AS Buka Peluang Ukraina Gunakan Rudal Jarak Jauh untuk Serang Rusia

AKURAT.CO Di era Presiden Donald Trump, sikap Amerika Serikat terhadap perang Ukraina sepertinya mudah berubah. Setelah pertemuan yang positif Trump dengan Vladimir Putin beberapa waktu lalu, kini Negeri Paman Sam itu kembali menunjukkan ancamannya terhadap Rusia. Ini ditandai dengan pernyataan utusan Presiden Donald Trump, Keith Kellogg, bahwa Kyiv mungkin akan diberi izin menggunakan senjata buatan Washington untuk menyerang wilayah Rusia secara langsung.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu (28/9/2025), Kellogg menegaskan bahwa langkah ini sesuai dengan arahan Presiden Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
“Membaca apa yang mereka katakan, jawabannya adalah ya. Gunakan kemampuan untuk menyerang jauh. Tidak ada yang namanya tempat perlindungan,” ujar Kellogg, dikutip AFP.
Pernyataan tersebut muncul di tengah tuduhan bahwa jet tempur dan drone Rusia melanggar wilayah udara sejumlah negara Eropa. Situasi ini memperburuk ketegangan dan memicu perdebatan mengenai sejauh mana Ukraina boleh melancarkan serangan ke jantung Rusia dengan dukungan senjata Barat.
Dalam program Fox News terpisah, Wakil Presiden JD Vance menyebutkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan permintaan Ukraina untuk mendapatkan rudal jelajah jarak jauh Tomahawk, senjata yang sebelumnya ditolak oleh Trump. “Itu sesuatu yang pada akhirnya akan diputuskan Presiden,” kata Vance. Ia menambahkan bahwa sejumlah permintaan dari negara-negara Eropa juga sedang dibahas di Gedung Putih.
Sementara itu, Kremlin merespons dengan nada menantang. Juru bicara Dmitry Peskov menilai pengiriman senjata jarak jauh tidak akan mengubah peta pertempuran di garis depan. “Tidak ada obat mujarab yang bisa mengubah keadaan bagi rezim Kyiv. Baik itu Tomahawk atau rudal lain, mereka tidak akan bisa mengubah dinamika,” tegasnya pada Senin (29/9/2025).
Pergeseran sikap Trump terhadap Ukraina ini terjadi hanya sepekan setelah pertemuannya dengan Presiden Volodymyr Zelensky. Trump menilai bahwa Kyiv, dengan dukungan Uni Eropa, kini berada dalam posisi untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Rusia, termasuk Semenanjung Krimea yang dicaplok Moskwa pada 2014.
Sejak invasi skala penuh pada Februari 2022, Rusia telah menguasai sejumlah wilayah di timur dan selatan Ukraina. Dengan adanya sinyal baru dari Washington, potensi eskalasi konflik di kawasan semakin terbuka, terutama jika Ukraina benar-benar mendapat izin untuk melancarkan serangan langsung ke wilayah Rusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









