Akurat

Memar di Tangan Donald Trump Kembali Jadi Sorotan, Kesehatannya Dipertanyakan

Kumoro Damarjati | 2 Januari 2026, 14:17 WIB
Memar di Tangan Donald Trump Kembali Jadi Sorotan, Kesehatannya Dipertanyakan

AKURAT.CO Munculnya memar di tangan Trump kembali memicu pertanyaan soal kondisi kesehatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, hampir satu tahun setelah ia dilantik sebagai presiden tertua dalam sejarah AS.

Dalam sejumlah acara publik pekan lalu, Trump yang berusia 79 tahun terlihat memiliki perubahan warna atau memar ringan di punggung tangan kirinya. Temuan ini menambah perhatian publik, mengingat memar di tangan kanannya sudah lebih dulu terlihat selama berbulan-bulan terakhir.

Kemunculan memar di tangan Trump ini dinilai memperumit penjelasan Gedung Putih sebelumnya. Saat itu, pihak Gedung Putih menyebut memar di tangan kanan Trump disebabkan kebiasaan berjabat tangan serta konsumsi aspirin rutin, yang memang dapat membuat memar lebih mudah muncul. Namun, Trump diketahui bertangan kanan, sehingga memar baru di tangan kiri menimbulkan tanda tanya.

Sejumlah pakar medis mengatakan tidak ada alasan medis yang mengkhawatirkan. Mereka menilai memar tersebut kemungkinan merupakan kondisi ringan yang umum terjadi pada orang lanjut usia. Meski begitu, para ahli menilai sikap Trump yang kurang terbuka soal kesehatan justru memperbesar spekulasi publik.

“Ini hanya akan memicu rasa ingin tahu yang terus berulang,” kata Dr. Jeffrey Linder, Kepala Divisi Penyakit Dalam Umum di Northwestern University. Menurutnya, sebagai figur publik, detail kecil seperti ini bisa memengaruhi citra yang ingin ditampilkan Trump.

Isu memar di tangan Trump menjadi topik sensitif, mengingat ia kerap menegaskan dirinya tetap bugar dan energik. Dalam kampanye sebelumnya, Trump juga kerap menyoroti usia dan kondisi fisik Presiden Joe Biden, yang kini berusia 83 tahun, sembari menolak disamakan meski perbedaan usia mereka tidak jauh.

Meski agenda publik Trump terbilang padat, isu kesehatan terus membayangi. Pada Juli lalu, Gedung Putih mengumumkan Trump didiagnosis mengalami insufisiensi vena kronis, setelah foto-foto menunjukkan pembengkakan di kakinya. Kondisi tersebut disebut umum dialami orang lanjut usia.

Saat ditanya soal memar baru di tangan kiri Trump, Gedung Putih tidak memberikan penjelasan tambahan. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt hanya menegaskan bahwa Trump setiap hari bertemu dan berjabat tangan dengan lebih banyak warga Amerika dibanding presiden mana pun sebelumnya.

Beberapa dokter yang menelaah foto-foto Trump mengatakan memar tersebut kecil kemungkinan akibat jabat tangan. Namun usia dan konsumsi aspirin bisa menjadi faktor pemicu. “Memar bisa muncul hanya karena benturan ringan,” kata Dr. Jonathan Reiner, profesor kedokteran di George Washington University. Ia juga menambahkan aspirin memang membuat seseorang lebih mudah mengalami perdarahan ringan.

Reiner, yang tidak memeriksa Trump secara langsung, menyebut memar serupa sering ditemui pada pasien yang mengonsumsi pengencer darah. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah semua obat yang dikonsumsi Trump telah diungkap ke publik. “Masalah utamanya sekarang bukan medis, tapi soal keterbukaan,” ujarnya.

Gedung Putih menolak menjawab pertanyaan terkait obat-obatan Trump dan justru mengecam spekulasi kesehatan tersebut. Direktur komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menyebut dugaan medis tanpa pemeriksaan langsung sebagai spekulasi keliru dan bermuatan politik.

Sebelumnya, memar di tangan kanan Trump sempat menjadi sorotan karena terlihat ditutupi riasan tebal dan perban. Upaya menutupi tersebut justru memancing perhatian lebih besar. Saat itu, dokter Trump menegaskan sang presiden berada dalam kondisi kesehatan yang sangat baik.

Kini, foto-foto memar di tangan Trump, khususnya di tangan kiri, terus beredar di media sosial dan menambah sorotan terhadap kondisi fisik Trump yang akan segera memasuki usia 80 tahun.

Sejarawan kepresidenan Timothy Naftali menilai sorotan tajam ini tak terelakkan. Menurutnya, ketika seorang presiden berusaha menampilkan citra selalu kuat dan prima, tanda-tanda kecil kerentanan justru akan terlihat jauh lebih besar di mata publik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.