Period Poverty di Indonesia : Saat Menstruasi Masih Jadi Privilege

Padahal, produk menstruasi seharusnya bukanlah barang mewah, melainkan kebutuhan dasar yang vital bagi kesehatan dan kenyamanan perempuan.
Baca Juga: Bolehkah Minum Kopi Saat Menstruasi? Simak Risikonya Untuk Kesehatan WanitaNamun, di Indonesia, masalah ini masih sangat nyata dan membuat kondisi menstruasi sebagai “privilege” yang tidak bisa dinikmati semua perempuan.
Hanya perempuan dari keluarga mampu atau yang tinggal di perkotaan yang dapat memperoleh produk menstruasi yang aman dan nyaman.
Sementara itu, beberapa perempuan yang masih hidup dalam garis kemiskinan harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.
Hal tersebut terlihat dari sejumlah cutian di platform X, di mana beberapa perempuan membagikan pengalaman mereka yang kesulitan mendapatkan produk menstruasi.
“Kalau orang-orang suka pada diem lama di kulkas Indomaret karena bingung pilih minuman. Aku bisa 30 menit diem di depan rak pembalut buat nyari-nyari mana produk yang agak nyaman tapi harganya enggal yang mahal banget. Tapi akhirnya tetap aja sih gaada yang murah.” tulis @lpjdidr_
“Ini iya, masih banyak perempuan yang nyuci bersih pembalutnya buat dijemur dan dipake lagi karena gabisa beli.”
Lebih lanjut, akun @pwettymistaken menambahkan “mereka melihat pembalut sebagai benda mahal. Jadinya dicuci terus dipake lagi, entah gmn caranya aku gatau. Pun sekarang ada orang jual pembalut reject di ecommerce, itu juga period poverty.”
Dari sini dapat disimpulkan bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab utama banyak perempuan di Indonesia tidak mampu memperoleh produk menstruasi yang layak.
Ditambah lagi, produk sanitasi menstruasi di Indonesia masih dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11%.
Pemerintah belum memasukkan produk ini sebagai kebutuhan pokok yang dibebaskan dari bajak.
Tentunya, kebijakan ini semakin membuat harga pembalut tetap tinggi dan tidak terjangkau bagi banyak perempuan.
Baca Juga: Daftar Produk Softex Yang Diduga Pro Israel, Mulai Dari Pembalut Wanita, Popok Bayi Hingga MaskerDampak Period Poverty:
1. Pendidikan tergangguUNICEF menemukan sekitar 17% siswi di beberapa wilayah Indonesia absen sekolah karena menstruasi, sebab kurangnya akses terhadap produk menstruasi. Ketakutan terhadap “bocor” dan stigma juga memperparah ketidakhadiran ini.
2. Kesehatan terancam
Ketidakmampuan sebagian perempuan untuk membeli produk menstruasi membuatnya menggunakan bahan seadanya yang tidak higienis seperti kain bekas dan tisu yang meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi.
3. Stigma dan diskriminasi
Menstruasi dianggap kotor sehingga perempuan seringkali dilarang melakukan aktivitas tertentu atau merasa malu membicarakannya. Stigma ini pun makin membatasi perempuan terhadap dukungan yang mereka butuhkan.
Sebagai kebutuhan dasar, produk menstruasi seharusnya tersedia dengan harga terjangkau. Bahkan, idealnya, bisa diberikan secara gratis bagi yang membutuhkan.
Hingga kini, pemerintah Indonesia belum memiliki program pembalut gratis yang terstruktur dan berkelanjutan.
Untuk mengatasi period poverty, maka diperlukan perubahan kebijakan, penghapusan stigma, dan komitmen nyata dari semua pihak untuk memastikan bahwa menstruasi bukan lagi hak istimewa, melainkan hak dasar setiap perempuan Indonesia yang harus dijamin dengan baik.
Aqila Shafiqa Aryaputri (Magang) - Lifestyle
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 5Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








