Menteri Pertahanan AS Sebut Eropa Hadapi “Invasi Ideologi Berbahaya”, Singgung Gelombang Migrasi Lewat Laut

AKURAT.CO Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memicu kontroversi setelah menyatakan bahwa sejumlah negara Eropa sedang menghadapi apa yang ia sebut sebagai “invasi ideologi berbahaya” yang datang melalui jalur laut. Pernyataan itu disampaikan saat upacara peringatan 82 tahun pendaratan Sekutu di Normandia, Prancis, Sabtu (7/6/2026).
Berbicara di Pemakaman Militer Amerika di Colleville-sur-Mer, Hegseth membandingkan ancaman yang dihadapi Eropa saat ini dengan tantangan keamanan yang berbeda dari era Perang Dunia II. Ia menyoroti arus migrasi yang terus berdatangan ke sejumlah negara pesisir Eropa.
“Sayangnya, hari ini pantai-pantai Eropa yang berbeda sedang diterjang oleh ideologi-ideologi berbahaya yang berbeda. Di pantai-pantai Spanyol, Italia, Yunani, dan Bulgaria, kapal-kapal dan para pendatang terus berdatangan,” kata Hegseth dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap pemerintahan Presiden Donald Trump yang selama ini mengkritik kebijakan migrasi di berbagai negara Eropa dan menilai benua itu gagal mengendalikan arus masuk migran.
Hegseth bahkan mempertanyakan respons pemerintah negara-negara Eropa terhadap fenomena tersebut.
“Kapan ibu kota-ibu kota Eropa akan bertindak menghadapi invasi itu? Atau apakah sudah terlambat? Saya berdoa tidak, dan saya yakin belum terlambat,” ujarnya.
Kaitkan Ancaman Migrasi dengan Keamanan Barat
Dalam pidatonya, Hegseth menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi lingkungan keamanan yang semakin kompleks. Karena itu, menurutnya, negara-negara Barat perlu mengambil pelajaran dari operasi pendaratan Sekutu di Normandia pada tahun 1944.
Ia menekankan pentingnya kerja sama antarsekutu yang kuat dan komitmen bersama dalam menghadapi berbagai ancaman global.
“Pelajaran dari 82 tahun lalu di pantai-pantai ini adalah bahwa sekutu yang kuat dan sama-sama berkomitmen menjalankan perannya akan memenangkan perang,” katanya.
Menurut Kementerian Pertahanan AS, Hegseth dalam kesempatan itu juga mengingatkan negara-negara Barat agar tidak terlena oleh rasa aman dan kenyamanan yang berkembang selama beberapa dekade terakhir.
“Kebebasan Tidak Gratis”
Dalam bagian lain pidatonya, Hegseth menegaskan bahwa kebebasan dan perdamaian harus dipertahankan melalui pengorbanan, kekuatan, dan tekad politik.
“Kita telah lupa bahwa kebebasan tidaklah gratis. Kita lupa bahwa perdamaian tidak hadir begitu saja karena diinginkan. Perdamaian dibayar dengan tujuan, kehormatan, dan kekuatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa para prajurit yang mendarat di Normandia pada masa Perang Dunia II memahami prinsip tersebut dengan baik.
“Orang-orang yang mendarat di pantai ini mengetahui hal itu. Pertanyaannya sekarang, apakah kita juga memahaminya?” kata Hegseth.
Pernyataan Hegseth diperkirakan akan memicu perdebatan baru di Eropa mengenai isu migrasi, keamanan perbatasan, dan hubungan transatlantik antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di kawasan Barat.
Sumber: Anadolu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 2Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 5Jadwal Siaran Langsung Liga Champions Malam Ini: Barcelona vs Aston Villa, MU vs AS Roma
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Kalender Jawa 4 November 2026: Watak Weton Rabu Kliwon yang Dikenal Berwibawa
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit






