WHO: Bantuan Kemanusiaan Terhambat, Gaza Diambang Bencana Kelaparan

AKURAT.CO Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan situasi di Gaza semakin memburuk, bahkan diambang bencana akibat kelaparan massal buatan manusia.
Dilansir Reuters, Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa krisis ini adalah konsekuensi langsung dari blokade bantuan yang menghambat masuknya pasokan vital ke wilayah kantung Palestina tersebut.
Pernyataan ini muncul setelah lebih dari 100 lembaga bantuan menyuarakan kekhawatiran serupa, menyoroti ironi berton-ton makanan, air bersih, dan pasokan medis yang tertahan di luar perbatasan Gaza.
Baca Juga: Menlu RI Serukan Dukungan Kuat ASEAN–UE untuk Palestina di Tengah Krisis Gaza
"Ini bukan sesuatu yang bisa disebut lain selain kelaparan massal, dan itu murni buatan manusia, sangat jelas. Ini terjadi karena blokade," kata Tedros dalam konferensi pers virtual dari Jenewa, Kamis (24/7/2025).
Sejak berkonflik dengan kelompok militan Hamas pada Oktober 2023, Israel memutus semua pasokan ke Gaza pada Maret, stok makanan di wilayah tersebut telah menipis drastis.
Meskipun blokade dicabut pada Mei, pembatasan yang diberlakukan dengan alasan untuk mencegah pengalihan bantuan kepada militan tetap menyulitkan aliran pasokan. Akibatnya, lembaga bantuan internasional melaporkan bahwa hanya sebagian kecil dari kebutuhan mendesak yang berhasil mencapai penduduk Gaza.
Pemerintah Israel menegaskan komitmennya untuk mengizinkan masuknya bantuan, namun bersikeras pada perlunya kontrol ketat untuk mencegah penyalahgunaan oleh militan. Israel menyatakan telah menyediakan cukup makanan selama perang, dan menyalahkan Hamas atas penderitaan 2,2 juta penduduk Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa sepuluh warga Palestina lainnya meninggal semalam, akibat kelaparan. Meningkatkan jumlah total korban jiwa akibat kelaparan menjadi 111 jiwa.
Sebagian besar kematian ini terjadi dalam beberapa minggu terakhir, saat gelombang kelaparan melanda wilayah tersebut.
Baca Juga: Ini Daftar Raksasa Teknologi Global yang Terlibat dalam Genosida Israel di Gaza
WHO juga mengungkapkan bahwa lonjakan gizi buruk yang mematikan, telah menyebabkan kematian sedikitnya 21 anak yang dilaporkan kepada badan tersebut pada tahun 2025. Angka ini diperkirakan hanya puncak gunung es, mengingat kurangnya data komprehensif.
Pusat-pusat penanganan kekurangan gizi saat ini penuh sesak dan kekurangan pasokan makanan darurat, memperparah krisis yang diperburuk oleh runtuhnya jaringan bantuan dan pembatasan akses.
Tedros menambahkan, PBB dan mitra kemanusiaannya tidak dapat mengirimkan makanan apa pun selama hampir 80 hari antara bulan Maret dan Mei, dan meskipun pengiriman telah dilanjutkan, jumlahnya masih belum mencukupi.
Situasi ini digambarkan sangat mengerikan. Sekitar 10 persen dari mereka yang diskrining menunjukkan kekurangan gizi parah atau sedang, dan angka ini melonjak hingga 20 persen pada wanita hamil.
Perwakilan WHO untuk wilayah pendudukan Palestina, Rik Peeperkorn, menyatakan bahwa pada bulan Juli saja, 5.100 anak telah terdaftar dalam program kekurangan gizi, termasuk 800 anak yang menderita kekurangan gizi akut.
Krisis kemanusiaan di Gaza menuntut perhatian global dan tindakan segera, untuk memastikan aliran bantuan yang tidak terhambat dan menyelamatkan nyawa jutaan orang yang kini menghadapi ancaman kelaparan massal.
Laporan: Bayu Aji Pamungkas/Magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









