Presiden Taiwan Lai Ching-te Sindir Xi Jinping: Kritik Kultus Pemimpin dan Fasisme Modern

AKURAT.CO Presiden Taiwan Lai Ching-te melontarkan kritik tajam terhadap praktik kultus kepribadian dan jaringan polisi rahasia, Selasa (3/9/2025). Pernyataan itu muncul bertepatan dengan parade militer besar di Beijing, di mana Presiden Tiongkok Xi Jinping menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia II.
Taiwan Sentil Narasi Perang Versi Beijing
Taiwan, yang kini diperintah secara demokratis namun diklaim Tiongkok sebagai wilayahnya, sejak lama menolak narasi sejarah Beijing terkait Perang Dunia II. Taipei menegaskan bahwa saat itu pemerintahan Republik Tiongkok—yang kemudian pindah ke Taiwan setelah kalah perang saudara dengan komunis Mao Zedong pada 1949—lah yang berperang bersama Sekutu melawan Jepang.
Dalam unggahan di Facebook memperingati Hari Angkatan Bersenjata Taiwan, Presiden Lai mengingatkan bahwa Jenderal Republik Tiongkok, Hsu Yung-chang, yang menandatangani dokumen penyerahan Jepang pada 1945 atas nama Tiongkok. Ia menyebut hal itu sebagai fakta penting yang kerap diabaikan Beijing.
Lai juga menilai memuaskan bahwa negara-negara bekas Blok Poros, seperti Jerman dan Jepang, kini berkembang menjadi negara demokrasi.
Kritik Terhadap Fasisme Modern
Lebih lanjut, Lai menekankan bahwa fasisme tidak hanya sebatas gambaran rezim di masa lalu. Menurutnya, fasisme bisa dikenali lewat sejumlah ciri, seperti nasionalisme yang berlebihan, obsesi pada kejayaan negara besar, pembatasan kebebasan berpendapat, hingga penindasan terhadap keberagaman sosial. Ia juga menyebut keberadaan jaringan polisi rahasia dan pengkultusan pemimpin kuat sebagai tanda lain dari wajah fasisme modern.
Meski tidak menyebut langsung parade militer Tiongkok, kritik Lai dianggap menyinggung acara yang dipimpin Xi Jinping bersama Putin dan Kim Jong-un. Dalam parade itu, Xi memperingatkan dunia tengah berada di persimpangan antara perdamaian dan perang.
Taiwan Gelar Peringatan di Dalam Negeri
Saat Beijing sibuk dengan parade, Lai menghadiri upacara di Kuil Martir Revolusi Nasional Taipei. Acara itu digelar untuk menghormati para pejuang Republik Tiongkok, termasuk mereka yang gugur melawan Jepang dan komunis.
Pemerintah Taiwan juga mengimbau warganya agar tidak ikut menghadiri parade di Beijing.
Meski begitu, ada satu tokoh Taiwan yang hadir di acara tersebut, yakni Hung Hsiu-chu, mantan ketua partai oposisi terbesar Kuomintang (KMT). Namun KMT menegaskan tidak mengirimkan delegasi resmi ke parade.
Latar Belakang KMT
KMT adalah partai yang memimpin Republik Tiongkok selama perang melawan Jepang. Setelah kalah perang saudara dari komunis pada 1949, partai ini bersama pemerintah Republik Tiongkok mundur ke Taiwan, dan hingga kini masih menjadi salah satu partai politik utama di sana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









