Ahli Kesehatan: Kemasan Pangan Mengandung BPA Masih Aman Digunakan

AKURAT.CO Ahli kesehatan, Dr. Ngabila Salama, memastikan, kemasan pangan yang mengandung Bisphenol A (BPA) masih aman dipakai selama tidak terjadi migrasi BPA ke tubuh manusia dalam jumlah yang melebihi ambang batas.
Penegasan ini disampaikannya untuk menanggapi isu tentang bahaya BPA yang kembali mencuat di tengah masyarakat.
“BPA aman, selama tidak bermigrasi ke tubuh manusia dalam jumlah tinggi yang melebihi ambang batas normal. Sebanyak 90 persen BPA dibuang melalui urine dan feses,” kata Ngabila melalui akun Instagram @ngabilasalama, dikutip pada Jumat (1/11/2024).
Menurut Ngabila, BPA sebenarnya banyak ditemukan di berbagai produk, baik makanan maupun non-makanan. Misalnya, pada makanan kaleng seperti ikan, sayuran, daging, hingga buah.
Baca Juga: Tips dan Manfaat Minum Air Kepala Muda Saat Cuaca Panas Menurut Organisasi Kesehatan PAFI
Dalam produk makanan, kandungan BPA tertinggi ditemukan pada ikan kaleng yang mencapai 106 ng/gram.
Di luar itu, BPA juga digunakan dalam pembuatan botol plastik, mainan, peralatan listrik, otomotif, alat olahraga, kemasan makanan, perangkat medis, disket, hingga CD.
“BPA ini memang umumnya ditemukan pada plastik, tetapi juga ada dalam produk makanan,” ungkapnya. Pernyataan Ngabila ini turut diunggah oleh akun media sosial Kementerian Kesehatan.
Ngabila menjelaskan bahwa BPA merupakan senyawa kristal padat, transparan, dan tahan terhadap suhu -40 hingga 145 derajat Celsius, dan baru meleleh pada suhu 150 derajat Celsius.
Agar BPA tidak meresap ke dalam pangan, ia menyarankan masyarakat untuk menyimpan kemasan dengan benar.
Ngabila juga menyoroti bahwa penelitian mengenai dampak BPA pada kesehatan manusia masih terbatas.
"Pengaruh BPA pada kesehatan manusia sebagian besar berasal dari studi hewan percobaan dan studi observasional yang memerlukan penelitian lebih lanjut,” katanya.
Pakar teknologi plastik, Wiyu Wahono, menambahkan, penelitian dampak BPA pada manusia tidak bisa disimpulkan hanya dari hasil studi hewan. Menurutnya, hasil eksperimen pada hewan percobaan tidak serta-merta relevan untuk manusia.
"Jika hewan percobaan mengalami masalah kesehatan karena BPA, bukan berarti hal yang sama berlaku untuk manusia," ujarnya.
Senada dengan itu, anggota Council Komite Akreditasi Nasional (KAN) Badan Standardisasi Nasional (BSN), Arief Safari, juga memastikan, kemasan pangan, seperti galon polikarbonat, masih aman digunakan.
Arief menyatakan, paparan BPA ke tubuh manusia masih memerlukan penelitian lebih komprehensif.
“Saya sudah pakai selama puluhan tahun, aman-aman saja,” kata Arief.
Baca Juga: Intip Keunggulan Punya Rumah dengan Nuansa Alam Kental, ke Paramount Land Yuk!
Ia juga menyebutkan, sebaiknya paparan BPA dari berbagai kemasan dinilai secara keseluruhan, tidak hanya dari kemasan air minum dalam kemasan (AMDK), yang kadang dituduh berisiko.
Sebagai informasi, paparan BPA dalam kemasan pangan telah diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) nomor 20 tahun 2019.
Hingga kini, paparan BPA masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan BPOM, yaitu 0,6 mg/kg.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










