Akurat

Sejumlah Negara Islam Ramai-ramai Respons Serangan Amerika Serikat ke Venezuela

Lufaefi | 6 Januari 2026, 09:00 WIB
Sejumlah Negara Islam Ramai-ramai Respons Serangan Amerika Serikat ke Venezuela

AKURAT.CO Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela memicu gelombang reaksi dari berbagai negara di dunia Islam. Operasi berskala besar yang dikonfirmasi Washington pada Sabtu lalu itu disebut mengarah pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, sehingga memantik kecaman luas dengan nada dan sikap yang beragam.

Iran menjadi salah satu negara pertama yang bereaksi. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras tindakan Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai agresi militer yang melanggar hukum internasional serta kedaulatan Venezuela.

“Serangan militer AS terhadap Venezuela merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan aturan-aturan dasar hukum internasional, khususnya Pasal 2 Ayat 4 Piagam, yang melarang penggunaan kekerasan,” demikian pernyataan resmi Kemenlu Iran.

Iran juga menyebut tindakan tersebut sebagai “tindakan agresi” yang harus dikutuk secara tegas oleh PBB dan komunitas internasional.

Dari kawasan Jazirah Arab, pemerintah de facto Yaman yang dipimpin kelompok Ansar Allah (Houthi) di Sanaa menyampaikan kecaman keras. Pemerintah yang didukung Iran itu menyebut serangan AS sebagai aksi terorisme.

“Apa yang dilakukan Amerika terhadap Venezuela sekali lagi membuktikan bahwa Amerika adalah kepala kejahatan dan induk terorisme,” bunyi pernyataan resmi pemerintah Yaman.

Baca Juga: Prancis Kritik Penyerangan AS ke Venezuela Tapi Dukung Penangkapan Maduro

Mereka menegaskan solidaritas penuh kepada Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro serta mendukung hak negara tersebut untuk mempertahankan kedaulatan dan sumber dayanya.

Reaksi serupa datang dari kelompok perlawanan Palestina. Hamas mengecam serangan AS dan menilai tindakan tersebut sebagai kelanjutan dari kebijakan campur tangan Amerika yang bersifat imperialis.

“Agresi ini merupakan kelanjutan dari kebijakan dan campur tangan Amerika yang tidak adil, yang didorong oleh ambisi imperialisnya,” kata Hamas dalam pernyataan resminya.

Kelompok tersebut juga menilai kebijakan Amerika telah menjerumuskan sejumlah negara ke dalam kekacauan dan mengancam perdamaian internasional.

Sementara itu, Qatar mengambil sikap lebih moderat. Pemerintah Qatar menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan di Venezuela dan menyerukan pengekangan serta de-eskalasi. Doha juga menawarkan diri untuk terlibat dalam upaya mediasi internasional.

“Negara Qatar menyerukan penerapan dialog sebagai cara yang tepat untuk mengatasi semua masalah yang belum terselesaikan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Qatar, yang juga menegaskan kesiapan Qatar membantu mencari solusi damai.

Di Asia Tenggara, Malaysia tampil sebagai salah satu negara dengan sikap paling tegas. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menuntut agar Presiden Nicolas Maduro dan istrinya segera dibebaskan.

“Presiden Maduro dan istrinya harus dibebaskan tanpa penundaan yang tidak semestinya,” kata Anwar.

Ia menilai operasi Amerika Serikat sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan penggunaan kekuatan yang melanggar hukum terhadap negara berdaulat.

Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam pernyataan terpisah menegaskan bahwa Malaysia menentang segala bentuk intervensi asing dalam urusan internal negara lain serta ancaman atau penggunaan kekuatan militer.

Dari Afrika, sejumlah negara mayoritas Muslim menyatakan dukungan terhadap Venezuela. Burkina Faso dan Mali secara terbuka mengecam serangan udara Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Venezuela Ivan Gil Pinto menyebut kecaman tersebut disampaikan langsung oleh mitranya dari Burkina Faso dan Mali melalui komunikasi resmi.

“Saya menerima telepon dari Menteri Luar Negeri Burkina Faso yang menyatakan dukungan dan solidaritasnya yang teguh kepada Venezuela sebagai tanggapan atas pelanggaran kedaulatan kami,” kata Pinto.

Menteri Luar Negeri Mali juga menyampaikan kecaman keras terhadap serangan militer ilegal di wilayah Venezuela.

Nigeria, negara dengan populasi Muslim besar di Afrika, turut menyatakan dukungannya kepada Venezuela, meski tidak merinci langkah lanjutan yang akan diambil.

Indonesia mengambil sikap diplomatik dengan menekankan pentingnya hukum internasional dan perlindungan warga sipil. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang menyatakan pemerintah Indonesia memantau situasi di Venezuela secara saksama.

“Indonesia menyerukan kepada semua pihak terkait untuk memprioritaskan penyelesaian damai melalui de-eskalasi dan dialog, sambil memprioritaskan perlindungan warga sipil,” ujar Yvonne.

Baca Juga: Konflik AS–Venezuela, Begini Dampaknya ke Harga Minyak Global

Indonesia juga menegaskan pentingnya penghormatan terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB.

Turki juga memilih respons yang relatif tenang. Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan di Venezuela dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri guna menghindari dampak negatif terhadap keamanan regional dan internasional.

Berbeda dengan negara-negara tersebut, sejumlah negara Arab besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangan Amerika Serikat ke Venezuela. Sikap diam juga ditunjukkan oleh negara-negara Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair.

Hingga berita ini ditulis, respons dunia Islam terhadap operasi militer Amerika Serikat di Venezuela masih terus berkembang, dengan spektrum sikap mulai dari kecaman keras hingga seruan dialog dan de-eskalasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.