Ramai Thrift Shop, Toko Amal Mulai Sepi? Fakta di Balik Tren Belanja Bekas di Malaysia

AKURAT.CO Di tengah tren fesyen yang bergerak cepat dan harga pakaian baru yang kian melambung, toko bundle atau thrift shop justru menemukan momentumnya di Malaysia. Menawarkan pakaian bekas berkualitas dengan gaya yang tak kalah dari barang baru, toko-toko ini kini menjelma menjadi destinasi favorit, terutama di kalangan anak muda.
Dalam beberapa tahun terakhir, gerai bundle tumbuh pesat di berbagai kota di Malaysia. Tak lagi sekadar tempat berburu pakaian murah, thrift shop kini menjadi bagian dari gaya hidup—cara tampil keren tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
Di 2nd Street Bundle Shop kawasan SS15, misalnya, arus pengunjung nyaris tak pernah sepi. Seorang karyawan menuturkan bahwa hampir setiap hari remaja dan dewasa muda datang, bukan hanya untuk melihat-lihat, tetapi juga pulang dengan kantong belanja berisi temuan unik. Fenomena serupa juga terlihat di JBR Bundle yang terus memperluas jaringannya ke berbagai daerah dan menarik pembeli dari seluruh penjuru negeri.
Namun, di balik geliat bisnis thrift shop, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah popularitas bundle shop ikut menggerus keberlangsungan toko amal yang selama ini mengandalkan donasi untuk membiayai kegiatan sosial?
Isu ini kerap ramai dibicarakan, apalagi dengan beredarnya kabar tentang toko amal yang tutup di sejumlah negara. Untuk melihat kenyataan di lapangan, Malay Mail berbincang dengan pengelola dan pekerja toko amal di Malaysia—dan hasilnya tak sepenuhnya sejalan dengan kekhawatiran tersebut.
Tina Chong (65), pengelola lima Bless Shop di Kuala Lumpur, menyebut hingga kini belum ada tanda-tanda toko amal terancam gulung tikar. Ia menegaskan, dukungan dari para penyumbang dan pembeli masih stabil. Menurutnya, pelanggan datang dengan kesadaran bahwa setiap ringgit yang dibelanjakan akan kembali ke masyarakat yang membutuhkan.
“Berbelanja di sini berarti membantu sesama. Itu yang membedakan kami dengan bundle shop,” ujar Chong.
Pernyataan senada disampaikan Shallyn Ubong (55), pekerja di salah satu Bless Shop di Klang Valley. Selama hampir satu dekade beroperasi, tokonya masih menerima donasi secara rutin, setidaknya seminggu sekali. Meski begitu, ia mengakui bahwa tantangan tetap ada, terutama terkait jumlah pembelian yang tak selalu seimbang dengan barang masuk.
Menurutnya, lokasi toko memainkan peran besar. Toko yang berada di kawasan sepi lebih sulit menarik pembeli dibandingkan yang berada di area strategis.
Rajes Wari (44), staf Bless Shop di Petaling Jaya, juga melihat pola serupa. Donasi tetap mengalir, tetapi minat belanja perlahan menurun. “Sekarang barang yang masuk jauh lebih banyak daripada yang keluar,” ujarnya.
Berbeda pandangan datang dari Sanice Kam Ping Ngan (64), salah satu pendiri Parents Without Partners Berhad (Jumble Station). Ia menilai tren bundle shop memang berdampak nyata terhadap penjualan toko amal. Dalam lima tahun terakhir, penjualan di Jumble Station disebut anjlok hingga 60–80 persen.
Meski mengakui pandemi dan faktor eksternal lain turut memengaruhi, Kam menilai persaingan harga menjadi tantangan utama. Ia juga menyoroti menjamurnya toko amal baru yang dikelola berbagai organisasi, sehingga persaingan kian ketat.
Lalu, apakah bundle shop benar-benar mengancam keberadaan toko amal?
Jawabannya tidak sesederhana hitam-putih. Para pelaku di lapangan sepakat bahwa tren thrift shop memang menjadi salah satu faktor, tetapi bukan satu-satunya. Banyak toko amal di Malaysia masih bertahan berkat donasi rutin dan pelanggan setia, dan sejauh ini belum ada indikasi penutupan massal secara nasional.
Soal masa depan, jawabannya pun beragam. Tina Chong memilih realistis, mengakui sulit memprediksi satu dekade ke depan. Sementara Kam optimistis toko amal akan tetap dibutuhkan masyarakat.
“Menutup semuanya? Saya rasa tidak. Selama masih ada kepedulian sosial, toko amal akan tetap punya tempat,” katanya.
Di tengah perubahan tren belanja, satu hal tampaknya tetap bertahan: keinginan untuk memberi makna lebih dari sekadar membeli pakaian. Baik melalui thrift shop maupun toko amal, pilihan kini ada di tangan konsumen—apakah ingin sekadar tampil gaya, atau sekaligus berbagi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









