Saham Pariwisata dan Ritel Jepang Anjlok Usai China Keluarkan Peringatan Perjalanan

AKURAT.CO Saham-saham Jepang di sektor pariwisata dan ritel melemah pada Senin (17/11/2025) setelah pemerintah China mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Jepang. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Tokyo dan Beijing terkait isu Taiwan.
Penurunan saham terlihat pada perusahaan-perusahaan besar seperti department store Mitsukoshi dan Isetan, yang anjlok hampir 12%. Saham produsen kosmetik Shiseido juga turun signifikan. Saham Takashimaya serta perusahaan induk Uniqlo ditutup melemah lebih dari 5%.
Saham maskapai Japan Airlines (JAL) dan ANA Holdings turut terkoreksi, sementara Oriental Land—pengelola Tokyo Disney Resort—jatuh 5,8%.
China selama ini menjadi salah satu sumber wisatawan terbesar ke Jepang, sehingga peringatan perjalanan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi penurunan kunjungan wisatawan.
Peringatan perjalanan itu muncul setelah ketegangan diplomatik meningkat. Pada Minggu, pemerintah China meminta warganya mempertimbangkan kembali rencana studi ke Jepang, dengan alasan meningkatnya risiko keamanan. Mahasiswa China yang sudah berada di Jepang diminta memantau situasi secara ketat. Tahun lalu, lebih dari 100.000 mahasiswa China tercatat belajar di Jepang.
Sejumlah maskapai China—termasuk China Southern Airlines, China Eastern Airlines, dan Air China—juga menawarkan pengembalian dana untuk penerbangan ke Jepang.
Situasi memanas setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa Jepang bisa mengambil tindakan militer jika China menyerang Taiwan. Pernyataan itu mengacu pada hukum keamanan Jepang tahun 2015, yang memungkinkan Jepang merespons jika serangan terhadap sekutu dianggap mengancam keberlangsungan negara.
Survei Kyodo menunjukkan publik Jepang terbelah mengenai apakah negara tersebut harus menggunakan hak bela diri jika Beijing menyerang Taiwan.
Pejabat China dan Jepang dijadwalkan menggelar pembicaraan pada Selasa. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menyebut langkah Beijing tidak sejalan dengan upaya kedua negara membangun hubungan yang stabil dan saling menguntungkan.
China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang akan kembali menjadi bagian dari negara tersebut, sementara mayoritas warga Taiwan lebih memilih mempertahankan status quo tanpa deklarasi kemerdekaan maupun penyatuan dengan China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








