Akurat

Wabah Virus Nipah di India Picu Kewaspadaan Asia, Bandara Perketat Pemeriksaan

Kumoro Damarjati | 27 Januari 2026, 21:32 WIB
Wabah Virus Nipah di India Picu Kewaspadaan Asia, Bandara Perketat Pemeriksaan

AKURAT.CO Wabah virus Nipah yang mematikan di Benggala Barat, India, memicu kewaspadaan sejumlah negara Asia. Sejumlah bandara dan pos perbatasan mulai memperketat pemeriksaan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah tersebut guna mencegah penyebaran lintas negara.

Thailand telah melakukan skrining kesehatan terhadap penumpang asal Benggala Barat di Bandara Suvarnabhumi, Don Mueang, dan Phuket. Nepal juga menerapkan langkah serupa di Bandara Internasional Kathmandu serta di jalur perbatasan darat. Sementara itu, Taiwan tengah mempertimbangkan untuk memasukkan virus Nipah ke dalam kategori penyakit menular wajib lapor tingkat lima, yang mewajibkan pelaporan segera dan penerapan pengendalian ketat.

Wabah ini terdeteksi awal bulan ini setelah lima tenaga kesehatan di Benggala Barat terkonfirmasi terinfeksi virus Nipah. Salah satu pasien dilaporkan dalam kondisi kritis. Otoritas setempat telah mengarantina sekitar 110 orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan para pasien tersebut.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang secara alami dibawa oleh kelelawar pemakan buah dan dalam beberapa kasus dapat menular melalui babi. Virus ini dapat berpindah ke manusia dan menyebar antarmanusia, terutama melalui kontak dekat atau konsumsi makanan yang terkontaminasi. Tingkat kematian akibat virus ini tergolong sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus yang disetujui. Pemerintah setempat tengah mengupayakan pengadaan antibodi monoklonal, namun jumlahnya masih terbatas.

Gejala infeksi virus Nipah pada tahap awal umumnya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan muntah. Pada kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia, gangguan pernapasan akut, hingga radang otak atau ensefalitis yang berakibat kebingungan, kejang, koma, bahkan kematian. Masa inkubasi virus ini berkisar antara empat hingga 21 hari, sehingga penularan dapat terjadi sebelum gejala muncul.

Penyintas virus Nipah berisiko mengalami gangguan neurologis jangka panjang, seperti kejang berulang dan perubahan kepribadian. Dalam kasus langka, infeksi juga dapat kambuh beberapa bulan hingga tahun setelah pasien dinyatakan sembuh.

Sejarah mencatat, virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada 1998, menyerang para peternak babi dan menewaskan lebih dari 100 orang. Wabah tersebut memaksa pemusnahan sekitar satu juta ekor babi dan menimbulkan dampak ekonomi besar. Sejak 2001, Bangladesh hampir setiap tahun melaporkan wabah Nipah, sementara India mencatat sejumlah kasus di Benggala Barat dan Kerala, termasuk kejadian mematikan pada 2018 dan 2023.

Saat ini, otoritas India terus berupaya menekan penyebaran wabah. Di wilayah Barasat, dekat Kolkata, dua perawat masih menjalani perawatan intensif. Ratusan orang dengan potensi paparan sedang dalam proses pelacakan, sementara masa karantina ditetapkan selama 21 hari, terutama bagi anggota keluarga pasien dan tenaga medis.

Sejumlah negara Asia mengambil langkah antisipatif yang mengingatkan pada masa awal pandemi COVID-19. Pelaku perjalanan dari Benggala Barat diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan, mengisi deklarasi kesehatan, dan berpotensi dikarantina jika menunjukkan gejala. Kampanye kesehatan masyarakat juga digencarkan dengan imbauan menghindari konsumsi buah mentah atau tidak dicuci, kontak langsung dengan kelelawar dan babi, serta paparan terhadap individu yang terinfeksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan virus Nipah sebagai salah satu patogen prioritas tinggi karena potensi wabah dan tingkat kematiannya yang ekstrem. Meski hingga kini kasus pada manusia masih terkonsentrasi di Asia Selatan dan Asia Tenggara, para ahli memperingatkan bahwa mobilitas global dan kepadatan penduduk dapat mempercepat penyebaran jika tidak terdeteksi sejak dini.

Wabah virus Nipah kembali mengingatkan dunia pada ancaman penyakit menular mematikan. Dengan tingkat kematian tinggi, penyebaran yang sulit dideteksi, serta ketiadaan vaksin, kewaspadaan publik dan respons cepat otoritas kesehatan menjadi kunci. Masyarakat yang bepergian dari wilayah terdampak diimbau untuk memantau kondisi kesehatan dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala mencurigakan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.