Malaysia Akui Kelimpungan Menurunkan Kasus Penipuan Online

AKURAT.CO Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Seri Saifuddin Nasution mengeluh soal penipuan daring di Malaysia. Ia heran kasus penipuan online di negaranya itu belum menunjukkan penurunan signifikan, padahal sudah berbagai cara dilakukan untuk menekannya.
Menteri Dalam Negeri menjelaskan bahwa penipuan seperti penipuan lowongan kerja, paket, dan cinta masih menjadi salah satu bentuk kejahatan siber yang paling marak di negara ini. Padahal berbagai lembaga termasuk kepolisian, Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia, Bank Negara Malaysia, dan sektor swasta telah melaksanakan program kampanye penyadaran dan melakukan langkah-langkah hukum untuk menekan penipuan online.
Namun, menurutnya dalam tanggapan parlemen pada 19 Agustus, tren penipuan online belum menunjukkan penurunan yang signifikan.
Saifuddin mengaitkan hal ini dengan empat faktor utama – taktik sindikat yang terus berubah, rendahnya tingkat literasi digital, keterbukaan platform digital, dan tantangan dalam penegakan hukum lintas batas.
Ia mencatat bahwa penipu sering menggunakan identitas palsu dan situs web kloning untuk menipu korban, sementara banyak orang, termasuk anak muda dan lansia, masih kurang memahami modus operandi tersebut.
Hal ini, katanya, membuat mereka rentan meskipun telah dilakukan upaya penyadaran berulang kali.
Mengenai penegakan hukum, ia menambahkan bahwa sebagian besar sindikat beroperasi dari luar negeri, menggunakan anonimitas untuk mempersulit penyelidikan dan penuntutan.
Mencegah Penipuan Online: Dari Polisi Sampai PBB
Kepolisian telah melaksanakan lebih dari 10.400 kegiatan pencegahan di seluruh negeri pada tahun 2024, mulai dari pameran dan diskusi komunitas hingga sesi temu sapa dan pelibatan media.
Saifuddin mengatakan Malaysia memperkuat kerja sama internasionalnya dengan meratifikasi Konvensi Budapest dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kejahatan siber, serta meningkatkan peran Pusat Tanggap Penipuan Nasional (NSRC), yang kini berada di bawah Kementerian Dalam Negeri dan dipimpin oleh kepolisian.
"Melalui platform Frontier+, NSRC juga bekerja sama dengan pusat anti-penipuan asing untuk mengekang transaksi keuangan yang melibatkan sindikat internasional," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa partisipasi Malaysia di forum ASEAN dan internasional sangat penting dalam menanggulangi kejahatan siber lintas batas.
Pada saat yang sama, ia mengatakan Kampanye Internet Aman, yang diluncurkan pada Januari 2025, sejauh ini telah menjangkau 559 sekolah dan perguruan tinggi, yang melibatkan lebih dari 60.000 mahasiswa.
Saifuddin mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memverifikasi transaksi melalui jalur resmi.
"Memerangi penipuan online membutuhkan kerja sama yang komprehensif dari semua pihak untuk menciptakan dunia maya yang lebih aman dan lebih etis," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









