Fenomena Aphelion Bikin Suhu Udara Jadi Dingin, Benarkah?

AKURAT.CO Fenomena Aphelion kerap menjadi perbincangan hangat setiap tahunnya, terutama di awal bulan Juli, bahkan seringkali memicu berbagai kabar simpang siur yang beredar melalui grup WhatsApp atau media sosial.
Salah satu kekeliruan yang kerap muncul adalah anggapan bahwa fenomena ini menyebabkan suhu udara di Bumi menjadi sangat dingin karena jarak antara Bumi dan Matahari berada pada titik terjauh.
Secara ilmiah, Aphelion memang merupakan momen ketika posisi Bumi berada paling jauh dari Matahari dalam orbitnya. Namun, jarak ini tidak serta merta menyebabkan perubahan suhu ekstrem di permukaan Bumi.
Fenomena ini terjadi karena orbit Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan berbentuk elips. Ketika berada di titik terjauh, posisi ini disebut Aphelion, sedangkan titik terdekatnya dinamakan Perihelion.
Baca Juga: Cuaca Jakarta Hari Ini: Tak Menentu, Warga Diimbau Siaga Payung dan Perhatikan Drainase
Pada tahun 2025, Aphelion jatuh pada tanggal 4 Juli. Hal ini meluruskan kesalahpahaman yang menyebutkan bahwa Aphelion terjadi pada 7 Juli, sebagaimana ramai diperbincangkan di berbagai platform daring.
Aphelion memang memiliki dampak terhadap Bumi, tetapi pengaruhnya tergolong kecil dan tidak dirasakan secara langsung oleh manusia. Salah satu dampaknya adalah melambatnya kecepatan orbit Bumi sesuai dengan hukum kedua Kepler.
Menurut hukum tersebut, planet yang berada lebih jauh dari bintang yang menjadi pusat orbitnya akan bergerak lebih lambat dibandingkan saat berada di posisi lebih dekat.
Selain itu, radiasi matahari yang diterima Bumi saat Aphelion berkurang sekitar 7 persen dibandingkan saat Perihelion. Namun, pengurangan radiasi ini tidak terlalu memengaruhi suhu permukaan Bumi secara signifikan karena sistem iklim global lebih dipengaruhi oleh faktor atmosfer, angin, arus laut, dan kondisi lokal di masing-masing wilayah.
Dampak lainnya yang tercatat adalah perubahan kecil pada pasang surut air laut. Gravitasi Matahari yang sedikit berkurang saat Aphelion menyebabkan variasi yang sangat kecil dalam pasang surut air laut, meskipun perbedaannya hampir tidak terasa bagi kehidupan sehari-hari.
Fenomena lain yang terjadi adalah perubahan minor dalam lonosfer, lapisan atmosfer bagian atas Bumi yang dipenuhi oleh ion dan elektron. Saat Aphelion, kepadatan elektron di lonosfer mengalami sedikit penurunan, tetapi efek ini sangat lemah dan tidak memberikan dampak berarti bagi aktivitas manusia di permukaan bumi.
Baca Juga: Cara Cepat dan Mudah Membuat SKCK, Lengkap dengan Syarat dan Biayanya
Secara keseluruhan, Aphelion adalah fenomena astronomi tahunan yang merupakan bagian dari dinamika alam semesta. Fenomena ini tidak berkaitan langsung dengan cuaca dingin ekstrem yang dirasakan di beberapa wilayah Indonesia, karena kondisi cuaca lebih dipengaruhi oleh musim kemarau dan fenomena angin muson timur yang lazim terjadi pada pertengahan tahun.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyaring informasi yang beredar dan merujuk pada sumber ilmiah yang kredibel sebelum menyebarkan berita mengenai fenomena alam seperti Aphelion.
Pemahaman yang tepat tentang sains tidak hanya membantu mengurangi kepanikan yang tidak perlu, tetapi juga menumbuhkan sikap kritis dan rasional dalam menghadapi fenomena-fenomena alam yang terjadi secara alami dan teratur dalam sistem tata surya kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









