AKURAT.CO Memotret bintang di langit malam adalah pengalaman yang memadukan ketenangan, tantangan teknis, dan rasa takjub.
Banyak pemula menganggap memotret bintang sulit karena minimnya cahaya dan kebutuhan pengaturan kamera yang tepat.
Jika memahami langkah dasarnya, kamera DSLR apapun sebenarnya sudah mampu menangkap keindahan langit malam yang sarat cahaya bintang.
Fotografi bintang dapat dilakukan dengan memaksimalkan kemampuan manual pada DSLR, mulai dari pengaturan shutter speed hingga fokus manual.
Dilansir dari AstroBackyard, kunci memotret bintang adalah menguasai kontrol pencahayaan dan memanfaatkan lensa yang tepat agar sensor kamera mampu merekam cahaya bintang secara maksimal.
Aktivitas ini biasanya dilakukan di lokasi jauh dari cahaya kota dengan suasana langit yang cerah dan minim polusi cahaya, sehingga konstelasi bintang tampak jelas di atas horizon.
Proses pemotretan pun dilakukan pada malam yang gelap dengan durasi rana panjang untuk menangkap cahaya redup dari langit.
Pengaturan tersebut menjadi dasar sebelum masuk ke langkah teknis lain yang lebih mendalam.
Kondisi langit yang gelap dan stabil membuat hasil foto lebih tajam dan kontras tanpa gangguan cahaya buatan.
Pemilihan waktu dan lokasi yang tepat juga memudahkan kamera menangkap cahaya bintang tanpa menyebabkan bintang tampak bergerak akibat rotasi bumi.
Situasi inilah yang menjadi dasar mengapa pemula perlu memahami teknik dasar DSLR agar hasil akhir lebih maksimal.
Berikut cara mengatur kamera secara teknis agar siap digunakan di lapangan.
Setting DSLR Terbaik untuk Memotret Bintang
1. Mode Kamera Manual (M / Bulb)
Penggunaan mode manual membuat fotografer memiliki kontrol penuh atas shutter speed, aperture, dan ISO.
Mode auto tidak mampu menyesuaikan kondisi minim cahaya sehingga kamera harus diatur secara manual untuk menangkap cahaya bintang secara akurat.
2. Aperture Lebar (f/2.8 – f/4)
Pakai aperture lebar karena semakin besar bukaan lensa, semakin banyak cahaya yang masuk ke sensor kamera.
Lensa dengan bukaan f/2.8 sangat ideal untuk memotret langit malam karena mampu menangkap cahaya redup dengan baik.
3. ISO Tinggi (800 – 3200)
ISO tinggi membantu sensor lebih sensitif terhadap cahaya bintang.
Pemula disarankan memulai dari ISO 1600 lalu melakukan penyesuaian berdasarkan hasil foto.
Semakin tinggi ISO, semakin besar pula risiko noise sehingga diperlukan pengaturan yang seimbang.
4. Shutter Speed 15–30 Detik
Durasi rana panjang memungkinkan kamera mengumpulkan cahaya bintang lebih banyak.
Umumnya disarankan 20–25 detik untuk lensa wide-angle.
Durasi lebih panjang dapat membuat bintang tampak seperti garis (star trails) karena rotasi bumi.
5. Lensa Wide-Angle (14–24 mm)
Lensa sudut lebar memungkinkan cakupan langit yang luas dan meminimalkan gerakan bintang pada hasil foto.
Lensa dengan focal length pendek juga memudahkan menangkap foreground seperti gunung atau pepohonan.
6. Fokus Manual
Fokus otomatis tidak berfungsi di kondisi gelap.
Cara terbaik adalah menggunakan mode live-view, memperbesar tampilan bintang terang, lalu memutar ring fokus hingga bintang tampak sekecil mungkin (tanda bahwa fokus sudah tajam).
7. White Balance Daylight/Auto
Penggunaan format RAW memungkinkan perubahan white balance di proses editing.
White balance daylight cenderung memberikan warna natural untuk langit malam.
8. Format RAW
Format RAW menyimpan data gambar lengkap tanpa kompresi, sangat penting untuk memudahkan proses editing seperti mengurangi noise, meningkatkan kontras bintang, atau memperjelas detail.
9. Tripod Stabil
Tripod wajib digunakan karena shutter speed panjang akan menghasilkan foto blur jika kamera tidak stabil.
Tripod kokoh sangat direkomendasikan terutama jika berada di area berangin.
10. Matikan Image Stabilization
Fitur stabilisasi optik pada lensa justru dapat menimbulkan getaran kecil ketika kamera berada di tripod. Fitur ini wajib dimatikan untuk menjaga ketajaman gambar.
11. Hindari Cahaya Buatan (Light Pollution)
Lokasi jauh dari kota adalah kunci utama.
Cahaya lampu kota dapat menutupi cahaya bintang yang redup sehingga langit tampak kusam.
12. Gunakan Remote Shutter atau Self-Timer
Tekanan jari pada tombol shutter dapat menimbulkan guncangan.
Remote atau self-timer menghilangkan risiko ini, memastikan kamera tetap stabil saat memulai pemotretan.
13. Lakukan Test Shot Berkali-kali
Astrophotography sangat bergantung pada kondisi nyata di lapangan. Karena itu beberapa foto percobaan sangat diperlukan untuk menemukan kombinasi pengaturan paling optimal.
Memotret bintang dengan DSLR bukan hal yang rumit jika memahami pengaturan dasar dan memilih lokasi serta waktu yang tepat.
Dengan aperture lebar, shutter speed panjang, ISO tinggi, fokus manual, dan tripod yang stabil, pemula dapat menghasilkan foto bintang yang tajam dan indah.
Salsabilla Nur Wahdah (Magang)