RSF Setuju Gencatan Senjata di Sudan, AS dan Negara Arab Dorong Akhiri Perang Berdarah

AKURAT.CO Pasukan Dukungan Cepat (RSF) Sudan menyatakan kesediaannya menerima usulan gencatan senjata kemanusiaan yang diajukan Amerika Serikat dan negara-negara Arab. Langkah ini diharapkan menjadi awal menuju penghentian perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun dan menewaskan puluhan ribu orang.
Dalam pernyataan resmi pada Kamis (6/11/2025), RSF menyebut pihaknya siap segera melaksanakan kesepakatan gencatan senjata serta memulai pembicaraan politik untuk menghentikan permusuhan di Sudan.
“RSF berharap dapat segera melaksanakan perjanjian dan memulai diskusi mengenai pengaturan penghentian permusuhan serta prinsip-prinsip dasar yang memandu proses politik di Sudan,” demikian pernyataan resmi yang dikutip Reuters.
Sementara itu, pihak tentara Sudan belum memberikan tanggapan atas pengumuman RSF tersebut. Pekan ini, Dewan Keamanan dan Pertahanan yang dipimpin militer menggelar pertemuan membahas proposal itu, namun belum menghasilkan keputusan jelas.
AS Desak Kedua Pihak Akhiri Kekerasan di Sudan
Amerika Serikat menyambut baik sinyal positif dari RSF dan menegaskan komitmennya untuk menengahi gencatan senjata kemanusiaan.
“Kami mendesak kedua belah pihak untuk segera merespons upaya yang dipimpin AS guna mencapai gencatan senjata, mengingat urgensi mengakhiri kekerasan dan penderitaan rakyat Sudan,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Washington bersama Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir sebelumnya telah menyerukan gencatan senjata selama tiga bulan pada September, yang akan menjadi langkah awal menuju penghentian permanen konflik di Sudan.
RSF Kuasai Kota Al-Fashir, Situasi Darfur Memburuk
Pernyataan RSF datang dua minggu setelah pasukan paramiliter itu menguasai Kota Al-Fashir di wilayah Darfur barat — daerah yang kini dilanda kelaparan dan kekacauan kemanusiaan. Pengambilalihan tersebut memperkuat kendali RSF atas sebagian besar wilayah barat Sudan.
Namun, kesaksian warga dan laporan lembaga kemanusiaan menyebut pasukan RSF terlibat dalam pembunuhan dan penculikan warga sipil selama dan setelah penaklukan Al-Fashir. Pimpinan RSF kemudian menyerukan para pejuangnya untuk melindungi warga sipil dan menegaskan pelanggaran akan ditindak tegas.
Perang Sudan Masuki Tahun Ketiga
Konflik antara tentara Sudan dan RSF pecah pada April 2023 setelah kedua pihak, yang sebelumnya merupakan sekutu dalam pemerintahan transisi, berselisih soal rencana integrasi pasukan. Sejak itu, pertempuran meluas ke berbagai wilayah, menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan warga mengungsi ke negara tetangga.
PBB memperingatkan bahwa perang yang berkepanjangan telah mendorong Sudan ke ambang kelaparan massal dan krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern negara tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 3Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 4Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 7FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 8Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 9Dana Reses dari Fee Percepatan Haji, BAP Gus Alex Ungkap Permintaan Pimpinan Komisi VIII
- 10PAN Potong Gaji Anggota Dewan, Rp8 Miliar Terkumpul untuk Bantu Korban Bencana








