Akurat

Vietnam Manfaatkan Lonjakan Harga Kopi Global untuk Perluas Pasar Ekspor

Kumoro Damarjati | 29 Agustus 2025, 11:27 WIB
Vietnam Manfaatkan Lonjakan Harga Kopi Global untuk Perluas Pasar Ekspor

 

AKURAT.CO Vietnam kini berada pada posisi strategis untuk memperluas pangsa pasar ekspor kopinya. Lonjakan harga kopi global pada 2024 membuka peluang besar bagi negara eksportir Robusta terbesar di dunia ini.

Menurut laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), harga kopi global naik sekitar 40 persen pada 2024. Kenaikan ini dipicu oleh perubahan iklim yang mengganggu produksi di Brasil, Kolombia, dan Indonesia.

Sementara itu, permintaan kopi di pasar utama seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Asia justru terus meningkat.

Di sisi lain, ekspor kopi Vietnam pada Juli 2024 mencapai lebih dari US$560 juta, sehingga total ekspor tujuh bulan pertama tahun ini menembus US$3,6 miliar. Angka tersebut menandai pertumbuhan tahunan sebesar 20 persen, menurut data Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup Vietnam.

Vietnam, Raja Robusta Dunia

Vietnam saat ini menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar kopi Robusta global. Dengan harga tinggi dan pasokan yang stabil, para pelaku industri menyebut kondisi pasar internasional sedang sangat menguntungkan.

Namun, tantangan terbesar Vietnam adalah masih bergantung pada ekspor biji kopi mentah. Pangsa produk kopi olahan—seperti kopi instan, sangrai, dan spesial—baru mencapai 12–15 persen dari total ekspor, jauh lebih rendah dibanding Brasil dan Kolombia yang sudah mencapai 30–40 persen.

Tantangan Teknologi dan Branding

Presiden Asosiasi Kopi Kakao Vietnam (Vicofa), Nguyen Nam Hai, menekankan pentingnya investasi pada pengolahan mendalam. Jika hanya mengandalkan biji mentah, Vietnam berisiko menjadi sekadar “pabrik bahan baku” bagi perusahaan besar dunia.

Masalah utama yang dihadapi industri kopi Vietnam ada pada sisi teknologi dan branding. Produksi kopi instan membutuhkan modal investasi yang sangat besar, mencapai ratusan miliar dong Vietnam, sehingga hanya perusahaan besar seperti Vinacafe, Trung Nguyen, dan Nestle yang mampu melakukannya. Usaha kecil dan menengah masih kesulitan mengakses teknologi ini.

Di sisi lain, merek kopi Vietnam juga belum dikenal luas di pasar internasional. Meski menjadi produsen utama dunia, nama-nama kopi Vietnam tidak sepopuler Starbucks dari Amerika Serikat, Lavazza dari Italia, atau Nestle dari Swiss. Akibatnya, produk kopi olahan asal Vietnam kesulitan menembus segmen premium.

Upaya Industri Kopi Vietnam

Meski menghadapi tantangan besar, sejumlah perusahaan mulai menunjukkan langkah positif. Trung Nguyen Legend memperluas ekspor kopi instan ke Timur Tengah dan Eropa Timur, sementara Vinacafe fokus mengembangkan pasar ASEAN. Di Lam Dong dan Gia Lai, beberapa startup berani membangun merek kopi spesial untuk pasar Jepang dan Korea Selatan. Mereka tidak lagi menjual biji mentah, melainkan memproses kopi sangrai dan memasarkannya langsung. Hasilnya, harga jual bisa dua kali lipat lebih tinggi dan para petani pun merasakan keuntungan yang lebih baik.

Strategi Masa Depan: Dari Biji ke Brand

Para ahli menekankan bahwa jika Vietnam ingin memanfaatkan momentum harga kopi dunia, investasi pada teknologi pengolahan mendalam harus menjadi prioritas. Selain itu, pemerintah diharapkan memberikan dukungan berupa kebijakan kredit khusus bagi perusahaan yang berani masuk ke lini produksi kopi instan dan kopi spesial.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah pembangunan merek kopi nasional. Seperti halnya beras melati Thailand atau kopi Arabika Kolombia yang diakui dunia, Vietnam juga perlu menghadirkan merek kopi yang kuat agar tidak sekadar dikenal sebagai pemasok bahan mentah.

Selain itu, memperluas pasar ke negara-negara berkembang juga menjadi strategi kunci. Permintaan kopi di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Eropa Timur tengah tumbuh pesat, sehingga menjadi peluang emas bagi kopi olahan Vietnam untuk memperkuat distribusi globalnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.