Akurat

Bahaya Infeksi Cacing pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Pencegahan

Titania Isnaenin | 20 Agustus 2025, 21:38 WIB
Bahaya Infeksi Cacing pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Pencegahan

 

AKURAT.CO Infeksi cacing pada anak merupakan masalah kesehatan umum yang sering kali terabaikan, padahal dampaknya bisa serius terhadap tumbuh kembang dan kesehatan si kecil​.

Cacing adalah parasit yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, mulai dari saluran pencernaan, kulit, paru-paru, hingga hati.

Anak-anak memiliki risiko lebih tinggi terkena cacingan, terutama karena kebiasaan bermain di lingkungan yang rentan terkontaminasi telur cacing dan kesadaran kebersihan yang belum optimal. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami gejala, penyebab, dan cara pencegahan infeksi cacing pada anak.

Gejala Infeksi Cacing pada Anak

Gejala cacingan pada anak bisa bervariasi tergantung jenis cacing yang menginfeksi tubuh.

Namun, ada beberapa tanda umum yang perlu diwaspadai:

1. Gangguan Pencernaan

  • Sakit perut, mual, dan muntah: Anak-anak yang terinfeksi cacing umumnya mengalami gangguan pencernaan seperti sakit perut, mual, dan muntah. Rasa nyeri perut dapat menjadi semakin parah setelah makan.
  • Diare atau konstipasi: Diare yang berulang atau konstipasi yang tidak kunjung membaik bisa menjadi indikasi cacingan pada anak.
  • Perut kembung atau membuncit: Gejala perut kembung atau kram sering dialami anak yang terinfeksi cacing.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan: Anak-anak yang cacingan kerap mengalami penurunan nafsu makan, yang berujung pada penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab yang jelas.

2. Gangguan Kulit dan Gatal-Gatal

  • Gatal di sekitar anus: Beberapa jenis cacing, seperti cacing kremi, bisa menyebabkan gatal-gatal di sekitar anus, terutama pada malam hari. Gatal ini dapat membuat anak gelisah atau tidak nyaman saat tidur karena sering menggaruk.
  • Kemerahan atau iritasi kulit: Menggaruk berlebihan akibat gatal dapat menyebabkan kemerahan atau iritasi kulit di sekitar anus.
  • Ruam gatal: Infeksi cacing tambang juga bisa menimbulkan ruam gatal pada kulit.

3. Tanda-tanda Lainnya

  • Lemas dan mudah lelah: Infeksi cacing yang parah dapat menyebabkan anak menjadi lemas, lesu, dan mudah lelah karena cacing menyerap nutrisi tubuh.
  • Anemia dan kulit pucat: Cacing parasit dapat menghisap darah, menyebabkan penurunan kadar hemoglobin dan berujung pada anemia atau kurang darah, sehingga kulit anak tampak pucat.
  • Gangguan pertumbuhan dan gizi buruk: Infeksi cacing yang parah dapat mengganggu penyerapan nutrisi, menyebabkan masalah pertumbuhan, stunting, dan gizi buruk.
  • Penurunan kecerdasan: Kurangnya nutrisi yang diserap karena infeksi cacing dapat mengganggu fungsi kognitif anak, memengaruhi kemampuan belajar dan perkembangan intelektual, bahkan menyebabkan penurunan kecerdasan.
  • Cacing keluar saat buang air besar (BAB): Pada beberapa kasus, cacing bisa terlihat keluar dari tubuh saat anak buang air besar atau bahkan pada anus anak.
  • Batuk: Infeksi cacing gelang dapat berpindah ke paru-paru sehingga menyebabkan anak batuk-batuk.
  • Sulit tidur: Ruam dan gatal yang tidak tertahankan akibat infeksi cacing dapat membuat anak rewel dan sulit tidur.
  • Mudah marah dan tersinggung: Anak yang cacingan juga bisa menjadi lebih mudah marah dan tersinggung.

Penyebab Infeksi Cacing pada Anak

Cacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing parasit yang hidup di dalam usus manusia, bertahan hidup dengan menyerap sari-sari makanan yang masuk ke usus.

Penyakit ini umumnya terjadi pada anak-anak usia 5-14 tahun.

Penyebab utama cacingan adalah masalah kebersihan lingkungan dan pribadi, sehingga parasit dapat menginfeksi tubuh. Beberapa penyebab spesifik meliputi:

1. Kebiasaan Hidup Tidak Bersih

  • Tidak mencuci tangan sebelum makan: Telur cacing dapat menempel di tangan dan kuku anak, lalu masuk ke mulut bersama makanan jika anak jarang mencuci tangan sebelum makan.
  • Bermain di tanah tanpa alas kaki: Tanah adalah tempat nyaman bagi cacing untuk hidup, dan larva cacing tambang dapat menembus kulit melalui telapak kaki yang tidak menggunakan alas. 
  • Menggigit kuku atau mengemut jari: Kuku yang panjang dan kotor adalah sarang kuman dan telur cacing, sehingga kebiasaan menggigit kuku meningkatkan risiko cacingan.
  • Sanitasi lingkungan yang buruk: Infeksi cacing tambang masih sering terjadi di daerah beriklim tropis dan lembap dengan sanitasi lingkungan yang buruk, seperti Indonesia.

2. Konsumsi Makanan dan Minuman yang Terkontaminasi

  • Jajan sembarangan atau makanan tidak higienis: Makanan atau minuman yang tidak terjaga kebersihannya, terutama yang berada di area terbuka dan terpapar debu atau lalat, berisiko terkontaminasi telur cacing.
  • Makan daging mentah atau kurang matang: Cacing pita dapat masuk ke tubuh melalui konsumsi daging babi, sapi, atau ikan yang mentah atau dimasak kurang matang karena mungkin mengandung larva cacing.
  • Bermain di perairan kotor: Beberapa jenis cacing hidup di perairan kotor, dan larvanya dapat masuk melalui permukaan kulit jika anak berenang atau berendam di sana.

Jenis Cacing yang Sering Menginfeksi

Cacing Kremi (Enterobius vermicularis): Cacing berwarna putih dan halus ini paling banyak menginfeksi anak usia sekolah, umumnya masuk melalui makanan/minuman yang terkontaminasi atau tangan kotor.

Cacing Gelang (Ascariasis lumbricoides): Cacing berukuran cukup besar (10–35 cm) ini masuk ke tubuh melalui tanah yang terkontaminasi telur cacing dan dapat menyebar ke organ lain seperti paru-paru.

Cacing Pita (Taenia sp.): Cacing pipih beruas-ruas ini masuk melalui tangan yang bersentuhan dengan tinja/tanah mengandung telur cacing, atau melalui konsumsi daging mentah/kurang matang.

Cacing Tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale): Cacing ini dapat menembus kulit (misalnya telapak kaki) atau masuk melalui makanan/minuman yang tercemar. Cacing ini menghisap darah dan dapat menyebabkan anemia.

Cara Pencegahan Infeksi Cacing pada Anak

Pencegahan cacingan pada anak harus dilakukan secara konsisten melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

1. Rajin mencuci tangan: Biasakan anak mencuci tangan dengan air dan sabun selama setidaknya 15 detik, terutama sebelum makan, setelah BAB atau bermain, dan setelah membuang sampah.

2. Membersihkan dan memotong kuku secara rutin: Kuku panjang dan kotor dapat menjadi sarang kuman dan cacing; memotong kuku secara rutin dapat mencegah telur cacing berkembang biak.

3. Ajarkan anak untuk tidak menggigit kuku atau mengemut jari: Ini penting untuk menghindari masuknya telur cacing ke dalam tubuh.

4. Gunakan alas kaki saat bermain di luar: Biasakan anak menggunakan alas kaki yang bersih dan nyaman saat bermain di luar rumah untuk mencegah cacing masuk melalui pori-pori kaki.

5. Cegah anak menggaruk anus: Menggaruk daerah anus yang gatal dapat memindahkan telur cacing ke jari, yang kemudian dapat menyebar.

 

Pemberian Obat Cacing Secara Berkala

World Health Organization (WHO) menyarankan anak-anak usia 1-12 tahun untuk mengonsumsi obat cacing (seperti albendazole atau mebendazole) satu kali dalam setahun dengan dosis tunggal.

Anak di bawah 2 tahun dianjurkan mengonsumsi setengah dosis. Pemberian obat cacing secara rutin ini sangat membantu mencegah risiko infeksi cacingan, tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Infeksi cacingan pada anak bukanlah masalah sepele dan dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Jika anak menunjukkan gejala cacingan, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.