Konflik AS–Venezuela, Begini Dampaknya ke Harga Minyak Global
Dedi Hidayat | 5 Januari 2026, 18:21 WIB

AKURAT.CO Ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memicu kekhawatiran pasar, mengingat Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Meski memiliki cadangan sangat besar, produksi minyak mentah Venezuela saat ini relatif terbatas, yakni sekitar 1 juta barel per hari. Selain itu, peran Venezuela dalam perdagangan minyak global juga telah menyusut tajam dalam dua dekade terakhir.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menilai kondisi tersebut membuat potensi gangguan pasokan minyak dunia akibat konflik AS–Venezuela relatif kecil dalam jangka pendek.
Faisal menjelaskan, penurunan produksi Venezuela dipicu oleh berbagai persoalan domestik, mulai dari salah kelola ekonomi, hingga infrastruktur perminyakan yang menua.
Padahal, pada awal 2000-an, Venezuela merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia dengan ekonomi yang sangat bergantung pada sektor energi. Menurut Faisal, kondisi ini membuat potensi kenaikan harga minyak global akibat ketegangan AS–Venezuela tidak akan signifikan.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menilai kondisi tersebut membuat potensi gangguan pasokan minyak dunia akibat konflik AS–Venezuela relatif kecil dalam jangka pendek.
Faisal menjelaskan, penurunan produksi Venezuela dipicu oleh berbagai persoalan domestik, mulai dari salah kelola ekonomi, hingga infrastruktur perminyakan yang menua.
Padahal, pada awal 2000-an, Venezuela merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia dengan ekonomi yang sangat bergantung pada sektor energi. Menurut Faisal, kondisi ini membuat potensi kenaikan harga minyak global akibat ketegangan AS–Venezuela tidak akan signifikan.
Baca Juga: Permintaan Minyak Global Melemah, ICP Agustus 2025 Turun ke USD66,07 per Barel
“Jadi akan ada kenaikan harga minyak tapi tidak terlalu signifikan, tidak terlalu signifikan naiknya dibandingkan misalnya, bahkan kayak kemarin yang perang Iran dan Israel itu sempat naik itu agak sedikit signifikan itu, naiknya kalau tidak salah hampir mendekati USD80 per barel,” kata Faisal kepada Akurat.co, Senin (5/1/2026).
Faisal memperkirakan harga minyak tidak akan melonjak tajam karena kontribusi Venezuela terhadap pasokan global saat ini relatif kecil. Meski demikian, Faisal menekankan bahwa ketegangan ini memiliki implikasi strategis jangka panjang.
Amerika Serikat dinilai memiliki kepentingan besar terhadap cadangan minyak Venezuela, terutama karena kilang-kilang minyak AS banyak membutuhkan minyak berat (heavy oil), sementara produksi domestik AS dari shale oil didominasi minyak ringan (light oil).
“Kilang besar di Texas dan Louisiana sangat bergantung pada pasokan minyak berat dari Amerika Latin, termasuk Venezuela,” ujarnya.
Lebih jauh, Faisal mengingatkan bahwa dominasi penguasaan sumber energi oleh satu negara berpotensi memengaruhi tata kelola ekonomi dan geopolitik global. Selain minyak, sumber daya strategis lain seperti mineral tanah jarang (rare earth minerals) juga berpotensi menjadi sasaran dalam dinamika perebutan pengaruh di Venezuela.
“Apa yang kemungkinan akan terjadi? Walaupun kemungkinan yang lain juga bisa jadi bergantung nanti bagaimana perkembangan ke depan,” tuturnya.
Senada dengan Faisal, Praktisi Migas, Hadi Ismoyo menyampaikan bahwa ketegangan AS dan Venezuela tak akan mempengaruhi harga minyak dunia. Sebab, poduksi Venezuela relatif kecil terhadap produksi total dunia. Sekitar 800 ribu bopd. Sedikit di atas Indonesia.
“Menurut pendapat saya tidak akan berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Saat harga minyak dunia cq Brent sekitar USD61 per bbl,” ujar Hadi.
“Jadi akan ada kenaikan harga minyak tapi tidak terlalu signifikan, tidak terlalu signifikan naiknya dibandingkan misalnya, bahkan kayak kemarin yang perang Iran dan Israel itu sempat naik itu agak sedikit signifikan itu, naiknya kalau tidak salah hampir mendekati USD80 per barel,” kata Faisal kepada Akurat.co, Senin (5/1/2026).
Faisal memperkirakan harga minyak tidak akan melonjak tajam karena kontribusi Venezuela terhadap pasokan global saat ini relatif kecil. Meski demikian, Faisal menekankan bahwa ketegangan ini memiliki implikasi strategis jangka panjang.
Amerika Serikat dinilai memiliki kepentingan besar terhadap cadangan minyak Venezuela, terutama karena kilang-kilang minyak AS banyak membutuhkan minyak berat (heavy oil), sementara produksi domestik AS dari shale oil didominasi minyak ringan (light oil).
“Kilang besar di Texas dan Louisiana sangat bergantung pada pasokan minyak berat dari Amerika Latin, termasuk Venezuela,” ujarnya.
Lebih jauh, Faisal mengingatkan bahwa dominasi penguasaan sumber energi oleh satu negara berpotensi memengaruhi tata kelola ekonomi dan geopolitik global. Selain minyak, sumber daya strategis lain seperti mineral tanah jarang (rare earth minerals) juga berpotensi menjadi sasaran dalam dinamika perebutan pengaruh di Venezuela.
“Apa yang kemungkinan akan terjadi? Walaupun kemungkinan yang lain juga bisa jadi bergantung nanti bagaimana perkembangan ke depan,” tuturnya.
Senada dengan Faisal, Praktisi Migas, Hadi Ismoyo menyampaikan bahwa ketegangan AS dan Venezuela tak akan mempengaruhi harga minyak dunia. Sebab, poduksi Venezuela relatif kecil terhadap produksi total dunia. Sekitar 800 ribu bopd. Sedikit di atas Indonesia.
“Menurut pendapat saya tidak akan berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Saat harga minyak dunia cq Brent sekitar USD61 per bbl,” ujar Hadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










