Akurat

Isu Penculikan Anak Bayangi Pertemuan Trump-Putin di Alaska

Kumoro Damarjati | 15 Agustus 2025, 15:27 WIB
Isu Penculikan Anak Bayangi Pertemuan Trump-Putin di Alaska

 

AKURAT.CO Ratusan warga berkumpul dalam aksi protes di Anchorage, Alaska, pada Jumat (15/8), menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Aksi ini dipicu tidak hanya oleh keberadaan Putin di tanah Amerika, tetapi juga oleh kemarahan atas dugaan penculikan lebih dari 20.000 anak Ukraina oleh Rusia sejak dimulainya invasi pada 2022.

Para pengunjuk rasa menyerukan agar anak-anak itu dikembalikan, menyebut penculikan tersebut sebagai kejahatan perang yang tidak bisa dibiarkan diabaikan dalam perundingan damai.

Pertemuan puncak ini, yang dijadwalkan berlangsung di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson sekitar pukul 11.00 waktu setempat, menjadi pertemuan tatap muka pertama antara presiden AS dan Putin sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Pertemuan ini dimaksudkan untuk membuka jalan menuju gencatan senjata, namun menuai kritik tajam karena Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak diundang.

Para pengunjuk rasa mulai berkumpul sejak pagi, meneriakkan slogan-slogan pro-Kyiv sambil mengangkat poster menuntut keadilan bagi anak-anak Ukraina yang dideportasi secara paksa. Mereka juga mengecam Trump karena memilih Alaska sebagai lokasi pertemuan—tanah yang secara historis pernah menjadi wilayah Rusia sebelum dijual ke Amerika Serikat pada 1867.

“Ukraina dan Alaska — Rusia tidak akan pernah lagi,” tulis Ostap Yarysh, penasihat media dari yayasan Razom untuk Ukraina, dalam sebuah unggahan di X yang disertai video suasana demonstrasi.

Penyelenggara lokal mengangkat narasi perlawanan terhadap tirani, menyerukan masyarakat untuk hadir dan menolak kedatangan “penjahat perang internasional” di tanah Alaska. Dalam pernyataannya, LSM Gerakan Pribumi menilai keputusan Trump mengundang Putin sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sejarah dan nilai moral yang diperjuangkan oleh rakyat tertindas di seluruh dunia.

Trump menyatakan bahwa pertemuan di Alaska ini akan diikuti dengan pertemuan trilateral yang melibatkan dirinya, Putin, dan Zelensky. Ia menyebut ada tiga opsi lokasi untuk pertemuan lanjutan, namun Alaska adalah yang "paling mudah secara logistik" untuk saat ini.

Sementara itu, Ukraina dan para sekutu Eropa menyambut pertemuan ini dengan harapan yang hati-hati. Trump belakangan memperkeras kritiknya terhadap peran Rusia dalam memperpanjang konflik, bahkan mengusulkan gagasan jaminan keamanan dari AS sebagai bagian dari negosiasi damai—sebuah pendekatan yang sebelumnya ia tolak. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pada hari Kamis bahwa pembahasan jaminan keamanan adalah langkah penting menuju perdamaian.

Meski Trump sempat menyampaikan ide kontroversial agar Ukraina "menukar tanah dengan perdamaian", ia kemudian menegaskan bahwa isu tersebut tidak akan dibahas dengan Putin tanpa kehadiran Zelensky.

Gedung Putih berusaha meredam ekspektasi terhadap hasil konkret dari pertemuan ini. Sekretaris pers Karoline Leavitt menyebutnya sebagai “latihan mendengarkan”, bukan negosiasi formal. Namun, Trump menegaskan bahwa ia menginginkan Putin bersikap serius, bahkan mengancam akan ada “konsekuensi sangat berat” bagi Rusia jika tidak ada kemajuan berarti dalam upaya mengakhiri perang.

Dari pihak Rusia, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa tidak ada dokumen yang direncanakan untuk ditandatangani dalam pertemuan ini, menandakan pendekatan yang masih bersifat penjajakan awal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.