Aktivis Pembebasan Kulit Hitam dan Buronan AS Legendaris, Assata Shakur Meninggal di Kuba

AKURAT.CO Assata Shakur, aktivis pembebasan kulit hitam AS yang selama puluhan tahun menjadi buronan paling dicari FBI, meninggal dunia pada Kamis (25/9) di Havana, Kuba. Kementerian Luar Negeri Kuba menyatakan Shakur wafat akibat masalah kesehatan terkait usia lanjut. Putrinya, Kakuya Shakur, mengonfirmasi kabar duka ini melalui unggahan Facebook. Shakur meninggal pada usia 78 tahun.
Dari Black Panther hingga Buronan AS
Lahir dengan nama Joanne Deborah Chesimard, Shakur adalah anggota Black Panther Party dan Black Liberation Army. Namanya mencuat setelah insiden pada 2 Mei 1973, ketika mobil yang ia tumpangi dihentikan polisi Negara Bagian New Jersey karena lampu belakang rusak. Terjadi baku tembak yang menewaskan polisi Werner Foerster dan melukai petugas lain.
Shakur sempat melarikan diri namun akhirnya ditangkap. Pada 1977, ia divonis seumur hidup atas tuduhan pembunuhan, perampokan bersenjata, dan sejumlah kejahatan lain. Beberapa dakwaan tambahan, seperti perampokan bank dan penembakan polisi, kemudian dibatalkan atau berujung pembebasan.
Pelarian Spektakuler dan Suaka Kuba
Pada November 1979, anggota Black Liberation Army menyamar sebagai pengunjung dan membebaskan Shakur dari penjara wanita Clinton. Setelah menghilang, ia muncul kembali pada 1984 di Kuba. Presiden Fidel Castro memberi suaka politik, menyebut Shakur bagian dari perjuangan revolusioner melawan “kekaisaran kapitalis.”
Keputusan Kuba melindungi Shakur menjadi simbol ketegangan diplomatik AS–Kuba selama puluhan tahun. FBI memasukkannya ke daftar “teroris paling dicari,” sementara pendukungnya menilai ia dikriminalisasi atas keyakinan politik.
Kontroversi dan Reaksi AS
Pemerintah AS, termasuk Presiden Donald Trump di masa jabatannya, berulang kali menuntut ekstradisi Shakur. Gubernur New Jersey Phil Murphy dan Kepala Polisi Negara Bagian Patrick Callahan menegaskan penolakan untuk memulangkan jenazahnya, menyebut keadilan untuk kematian Foerster “tidak pernah ditegakkan.”
Michael Inganamort, anggota Majelis Negara Bagian New Jersey, juga menyayangkan kematian Shakur tanpa proses hukum lanjutan. “Sayangnya, dia meninggal tanpa dimintai pertanggungjawaban penuh,” ujar mereka dalam pernyataan bersama.
Warisan Perjuangan dan Budaya Pop
Dalam autobiografinya Assata: An Autobiography (1988), Shakur menulis, “Adalah tugas kita untuk memperjuangkan kebebasan kita… Kita tidak akan kehilangan apa pun kecuali rantai kita.” Kata-katanya kembali populer saat gerakan Black Lives Matter (BLM) merebak.
Aktivis BLM Malkia Amala Cyril memuji keberanian Shakur. “Dunia hari ini butuh cinta radikal seperti yang ia praktikkan,” katanya.
Shakur juga menginspirasi dunia musik. Ia adalah ibu baptis rapper legendaris Tupac Shakur. Grup hip-hop politik Public Enemy merujuk namanya dalam lagu Rebel Without a Pause (1988), sementara rapper Common mendedikasikan lagu A Song for Assata (2000) untuk kisah hidupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









