Iran Nyatakan Lebih Siap dari Sebelumnya untuk Hadapi Kemungkinan Serangan AS

AKURAT.CO Iran menyatakan negaranya “lebih siap dari sebelumnya” untuk merespons setiap kemungkinan serangan, seiring meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat setelah gelombang protes besar di dalam negeri.
Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin (26/1), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut situasi saat ini sebagai bentuk “perang hibrida”, merujuk pada konflik 12 hari yang terjadi pada Juni tahun lalu serta protes kekerasan baru-baru ini yang menurut Teheran dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel.
Baghaei mengatakan ancaman dan “klaim tidak berdasar” dari AS dan Israel terus berlanjut. Ia menyinggung pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump, serta laporan pengerahan kapal perang Amerika menuju Teluk Persia.
“Negara-negara di kawasan memahami bahwa ketidakstabilan itu menular dan tidak akan terbatas pada Iran saja,” ujar Baghaei.
Ia menekankan adanya kekhawatiran bersama di antara negara-negara tetangga Iran terkait dampak jika terjadi serangan militer AS, serta menyerukan agar mereka “mengambil sikap yang jelas” terhadap ancaman Washington.
“Dengan mengandalkan kemampuan dalam negeri dan pengalaman berharga di masa lalu, Iran kini lebih siap dari sebelumnya dan akan merespons secara menyeluruh, tegas, dan dengan konsekuensi yang akan disesalkan terhadap setiap potensi agresi,” kata Baghaei.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat tajam setelah protes di Iran berubah menjadi kekerasan dan menewaskan lebih dari 3.000 orang, menurut data pemerintah Iran.
Pada puncak aksi protes awal bulan ini, Trump memperingatkan pemerintah Iran bahwa ia akan “datang menyelamatkan” para demonstran jika kekuatan mematikan digunakan terhadap mereka.
Beberapa hari kemudian, Trump kembali menyerukan agar para pengunjuk rasa “terus berunjuk rasa” dan “mengambil alih institusi”, seraya mengatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”. Ia juga menyatakan sudah saatnya terjadi perubahan kepemimpinan, pernyataan yang oleh banyak pihak di Iran ditafsirkan sebagai ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Pada Sabtu lalu, Trump mengumumkan bahwa sebuah “armada” Amerika Serikat sedang menuju Timur Tengah dan bahwa Washington memantau ketat situasi di Iran. Ia mengonfirmasi laporan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln serta sejumlah kapal perusak bersenjata rudal akan tiba di kawasan tersebut dalam beberapa hari ke depan.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari para pemimpin politik dan militer Iran, yang memperingatkan akan adanya respons kuat jika terjadi serangan terhadap negara itu.
Baghaei juga mengkritik Amerika Serikat dengan menyebut sikap Washington soal hak asasi manusia sebagai “sepenuhnya menipu dan munafik”, merujuk secara tersirat pada perkembangan terbaru di Minneapolis, di mana dua orang tewas dan memicu gelombang protes besar terhadap polisi imigrasi.
“Amerika Serikat yang mengklaim membela hak asasi manusia di luar negeri seharusnya terlebih dahulu mengakui pelanggaran HAM dan tindakan keras aparat di dalam wilayahnya sendiri,” ujar Baghaei.
Ia turut menanggapi pesan pribadi Presiden Prancis Emmanuel Macron kepada Trump, yang dibagikan Trump di media sosial saat berlangsungnya pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos. Dalam pesan tersebut, Macron menyebut keduanya bisa “melakukan hal-hal besar” terkait Iran, tanpa merinci maksudnya.
Baghaei menegaskan bahwa diplomasi tidak dijalankan melalui pertukaran pesan pribadi, terlebih yang tidak menjamin kerahasiaan. Ia menambahkan bahwa negara-negara “harus bertindak secara bertanggung jawab dalam menyikapi perkembangan internasional.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









