Akurat

Turis Argentina Syok Diseret ke Pengadilan karena Perilaku Rasisnya di Brasil

Fitra Iskandar | 21 Februari 2026, 08:33 WIB
Turis  Argentina Syok Diseret ke Pengadilan karena Perilaku Rasisnya di Brasil

 

AKURAT.CO Pada 6 Februari, seorang pengacara asal Argentina berusia 29 tahun, Agostina Paez, ditangkap di Rio de Janeiro, Brasil. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya 14 Januari, ia terekam video saat keluar dari sebuah bar bersama dua perempuan lain. Dalam video itu, Paez terdengar meneriakkan kata “mono” (monyet dalam bahasa Spanyol) kepada staf bar sambil menirukan gerakan dan suara hewan tersebut.

Saat kejadian, Paez sedang berwisata di Brasil. Ia sempat dibebaskan dengan gelang pemantau elektronik di pergelangan kaki, namun tetap diproses hukum dan tidak boleh meninggalkan Brasil sampai persidangan selesai.

Menurut laporan yang dibuat salah satu pegawai bar ke kantor polisi, tindakan itu terjadi setelah terjadi perselisihan soal tagihan. Pegawai tersebut juga yang merekam video kejadian, seperti dilaporkan Agência Brasil.

Pada 5 Februari, sehari sebelum ditangkap, Paez mengunggah video di Instagram. Ia mengatakan hak-haknya dilanggar dan mengaku merasa takut serta putus asa setelah mengetahui ada surat perintah penangkapan. Kepada stasiun TV Argentina El Trece, ia membantah bersikap rasis. Ia menyebut ucapannya hanya reaksi emosional dan tidak menyangka dampaknya akan sebesar itu. Kepada saluran TV Argentina El Trece, ia mengatakan bahwa ia tidak pernah bermaksud rasis.

“Saya orang Argentina. Itu adalah reaksi emosional, tetapi saya tidak pernah bisa membayangkan keseriusannya dan semua yang terjadi setelahnya,” katanya. Ia juga mengatakan kepada media tersebut bahwa ia telah menerima ancaman.

Kasus ini menarik perhatian publik karena hukum Brasil sangat tegas terhadap rasisme. Aturan tersebut tertulis dalam Konstitusi Federal 1988. Sejak 1989, rasisme di Brasil termasuk kejahatan yang tidak bisa ditebus dengan jaminan dan tidak mengenal kedaluwarsa. Pelakunya terancam hukuman dua hingga lima tahun penjara. Sejak 2023, penghinaan rasial terhadap individu juga diperlakukan sama seperti tindak pidana rasisme. Paez didakwa berdasarkan aturan ini.

Brasil sudah memiliki undang-undang anti-diskriminasi ras sejak 1950-an. Undang-undang itu dikenal sebagai Hukum Afonso Arinos, diambil dari nama anggota parlemen yang mengusulkannya setelah sopirnya yang berkulit hitam mengalami diskriminasi. Namun, sanksinya saat itu lebih ringan dibanding sekarang.

Selama bertahun-tahun, Brasil dikenal dengan istilah “demokrasi rasial”. Namun kenyataannya, negara itu memiliki sejarah panjang perbudakan dan diskriminasi. Brasil merupakan negara dengan jumlah budak terbesar di Benua Amerika pada masa lalu dan kini memiliki populasi keturunan Afrika terbesar di luar Afrika. Berdasarkan sensus 2022, dari sekitar 213 juta penduduk, 45,3 persen mengaku berdarah campuran (pardo), 10,2 persen kulit hitam, dan 0,8 persen masyarakat adat.

Meski sudah ada undang-undang dan kebijakan afirmatif, Mahkamah Agung Brasil pada Desember 2025 menyatakan rasisme masih bersifat struktural, artinya sudah mengakar dalam sistem sosial dan kehidupan sehari-hari.

Perbedaan cara Brasil dan Argentina menangani isu rasisme juga terlihat di dunia sepak bola. Beberapa kasus rasisme terjadi dalam kompetisi Amerika Selatan. Pada Maret 2025, suporter klub Paraguay Cerro Porteño membuat gestur monyet kepada pemain Palmeiras asal Brasil. Pada 2024, tim perempuan Grêmio sempat keluar lapangan setelah terjadi gestur rasis dari pemain River Plate Argentina. Beberapa pemain kemudian ditangkap.

Kasus terbaru terjadi dalam pertandingan Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica pada 17 Februari di Lisbon. Pemain Brasil Vinicius Junior mengaktifkan protokol anti-rasisme FIFA setelah mengaku mendengar kata “monyet” dari pemain Argentina, Gianluca Prestianni. Prestianni membantah tuduhan tersebut dan mengatakan ucapannya disalahartikan.

Vinicius Junior selama ini dikenal sebagai salah satu pemain yang vokal melawan rasisme, setelah berkali-kali menjadi korban pelecehan rasial di Spanyol.

Menurut laporan CNN Brasil, setelah penangkapan Paez, sejumlah media Argentina menerbitkan panduan bagi wisatawan yang hendak ke Brasil, berisi penjelasan tentang ketatnya hukum anti-rasisme di negara tersebut serta kata dan gestur yang sebaiknya dihindari.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.