Akurat

Apa yang Terjadi di Balik Demo Gen Z Maroko yang Guncang Rabat dan Casablanca?

Kumoro Damarjati | 4 Oktober 2025, 10:12 WIB
Apa yang Terjadi di Balik Demo Gen Z Maroko yang Guncang Rabat dan Casablanca?

 

Sejak akhir September 2025, Maroko diguncang demonstrasi besar-besaran yang dipimpin oleh kelompok anonim GenZ 212. Gerakan ini awalnya lahir dari seruan di platform Discord, lalu berkembang menjadi salah satu aksi protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Awalnya, pada 27 September, protes hanya dilakukan dalam skala kecil di Rabat. Namun, dalam hitungan hari, aksi menyebar ke kawasan kelas pekerja dan menjalar ke kota-kota besar seperti Casablanca dan Agadir, bahkan hingga ke sejumlah kota kecil.

Bentrokan dan Korban Jiwa

Situasi memanas pada 1 Oktober ketika aksi berubah menjadi bentrokan. Polisi berhadapan langsung dengan demonstran, mengakibatkan kerusuhan di berbagai titik. Menurut data resmi Kementerian Dalam Negeri, lebih dari 400 orang ditangkap, ratusan aparat keamanan mengalami luka-luka, puluhan kendaraan polisi serta mobil pribadi hancur, sementara sedikitnya 23 warga sipil terluka. Bahkan, dua orang tewas setelah polisi melepaskan tembakan ke arah massa di kota Lqliaa. Pihak kepolisian membela diri dengan menyebut tindakan itu dilakukan untuk melindungi keselamatan mereka.

Siapa GenZ 212 dan Apa Tuntutannya?

Kelompok GenZ 212 terdiri dari anak muda berusia belasan hingga dua puluhan tahun. Nama mereka merujuk pada identitas generasi yang diwakili sekaligus kode area telepon Maroko, 212. Mereka hadir dengan tuntutan sederhana namun kuat: keadilan sosial.

Dalam pandangan mereka, pemerintah salah mengalokasikan anggaran negara. Ketika miliaran dirham digelontorkan untuk membangun stadion demi menyambut Piala Afrika 2026 dan Piala Dunia 2030, sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan justru terbengkalai. Rumah sakit kekurangan dana, sekolah tidak terurus, sementara rakyat harus menanggung akibatnya.

Pengangguran Jadi Pemicu Kemarahan

Kemarahan itu semakin memuncak karena realitas pahit yang dihadapi generasi muda Maroko: tingginya tingkat pengangguran. Data resmi mencatat sekitar 37 persen warga berusia 15 hingga 24 tahun tidak memiliki pekerjaan. Di kawasan perkotaan, kondisinya lebih buruk lagi dengan angka pengangguran yang mencapai 48 persen. Bagi banyak anak muda, situasi ini menutup masa depan mereka dan menjadikan jalanan sebagai ruang terakhir untuk menyuarakan keresahan.

Reaksi Pemerintah

Sikap pemerintah berubah seiring dengan membesarnya gelombang protes. Pada awalnya, media pro-pemerintah meremehkan aksi ini dan menuding adanya campur tangan asing. Namun, setelah demonstrasi tak lagi terbendung, pemerintah mulai melunak.

Menteri Perumahan, Fatima-Zahra Mansouri, menyebut aksi ini sebagai bukti vitalitas demokrasi. Sementara itu, Menteri Kesehatan, Amin Tehraoui, mengakui krisis serius dalam sistem kesehatan dan memecat direktur rumah sakit Agadir setelah kematian seorang pasien memicu kemarahan publik. Meski begitu, Perdana Menteri Aziz Akhannouch justru menjadi sasaran kritik paling keras. Banyak warga menilai kepemimpinannya lemah, hingga menyerukan agar Raja Mohammed VI turun tangan secara langsung.

Perbedaan dengan Gerakan Arab Spring

Menurut analis politik Rachid Belghiti, demo Gen Z ini berbeda dengan Gerakan 20 Februari saat Arab Spring 2011. Jika gerakan lama menuntut reformasi politik dan perubahan konstitusi, maka gerakan GenZ 212 lebih menekankan isu sosial-ekonomi. Selain itu, mereka tidak memiliki struktur organisasi formal dan sepenuhnya bergerak melalui dunia maya.

Tantangan ke Depan

Meski mendapat sorotan internasional, Belghiti menilai akar permasalahan di Maroko tidak mudah terselesaikan. Reformasi mendalam diperlukan dalam bidang pendidikan dan kesehatan, namun sistem politik yang cenderung mempertahankan status quo membuat perubahan sulit terjadi. Ia memperingatkan, bila protes terus berlanjut dan semakin meluas, gelombang ini bisa mengguncang posisi Perdana Menteri Akhannouch dan menimbulkan gejolak politik yang lebih besar.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.