Akurat

Pemerintahan Trump Turunkan Bendera Pride di Stonewall National Monument, Picu Kritik Aktivis LGBTQ

Fitra Iskandar | 11 Februari 2026, 20:36 WIB
Pemerintahan Trump Turunkan Bendera Pride di Stonewall National Monument, Picu Kritik Aktivis LGBTQ

AKURAT.CO Bendera pelangi Pride yang selama ini berkibar di kawasan bersejarah perjuangan hak LGBTQ di Amerika Serikat resmi diturunkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Bendera tersebut sebelumnya terpasang di Stonewall National Monument, New York — lokasi ikonik yang menjadi simbol lahirnya gerakan Pride modern.

Bendera pelangi itu pernah dikibarkan di area dekat Stonewall Inn, klub malam gay yang menjadi titik awal perlawanan komunitas LGBTQ terhadap razia polisi pada 1969. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Kerusuhan Stonewall dan menjadi tonggak gerakan hak-hak gay di AS.

Stonewall National Monument dikelola oleh National Park Service (NPS) dan berpusat di taman kawasan Greenwich Village, Manhattan, tepat di seberang Stonewall Inn. Banyak pihak menilai penurunan bendera Pride ini sebagai langkah simbolis yang menyasar monumen nasional pertama yang didedikasikan untuk sejarah queer.

Pihak National Park Service menyatakan kebijakan itu dilakukan untuk mematuhi panduan terbaru yang menegaskan kembali aturan lama terkait pengibaran bendera di area federal. Aturan tersebut melarang pengibaran “bendera dan panji non-lembaga”, tanpa pengecualian untuk bendera sejarah, militer, maupun suku asli.

Namun, keputusan itu menuai kecaman dari para aktivis. Aktivis hak gay Ann Northrop menyebut penghapusan bendera tersebut sebagai “tamparan menjijikkan di wajah komunitas” dan berjanji akan menggalang aksi untuk menaikkan kembali bendera Pride.

Presiden Borough Manhattan, Brad Hoylman-Sigal, juga mengkritik langkah tersebut. Ia mengatakan kepada CNN, “Ini bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk membentuk ulang Park Service agar selaras dengan basis dukungan sayap kanannya, dengan mengecualikan kelompok minoritas dan komunitas LGBTQ.”

Ia menambahkan, “Kami akan mencoba mengibarkannya lagi. Mungkin akan diturunkan kembali. Mungkin kami akan dihalangi oleh petugas federal, tapi kami tetap akan mencoba dalam semangat Stonewall.”

Sebelumnya, pada Februari lalu, hampir seluruh penyebutan tentang komunitas trans dan queer dihapus dari situs resmi Stonewall National Monument. NPS saat itu menyatakan langkah tersebut diambil untuk mematuhi perintah Presiden Trump agar lembaga federal hanya mengakui dua gender: laki-laki dan perempuan.

Perubahan konten situs itu merupakan bagian dari dorongan kebijakan untuk mengakhiri inisiatif yang “mempromosikan atau mencerminkan ideologi gender”. Pejabat lembaga juga diperintahkan untuk “mengembalikan kebenaran biologis ke pemerintah federal”, termasuk dengan menghapus materi publik yang mendukung hak-hak trans.

Mengapa Stonewall Sangat Penting?

Kerusuhan Stonewall terjadi pada 28 Juni 1969 saat polisi New York kembali melakukan razia rutin di Stonewall Inn. Saat itu, razia terhadap bar gay kerap terjadi, dengan polisi berwenang menangkap orang yang melakukan tindakan homoseksual atau melanggar aturan berpakaian tertentu.

Salah satu aturan yang dikenal sebagai “three-piece law” memungkinkan polisi menangkap orang — sering kali drag queen, drag king, perempuan trans, dan laki-laki trans — jika mengenakan lebih dari tiga item pakaian yang tidak sesuai dengan gender saat lahir.

Namun razia kali itu memicu perlawanan besar dari komunitas LGBTQ. Aksi protes berlangsung selama beberapa malam dan dikenal sebagai Kerusuhan Stonewall, yang kemudian mengguncang perhatian dunia.

Tokoh drag queen kulit hitam Marsha Johnson menjadi salah satu figur penting yang memimpin perlawanan tersebut. Peristiwa ini lalu menjadi momen kunci dalam perjuangan hak-hak gay di Amerika.

Sejak saat itu, gerakan Pride berkembang pesat hingga menjadi gerakan arus utama berskala global. Pada 1972, Inggris menggelar demonstrasi Pride pertamanya dengan sekitar 700 peserta, sekaligus melahirkan surat kabar gay awal, Gay News. Setahun kemudian digelar konferensi hak gay pertama, dan pada 1975 partai yang kemudian dikenal sebagai Liberal Democrats mulai secara terbuka mendukung hak-hak LGBT. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.