Akurat

Apa Itu Sindrom Stevens Johnson yang Dialami Kartika Putri?

Iwan Gunawan | 26 Februari 2024, 13:50 WIB
Apa Itu Sindrom Stevens Johnson yang Dialami Kartika Putri?

AKURAT.CO Artis Kartika Putri beberapa waktu lalu, membagikan foto penuh luka di wajahnya. Bahkan dirinya melakukan pengobatan hingga ke Singapura.

Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Kartika Putri menjelaskan, bahwa dirinya sudah mengidap autoimun kurang lebih 5 tahunan. Pemicu terjadinya melepuh dan ruam di wajah Kartika Putri saat itu adalah alergi pada suatu obat.

Mengetahui ada yang tidak beres pada wajahnya, Kartika Putri langsung melakukan pengobatan ke Singapura. Alasan dirinya lebih memilih berobat di Singapura karena lebih nyaman, sebab tidak ada yang mengenal Kartika Putri sehingga privasinya dapat terjaga.

Baca Juga: Qory Sandioriva Cerita Proses Menyembuhkan Sakit Autoimun

Di akhir sebuah video, Kartika Putri menjelaskan bahwa dirinya didiagnosis Sindrom Stevens Johnson.

"Jadi buat semuanya, udah jelas y, kalau yang aku alami ini, namanya Stevens Johnson Syndrome which is ini normal banget terutama buat orang yang punya autoimun," kata Kartika Putri.

Lantas, apa itu Sindrom Stevens Johnson (SJS) yang dialami oleh Kartika Putri?

Dilansir dari Johns Hopkins Medicine, Sindrom Stevens-Johnson (SJS) adalah kelainan yang menyebabkan lepuh dan lesi menyakitkan pada kulit dan selaput lendir serta dapat menyebabkan masalah mata hingga parah. Apabila terkena penyakit ini, penderita perlu mendapatkan penanganan khusus agar tidak berakibat fatal

Siapa yang berisiko terkena sindrom Stevens-Johnson?

Beberapa kelompok orang yang berisiko lebih tinggi terkena sindrom Stevens-Johnson, antara lain:
- Orang yang mengalami gejala tertentu setelah mengonsumsi obat tertentu.
- Mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
- Individu dengan AIDS atau HIV.
- Orang yang menjalani kemoterapi.
- Mereka yang memiliki anggota keluarga dengan sindrom Stevens-Johnson.

Penyebab Sindrom Stevens-Johnson

Penyebab paling umum dari SJS adalah reaksi obat yang tidak cocok pada tubuh. Hampir semua obat dapat menyebabkan SJS, namun obat-obatan seperti antibiotik, antikonvulsan, dan pengobatan anti-inflamasi paling sering memicu SJS. SJS lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, namun dapat berkembang pada usia berapa pun. Masalah mata khas yang terkait dengan SJS meliputi:

- Konjungtivitis.
- Ulserasi pada kelopak mata.
- Peradangan di dalam mata (iritis).
- Lepuh kornea.
- Perforasi kornea, lubang pada kornea yang dapat menyebabkan hilangnya penglihatan permanen.

Setelah tahap akut penyakit ini, jaringan parut pada konjungtiva dan kornea menyebabkan penurunan atau kehilangan penglihatan dan hal ini, paling sering terjadi. Pada anak-anak, sindrom Stevens-Johnson juga bisa disebabkan oleh infeksi seperti pilek atau flu, atau luka dingin.

Gejala Sindrom Stevens-Johnson

Sindrom Steven-Johnson tahap awal dapat mencakup gejala mirip flu, seperti demam, sakit tenggorokan, batuk, atau nyeri sendi. Beberapa hari kemudian, ruam kulit mungkin muncul di bagian tubuh mana pun dan terasa seperti terbakar sinar matahari atau lesi. Gejala lain, yang muncul segera setelah masalah awal, mungkin termasuk:

- Lepuh pada kulit, mulut, mata, hidung dan alat kelamin.
- Mengelupas kulit setelah lepuh terbentuk.
- Rasa sakit yang tidak dapat dijelaskan pada kulit.
- Pembengkakan pada mulut, bibir, tenggorokan, lidah atau wajah.

Baca Juga: Al Ghazali Diduga Sakit Stevens Johnson Syndrome, Ini Penjelasan Pakar

Pengobatan Sindrom Stevens-Johnson

Sindrom Stevens-Johnson perlu dirawat di rumah sakit, biasanya di unit perawatan intensif. Perawatan ini dapat mencakup:

- Cairan IV untuk mencegah dehidrasi akibat kehilangan kulit. Perawatan pada daerah yang terpapar seperti lecet pada kulit. Kompres dingin, krim, dan perban dapat membantu melindungi kulit, dan obat-obatan dapat mengendalikan peradangan, mengatasi rasa sakit, dan mencegah infeksi tambahan. Pembalut luka khusus atau selaput ketuban mungkin diperlukan untuk kasus yang signifikan.

- Perawatan imunoglobulin intravena, atau steroid dosis tinggi mungkin membantu pada tahap awal untuk membatasi penyakit.

- Perawatan radang mata dimulai dengan penggunaan air mata buatan dan salep untuk melumasi permukaan mata. Tetes steroid harus digunakan pada pasien dengan kemerahan dan peradangan konjungtiva yang signifikan. Tetes dan salep antibiotik ditambahkan ke dalam rejimen pada pasien dengan ulserasi, yang dapat didiagnosis melalui pemeriksaan mata. Transplantasi kornea, transplantasi sel induk limbal, atau prosedur kornea buatan dapat dipertimbangkan pada tahap akhir penyakit, setelah peradangan akut, jika disarankan oleh dokter mata.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

I
Reporter
Iwan Gunawan
R