AS Kritik Kesepakatan Dagang Uni Eropa–India, Dinilai Utamakan Bisnis Dibanding Ukraina

AKURAT.CO Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengkritik keras kesepakatan dagang Uni Eropa–India yang baru disepakati, dengan menilai bahwa Eropa lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dibandingkan komitmennya terhadap dukungan bagi Ukraina.
Dalam wawancara dengan CNBC, Rabu (28/1), Bessent menyatakan kekecewaannya atas keputusan Uni Eropa melanjutkan perjanjian perdagangan dengan India yang difinalisasi pada Selasa, setelah melalui negosiasi selama bertahun-tahun. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen bahkan menyebut kesepakatan tersebut sebagai “mother of all deals”.
“Mereka tentu berhak melakukan apa yang terbaik bagi diri mereka sendiri, tetapi saya harus mengatakan bahwa sikap Eropa sangat mengecewakan,” ujar Bessent.
Bessent menuding sejumlah negara Eropa membeli produk olahan dari India yang berasal dari minyak Rusia, sekaligus menolak menyelaraskan kebijakan perdagangan mereka dengan pendekatan lebih keras yang diterapkan Washington terhadap New Delhi. Menurutnya, Uni Eropa enggan mengikuti kebijakan tarif tambahan 25 persen yang dikenakan Amerika Serikat terhadap barang-barang India tahun lalu karena sedang mengejar perjanjian dagang sendiri dengan India.
“Eropa tidak mau bergabung dengan kami, dan ternyata alasannya karena mereka ingin menuntaskan kesepakatan dagang ini,” kata Bessent.
Ia menilai langkah tersebut bertentangan dengan pernyataan Eropa yang selama ini menekankan dukungan terhadap Ukraina. “Setiap kali Anda mendengar pejabat Eropa berbicara tentang pentingnya rakyat Ukraina, ingatlah bahwa mereka menempatkan perdagangan di atas Ukraina,” ujarnya.
Kesepakatan dagang Uni Eropa–India itu bertujuan meningkatkan perdagangan dua arah sekaligus mengurangi ketergantungan Eropa pada Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global. Brussel menyebut perjanjian tersebut akan menghapus atau menurunkan tarif untuk hampir 97 persen nilai barang perdagangan, berpotensi melipatgandakan ekspor Uni Eropa ke India pada 2032 dan menghemat sekitar €4 miliar biaya bea masuk bagi perusahaan Eropa.
Pernyataan Bessent muncul di tengah hubungan dagang transatlantik yang memburuk selama masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. Pejabat AS disebut kecewa karena Uni Eropa belum melaksanakan penurunan tarif yang dijanjikan dalam kerangka kesepakatan dengan Washington pada Juli lalu.
Ketegangan tersebut diperparah oleh kebijakan tarif terbaru AS terhadap sejumlah mitra dagang lain, termasuk Korea Selatan, yang pekan ini dikenai kenaikan bea masuk akibat lambannya implementasi perjanjian bilateral.
Bessent membela penggunaan tarif sebagai alat tekanan, dengan menyebut kebijakan tersebut efektif untuk mempercepat proses negosiasi. “Langkah seperti ini membantu mendorong kemajuan,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








