Apa yang Terjadi ketika Trump Berpidato di Majelis Umum PBB?

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump salah satu yang paling ditunggu-tunggu untuk menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa, 23 September 2025. Di ruang sidang berbalut warna hijau dan emas yang khas, Trump maju ke podium dengan gaya percaya diri. Sebelum memulai pidatonya, ia mengejutkan hadirin dengan mengumumkan bahwa teleprompter yang seharusnya membantunya berbicara tidak berfungsi.
“Teleprompter tidak bekerja, tapi itu bagus—Anda lebih berbicara dari hati,” ujarnya sambil melirik ke arah para pemimpin dan delegasi dunia. “Siapa pun yang mengoperasikan teleprompter ini dalam masalah besar,” candanya seperti dikutip dari BBC. Komentar itu disambut perhatian penuh dari ruangan yang dipenuhi kepala negara dan perwakilan dari berbagai belahan dunia.
Kritik Tajam kepada Joe Biden
Setelah pembukaan yang penuh canda, Trump langsung menargetkan pemerintahan pendahulunya. Ia menuding Presiden Joe Biden sebagai penyebab “serangkaian bencana berulang” yang menimpa Amerika Serikat. Kritik pedas ini menjadi pengantar bagi klaim-klaim keberhasilan yang disebutnya telah dicapai selama delapan bulan masa jabatan keduanya.
Klaim Pencapaian Ekonomi dan Keamanan
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini adalah “negara paling keren” atau “negara terpanas di dunia,” sebuah frasa yang kerap ia gunakan untuk menggambarkan dominasi AS di kancah global. “Hari ini, hanya delapan bulan masa pemerintahan saya, kita adalah negara terpanas di dunia, dan tidak ada negara lain yang menyamainya,” tegasnya.
Ia kemudian menyoroti sederet keberhasilan ekonomi yang menurutnya menandai “zaman keemasan Amerika.” Trump menyinggung rekor tertinggi pasar saham AS yang baru saja tercapai, derasnya arus investasi dalam negeri, serta pemotongan pajak dan deregulasi yang ia nilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
Tak hanya soal ekonomi, Trump juga menekankan keberhasilan kebijakan imigrasi yang memperkuat keamanan perbatasan. Ia menyebut kebijakan tarif global yang diterapkannya sebagai “kesepakatan perdagangan bersejarah” yang menekan banyak negara namun menguntungkan Amerika Serikat. Menurut Trump, semua kebijakan itu membuat AS memiliki ekonomi terkuat, perbatasan terkuat, militer terkuat, persahabatan internasional terkuat, dan semangat nasional yang tak tertandingi. “Ini memang masa keemasan Amerika,” ujarnya penuh keyakinan.
Mengingat Pidato PBB Tahun 2018
Trump juga menyinggung pengalamannya di Sidang Majelis Umum PBB pada 2018. Saat itu, ia sesumbar bahwa pemerintahannya “telah meraih lebih dari apa pun yang pernah dicapai pemerintahan mana pun dalam sejarah negara kami” hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Klaim tersebut sontak membuat para hadirin tertawa. Namun, Trump merespons tawa itu dengan tenang. “Aku tak menyangka akan ada reaksi seperti itu, tetapi tidak apa,” katanya sambil tersenyum, membuat gelak tawa di ruangan semakin menggemuruh.
Delapan tahun kemudian, ketika Trump kembali berpidato dan melontarkan klaim-klaim keberhasilan serupa, suasana jauh berbeda. Tak ada tawa yang pecah dari para pemimpin dunia. Para delegasi mendengarkan dengan serius, menandakan bahwa pesan Trump kali ini diterima dengan cara yang lebih formal dan penuh perhatian.
Trump Singgung Konflik Israel–Palestina di Pidato PBB
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Donald Trump menegaskan penolakannya terhadap upaya internasional untuk memberikan pengakuan resmi kepada Negara Palestina. Menurutnya, langkah tersebut tidak tepat karena kelompok Hamas masih terlibat dalam kekerasan. “Memberikan pengakuan kepada Palestina sama saja memberi hadiah terlalu besar kepada teroris Hamas atas kekejaman mereka,” ucap Trump tegas.
Ia juga menuntut pembebasan seluruh sandera yang masih ditahan Hamas. Trump menekankan bahwa Amerika Serikat mendorong adanya kesepakatan gencatan senjata yang memungkinkan pemulangan semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. “Kita harus segera menghentikan perang di Gaza dan mewujudkan perdamaian,” serunya.
Trump mengungkapkan rencananya untuk membahas masa depan Gaza bersama beberapa pemimpin negara Teluk. Dengan penuh percaya diri, ia bahkan memposisikan dirinya sebagai tokoh yang mampu menjadi pembawa perdamaian, sambil menyatakan keyakinannya bahwa upaya tersebut layak diganjar Hadiah Nobel Perdamaian.
Tak lupa, Trump melontarkan keluhan terhadap PBB. Ia menuding lembaga itu kurang mendukung misinya untuk mengakhiri konflik di berbagai belahan dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 4Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK






