Gertakan atau Ancaman Serius? Pengamat: Iran Harus Realistis Soal Penutupan Selat Hormuz

AKURAT.CO Rencana Iran untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap tiga fasilitas nuklir utama—Fordow, Natanz, dan Isfahan—menuai perhatian serius dari pengamat hubungan internasional.
Dosen Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia, Jelang Ramadhan, menilai, kebijakan penutupan Selat Hormuz harus disertai perhitungan strategis yang matang, terutama terkait kekuatan tempur yang dimiliki Iran.
“Iran harus memastikan penutupan selat ini dibarengi dengan kemampuan hard power yang cukup, baik untuk menghadapi serangan balik dari laut maupun udara. Jika tidak, penutupan hanya akan menjadi gertakan tak berdampak,” ujarnya kepada Akurat.co, Senin (23/6/2025).
Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan ini.
Gangguan di kawasan tersebut diyakini bisa memicu lonjakan harga minyak dan gas secara global, serta memperburuk kestabilan ekonomi pascapandemi.
“Mayoritas konsumen minyak Teluk adalah negara industri besar seperti India, Jepang, dan Tiongkok. Bahkan Amerika Serikat pun akan terdampak. Harga minyak mentah yang kini sekitar 70 dolar AS per barel, bisa melonjak drastis,” jelas Jelang.
Baca Juga: Toshiba Z770R Resmi Meluncur: Mini LED dan AI Canggih Hadirkan Pengalaman Menonton Tanpa Tanding
Menurutnya, jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, negara itu harus memperhitungkan berapa lama konflik dapat berlangsung hingga tercapai gencatan senjata atau salah satu pihak dipaksa mundur.
“Banyak analis memperkirakan konflik bisa berlangsung 1 hingga 2 tahun sebelum ada ruang untuk kembali ke meja perundingan,” tambahnya.
Ia juga menyoroti kemungkinan Iran menjadi ajang unjuk kekuatan bagi negara-negara yang tengah mengembangkan industri pertahanannya seperti Tiongkok dan Turki.
“Penutupan Selat Hormuz bisa menjadi bagian dari strategi untuk menguji kemampuan persenjataan baru negara-negara tersebut. Dan salah satu poin penting dalam gencatan senjata nantinya kemungkinan adalah pembukaan kembali jalur tersebut,” ujarnya.
Sebagai salah satu jalur laut tersibuk dan terdalam, Selat Hormuz disebut sebanding dengan Selat Bosphorus dan Selat Malaka dalam hal signifikansi geopolitik dan ekonomi.
Namun, tanpa perlindungan militer yang memadai, Iran berisiko gagal mempertahankan blokade tersebut dari serangan pihak lawan.
Baca Juga: Jatuh di Gunung Rinjani, Turis Brasil Ditemukan di Jurang Sedalam 500 Meter
“Jika fasilitas militer Iran di sekitar selat tak mampu bertahan, maka rencana penutupan ini hanya akan berakhir sebagai tekanan sesaat yang tak berdampak strategis jangka panjang,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










