sama secara mendetail. Padahal kejadian tidak pernah terjadi. Dari sinilah istilah efek Mandela muncul.
Efek Mandela ini bisa terjadi karena beberapa penyebab, yaitu:
1. Ingatan keliru seseorang
Salah mengingat atau ingatan yang keliru merupakan hal yang cukup umum terjadi pada seseorang. Hal ini karena ingatan seseorang tidak bekerja sebagai kamera yang objektif dalam menangkap sebuah peristiwa. Seseorang bisa saja mengingat sebuah kejadian atau peristiwa, tetapi bukan dalam penggambaran yang sangat akurat.
2. Ingatan keliru yang kolektif
Saat kamu mengalami ingatan yang keliru, kemudian banyak orang juga yang meyakini hal yang sama denganmu, maka kamu akan semakin meyakini bahwa hal tersebut benar. Padahal, apa yang diyakini tersebut merupakan hal yang keliru.
3. Priming
Priming adalah cara untuk memengaruhi respons seseorang terhadap suatu objek atau peristiwa. Hal ini seperti menyambungkan beberapa istilah yang berhubungan dengan satu atau dua benda. Di mana suatu istilah yang lebih sugestif akan lebih memengaruhi ingat seseorang. Dengan begitu, priming sangat bisa memengaruhi ingatan seseorang.
4. Konfabulasi
Konfabulasi ialah mengisi kekosongan ingatan dengan cerita yang tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya bohong. Konfabulasi juga banyak disebut sebagai kebohongan yang jujur. Cara konfabulasi ini sering digunakan untuk menyembuhkan penderita gangguan otak. Dipercaya dapat membantu seseorang mengingat sebuah urutan peristiwa yang paling mungkin terjadi.
Meskipun begitu, konfabulasi dapat menyebabkan efek Mandela karena bisa membuat seseorang menambah, mengurangi, hingga memelintir ingatan mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





