Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, di Mana Letaknya dan Mengapa Penting? Simak Penjelasan Lengkap Ini

mengancam akan menutup Selat Hormuz usai serangan bom AS ke Iran, pada Sabtu (21/6/2025) lalu.
Sebab itu, ancaman penutupan Selat Hormuz ini menimbulkan kekhawatiran besar akan gangguan pasokan minyak mentah dunia, mengingat Selat Hormuz adalah jalur pengiriman utama untuk sekitar 20% konsumsi minyak global.
Di mana sebenarnya letak Selat Hormuz dan mengapa penting bagi global? Simak penjelasan lengkap berikut.
Lokasi Geografis Selat Hormuz
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang secara geografis terletak di antara pantai selatan Iran dan pesisir utara Uni Emirat Arab (UEA) serta Oman.
Selat ini menghubungkan Teluk Persia di sebelah barat dengan Teluk Oman dan Laut Arab di sebelah timur.
Pada titik tersempitnya, Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 33 kilometer (21 mil).
Jalur pelayaran yang dapat dilalui kapal tanker raksasa hanya selebar sekitar dua mil (3 km) di setiap arah, dan kapal-kapal ini harus melewati perairan teritorial Iran dan Oman.
Terdapat juga pulau-pulau strategis di wilayah ini seperti Qeshm, Hormuz, dan Hengām.
Peran Penting Selat Hormuz
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu "titik kritis" (chokepoint) minyak terpenting di dunia karena volume besar minyak yang melewatinya.
1. Jalur Transportasi Energi Global
Selat ini adalah satu-satunya pintu keluar masuk bagi kapal tanker dari Teluk Persia ke Samudra Hindia, di mana sebagian besar negara penghasil minyak dunia berada.
Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), rata-rata 20 juta barel minyak mentah per hari atau sekitar 20% dari konsumsi global melewati rute ini pada tahun 2024.
Pada tahun 2022, aliran minyak mencapai rata-rata 21 juta barel per hari, setara dengan sekitar 21% dari konsumsi minyak cair global. Volume ini juga setara dengan sekitar seperempat total perdagangan minyak via jalur laut global.
Selain minyak mentah, Selat Hormuz juga merupakan jalur utama untuk ekspor gas alam cair (LNG).
Sekitar 20% perdagangan global LNG juga melewati Selat Hormuz pada tahun 2022.
Negara-negara penghasil minyak utama seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan UEA sangat bergantung pada jalur ini untuk mengekspor minyak mereka ke pasar energi di Asia, Eropa, dan Amerika.
Sekitar 82% minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz pada tahun 2022 dikirim ke pasar Asia, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama.
2. Hubungan dengan Ekonomi Global
Gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi dan ketidakstabilan ekonomi di banyak negara.
Jika Iran menutup selat ini, harga minyak dunia diperkirakan akan melonjak tajam, berpotensi melebihi USD 100 hingga USD 150 per barel.
Kenaikan harga minyak secara mendadak akan mendorong inflasi, meningkatkan biaya energi, dan mengganggu aktivitas ekonomi global, termasuk sektor manufaktur, transportasi, dan pertanian.
Penutupan selat juga akan meningkatkan premi asuransi untuk pelayaran, yang akan menaikkan biaya bagi bisnis dan konsumen di banyak negara.
Ini juga dapat menimbulkan ketidakpastian di pasar saham dan menyebabkan volatilitas global.
Sejarah Ketegangan dan Ancaman Penutupan
Ancaman penutupan Selat Hormuz bukanlah hal baru dari Iran, negara ini telah lama menjadikannya sebagai alat tawar politik saat menghadapi tekanan Barat, terutama terkait sanksi dan isu nuklir.
Meskipun sering mengancam, Iran belum pernah benar-benar menutupnya secara penuh.
Namun, Iran pernah menyerang kapal tanker yang melintas di Selat ini pada tahun 2019, ketika ketegangan antara Iran dan AS memuncak.
Selama Perang Iran-Irak (1980-1988), kedua negara juga rutin saling menyerang pengiriman minyak.
Pada tahun 1988, kapal perang AS Vincennes menembak jatuh sebuah pesawat penumpang Iran di atas selat, menewaskan 290 orang.
Ancaman terbaru muncul setelah AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025.
Parlemen Iran telah menyetujui langkah untuk menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan.
Namun, keputusan akhir akan berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Mayor Jenderal Esmail Kosari, anggota parlemen dan komandan Garda Revolusi Iran, menyatakan bahwa penutupan selat "ada dalam agenda" dan "akan dilakukan kapan pun diperlukan".
Dampak bagi Berbagai Negara
Penutupan Selat Hormuz akan merugikan China dan ekonomi Asia lainnya yang sangat bergantung pada minyak mentah dan gas alam yang dikirim melalui jalur ini.
China, sebagai pembeli minyak Iran terbesar, mengimpor sekitar 5,4 juta barel per hari melalui Selat Hormuz pada kuartal pertama tahun ini.
India dan Korea Selatan juga merupakan importir besar.
Di sisi lain, AS dan Eropa hanya mengimpor sebagian kecil minyak melalui jalur ini (masing-masing sekitar 400.000 dan 500.000 barel per hari pada kuartal pertama 2025).
Oleh karena itu, negara-negara Arab dan Asia kemungkinan akan mengalami kerugian lebih besar daripada AS dan Eropa jika Selat Hormuz ditutup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









