Partai oposisi Jerman Tolak Pengiriman Pasukan Penjaga Perdamaian ke Ukraina

AKURAT.CO Rencana Jerman untuk mengirim pasukan ke Ukraina sebagai bagian dari perjanjian damai dengan Rusia memicu perdebatan panas di dalam negeri. Sejumlah partai oposisi menolak keras wacana pengerahan militer tersebut dan memperingatkan risiko besar yang mungkin dihadapi Jerman.
Partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD), yang saat ini unggul dalam berbagai jajak pendapat, menjadi penentang paling vokal. Mereka mengecam aliansi konservatif CDU/CSU di bawah pimpinan Kanselir Friedrich Merz, yang terbuka terhadap opsi pengerahan pasukan Jerman ke Ukraina bersama negara-negara Eropa lain.
“Politisi garis keras CDU tampak tidak sabar ingin kembali mengirim tentara Jerman ke zona perang asing,” ujar ketua AfD, Alice Weidel, melalui media sosial. Ia memperingatkan langkah tersebut sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab” dengan konsekuensi “berbahaya” bagi keamanan nasional.
Partai Kiri Tawarkan Opsi Alternatif
Penolakan juga datang dari Partai Kiri (Die Linke). Alih-alih mendukung pengerahan pasukan NATO di Ukraina, mereka mengusulkan misi penjaga perdamaian di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Ukraina memang membutuhkan jaminan keamanan setelah perjanjian damai dengan Rusia, tetapi hal itu harus berada dalam kerangka PBB,” tegas wakil ketua Partai Kiri, Jan van Aken. Menurutnya, asumsi bahwa keamanan hanya bisa dijamin melalui kehadiran tentara NATO di perbatasan Rusia-Ukraina adalah “keliru dan berbahaya”. Ia menyinggung risiko konflik perbatasan kecil yang bisa berkembang menjadi konfrontasi besar.
Kanselir Merz Buka Peluang Partisipasi
Setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin Eropa, Kanselir Friedrich Merz menyatakan keterbukaan Jerman untuk berpartisipasi dalam misi penjaga perdamaian di Ukraina.
Merz menegaskan bahwa Jerman memiliki “tanggung jawab besar” untuk menjaga stabilitas kawasan, namun keputusan akhir tetap bergantung pada konsultasi dengan mitra Eropa dan koalisi pemerintahannya.
“Jelas bahwa seluruh Eropa harus terlibat. Ini bukan hanya tentang Ukraina, melainkan tentang tatanan politik Eropa,” ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








