Akurat

Pemimpin Tertinggi Iran Akui Ribuan Orang Tewas dalam Aksi Protes

Kumoro Damarjati | 19 Januari 2026, 08:36 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Akui Ribuan Orang Tewas dalam Aksi Protes

AKURAT.CO Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengakui bahwa ribuan orang tewas selama lebih dari dua pekan aksi protes di berbagai wilayah Iran. Ia menyalahkan Donald Trump.  Presiden AS itu disebut secara terbuka mendorong demonstran dengan menjanjikan dukungan militer AS.

Dalam pidato nasional yang disiarkan televisi dan dikutip dari situs resminya, Khamenei menyebut Trump sebagai “penjahat” yang bertanggung jawab “atas jatuhnya korban jiwa dan kerusakan” selama gelombang protes anti-pemerintah yang pecah sejak akhir Desember, dipicu kemarahan publik terhadap kondisi ekonomi yang memburuk.

Khamenei, yang berusia 86 tahun, tidak menyinggung dugaan penggunaan kekerasan berlebihan oleh aparat keamanan Iran. Sejumlah saksi dan kelompok HAM melaporkan aparat pemerintah menembaki pengunjuk rasa dari jalanan dan atap bangunan. Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS menyebut lebih dari 3.600 orang tewas, namun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh CNN.

Seorang pengunjuk rasa di Teheran mengatakan kepada CNN bahwa massa turun ke jalan tanpa senjata, sementara aparat menembak dari atap gedung dan drone militer terbang di atas mereka.

“Mereka membidik dengan laser dan menembak orang di wajah,” ujar saksi tersebut secara anonim. “Mereka membantai orang-orang… Mereka membunuh yang terbaik, yang paling berani, anak-anak kami.”

Dalam pidatonya, Khamenei menyebut para demonstran sebagai “perusuh” yang terbagi dalam dua kelompok, yakni mereka yang “didukung, dibiayai, dan dilatih oleh Amerika Serikat dan Israel”, serta kaum muda yang disebutnya sebagai “individu naif yang dimanipulasi oleh dalang kerusuhan”. Ia menuding kelompok tersebut merusak fasilitas listrik, masjid, lembaga pendidikan, bank, fasilitas kesehatan, dan toko bahan makanan.

“Dengan mencelakai rakyat, mereka (para ‘perusuh’) membunuh beberapa ribu orang,” kata Khamenei. “Sebagian dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi… sangat biadab.”

Trump merespons dengan menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran dan menyebut Khamenei sebagai “orang sakit” yang seharusnya “mengurus negaranya dengan benar dan berhenti membunuh rakyatnya”. Dalam wawancara dengan Politico, Trump menuding Khamenei bertanggung jawab atas “kehancuran total negara”.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian membela Khamenei dan memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap pemimpin tertinggi akan dianggap sebagai “perang terbuka” terhadap Iran.

Khamenei mengakui kondisi ekonomi Iran “sangat sulit”, namun menyerukan persatuan untuk membela “sistem Islam dan Iran tercinta”. Ia juga mengklaim gelombang protes telah “dipadamkan”, merujuk pada aksi unjuk rasa pro-pemerintah di sejumlah kota.

Di tengah tindakan keras aparat, pemerintah Iran memutus akses internet nasional pada 8 Januari. Lembaga pemantau siber NetBlocks melaporkan terjadi “sedikit peningkatan” konektivitas, namun masih berada di sekitar 2 persen dari tingkat normal.

Dalam pidatonya, Khamenei menegaskan akan ada konsekuensi bagi mereka yang terlibat dalam kerusuhan. “Kami tidak akan membiarkan para penjahat domestik, dan yang lebih penting, para penjahat internasional,” ujarnya.

HRANA melaporkan lebih dari 24.000 orang telah ditangkap selama protes berlangsung, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Kekhawatiran meningkat setelah jaksa Teheran menyebut sebagian demonstran berpotensi menghadapi hukuman mati.

“Respons kami tegas, memberi efek jera, dan cepat,” kata Jaksa Teheran Ali Salehi kepada media pemerintah Iran, seraya menyatakan banyak perkara telah dilimpahkan ke pengadilan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.