Akurat

Waspada! Kasus HIV dan IMS Naik di Kalangan Remaja

Ahada Ramadhana | 23 Juni 2025, 12:50 WIB
Waspada! Kasus HIV dan IMS Naik di Kalangan Remaja

AKURAT.CO Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian HIV dan infeksi menular seksual (IMS).

Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia untuk jumlah orang dengan HIV (ODHIV), dan peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV.

Diperkirakan, jumlah ODHIV pada 2025 mencapai 564.000 jiwa, namun baru 63 persen yang mengetahui statusnya.

Dari jumlah tersebut, 67 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), namun hanya 55 persen yang berhasil mencapai supresi viral load, yaitu kondisi di mana jumlah virus dalam darah sangat rendah hingga tak terdeteksi.

“Artinya, risiko penularan sangat rendah,” kata Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Ina Agustina, Senin (23/6/2025).

Ia menegaskan, Indonesia menargetkan eliminasi HIV dan IMS pada 2030. Edukasi, deteksi dini, dan pengobatan menjadi kunci untuk mencapai target tersebut, mengingat tingginya beban kasus di sejumlah wilayah.

Menurut Ina, sekitar 76 persen kasus HIV nasional terkonsentrasi di 11 provinsi prioritas, antara lain: DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau.

“Sebagian besar kasus terjadi di populasi kunci seperti laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, pekerja seks perempuan, dan pengguna napza suntik. Tapi di Papua, penularan sudah menyebar ke populasi umum dengan prevalensi mencapai 2,3 persen,” jelasnya.

Baca Juga: RKUHAP Harus Jadi Instrumen Perlindungan Hak Masyarakat

Meski laju infeksi HIV stagnan dalam tiga tahun terakhir, Kemenkes mencatat tren peningkatan pada IMS, termasuk pada kelompok usia muda. Tahun lalu, tercatat 23.347 kasus sifilis, mayoritas adalah sifilis dini.

Sebanyak 77 di antaranya merupakan sifilis kongenital, yakni yang ditularkan dari ibu ke bayi. Sementara itu, kasus gonore juga tinggi, mencapai 10.506 kasus dengan konsentrasi tertinggi di DKI Jakarta.

“IMS bukan hanya persoalan individu, tapi juga kesehatan masyarakat. IMS meningkatkan risiko penularan HIV dan paling banyak ditemukan di kelompok usia produktif 25–49 tahun, bahkan kini mulai meningkat pada remaja usia 15–19 tahun,” tutur dr. Ina.

Dari sisi medis, IMS kerap tidak bergejala, terutama pada perempuan, sehingga banyak kasus terlambat ditangani.

Hal ini disampaikan oleh dr. Hanny Nilasari dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM.

“IMS yang tidak tertangani dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti radang panggul, kehamilan ektopik, hingga infertilitas. Bahkan, bayi yang dilahirkan dari ibu dengan IMS berisiko tinggi mengalami kematian neonatal, lahir prematur, atau berat lahir rendah,” ujarnya.

Gejala IMS dapat berupa luka atau lenting di area kelamin, cairan abnormal dari vagina atau penis, rasa nyeri saat buang air kecil, hingga ruam di kulit. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual (oral, vaginal, anal), transfusi cairan tubuh, hingga dari ibu ke anak saat hamil atau menyusui.

Kemenkes menargetkan pencapaian indikator global 95-95-95 pada 2030, yaitu:

  • 95 persen ODHIV mengetahui statusnya,

  • 95 persen dari mereka menjalani pengobatan ARV,

  • 95 persen dari yang diobati mencapai supresi virus.

Selain itu, pemerintah juga menargetkan eliminasi sifilis dan gonore hingga 90 persen, serta mendorong triple elimination untuk mencegah penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak.

Baca Juga: Hari Kedua Retret Kepala Daerah Gelombang II: Fokus Penguatan Wawasan Kebangsaan

“Kami sudah perluas layanan ke seluruh Indonesia: tes HIV tersedia di 514 kabupaten/kota, layanan IMS di 504 kabupaten/kota, dan tes viral load di 192 kabupaten/kota,” papar Ina.

Kemenkes juga menggencarkan kampanye edukatif dengan pendekatan "ABCDE":

  • Abstinence: tidak berhubungan seksual sebelum menikah,

  • Be faithful: setia pada satu pasangan,

  • Condom: penggunaan kondom untuk kelompok berisiko,

  • Drugs: tidak menggunakan narkoba,

  • Education: edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.

“Edukasi kesehatan reproduksi harus menyasar seluruh kalangan, termasuk remaja. Semakin dini kita memberikan informasi yang tepat, semakin besar peluang menekan angka IMS dan HIV,” tutup dr. Hanny.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.