Update Topan Kalmaegi Melanda Filipina: 85 Orang Tewas dan Puluhan Masih Hilang

AKURAT.CO Topan Kalmaegi menimbulkan dampak mematikan di Filipina tengah setelah menewaskan sedikitnya 85 orang dan menyebabkan 75 lainnya hilang. Sebagian besar korban ditemukan di Provinsi Cebu yang mengalami banjir bandang besar, menenggelamkan rumah dan menyapu kendaraan di wilayah yang masih berusaha pulih dari gempa bumi beberapa minggu lalu.
Pejabat Badan Pertahanan Sipil, Bernardo Rafaelito Alejandro IV, mengatakan banyak korban ditemukan di wilayah Cebu yang dilanda hujan deras dan luapan sungai. Air bah datang dengan cepat, memaksa warga menaiki atap rumah mereka untuk menyelamatkan diri. Ribuan panggilan darurat masuk ke Palang Merah Filipina dari warga yang meminta evakuasi.
“Banjir datang hanya dalam beberapa menit. Orang-orang panik, air sudah mencapai atap rumah,” kata Caloy Ramirez, seorang relawan penyelamat di Cebu City. Ia menggambarkan kondisi di lapangan penuh kekacauan, dengan mobil-mobil terbalik dan rumah yang hancur diterjang arus.
Kantor Pertahanan Sipil mencatat 49 orang tenggelam akibat banjir besar, sementara korban lain tewas karena tertimpa reruntuhan dan longsor. Di Cebu, sedikitnya 13 orang masih belum ditemukan. Di provinsi sekitar seperti Negros Occidental dan Negros Oriental, 62 orang dilaporkan hilang.
Gubernur Cebu, Pamela Baricuatro, mengatakan pihaknya telah menetapkan status keadaan darurat untuk mempercepat penyaluran dana dan bantuan kemanusiaan. Ia menambahkan bahwa banjir besar kali ini diperparah oleh aktivitas penambangan yang menyebabkan pendangkalan sungai serta proyek pengendalian banjir yang bermasalah. “Kami sudah bersiap menghadapi topan, tetapi banjir bandang datang tanpa diduga,” ujarnya.
Dalam kejadian terpisah, enam anggota Angkatan Udara Filipina tewas setelah helikopter mereka jatuh di Provinsi Agusan del Sur pada Selasa (5/11). Pesawat itu sedang dalam misi kemanusiaan untuk mengirim bantuan ke wilayah yang terdampak Topan Kalmaegi. Militer belum mengungkap penyebab kecelakaan tersebut.
Topan Kalmaegi sendiri telah bergerak menjauh dari Pulau Palawan ke arah Laut Cina Selatan pada Rabu siang (6/11). Menurut Badan Meteorologi Filipina, topan membawa angin berkecepatan hingga 130 kilometer per jam dengan hembusan mencapai 180 kilometer per jam.
Sebelum Kalmaegi mencapai daratan, pemerintah telah mengevakuasi lebih dari 387.000 orang dari wilayah timur dan tengah Filipina. Penutupan jalur laut membuat lebih dari 3.500 penumpang dan sopir truk barang tertahan di hampir 100 pelabuhan. Setidaknya 186 penerbangan domestik juga dibatalkan akibat cuaca ekstrem.
Cebu yang berpenduduk lebih dari 2,4 juta orang baru saja dilanda gempa bumi bermagnitudo 6,9 pada 30 September lalu, yang menewaskan 79 orang dan merusak ribuan rumah. Ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa dipindahkan ke penampungan yang lebih kokoh sebelum topan datang, sehingga sebagian besar wilayah utara Cebu tidak terdampak langsung oleh banjir besar.
Setelah meninggalkan Filipina, Topan Kalmaegi kini bergerak menuju pesisir Vietnam bagian tengah dan diperkirakan akan mencapai daratan pada Jumat pagi. Pemerintah Vietnam telah menyiapkan tempat evakuasi, mengevakuasi kapal nelayan, dan menimbun pasokan pangan di daerah yang berisiko terdampak.
Sementara itu, badan cuaca Thailand mengeluarkan peringatan dini bagi wilayah utara, timur, dan tengah negara itu. Kalmaegi diperkirakan akan membawa hujan deras hingga akhir pekan, berpotensi menimbulkan banjir bandang, tanah longsor, dan luapan sungai.
Filipina dikenal sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Setiap tahun, negara itu menghadapi sekitar 20 badai tropis dan topan, selain ancaman gempa bumi dan aktivitas vulkanik yang tinggi. Topan Kalmaegi kini menjadi salah satu badai paling mematikan yang melanda negara tersebut pada tahun ini, meninggalkan jejak kehancuran luas di tengah upaya pemulihan dari bencana sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









