Dunia Butuh Sosok Pemimpin Seperti Paus Fransiskus di Tengah Krisis Kemanusiaan Global

AKURAT.CO Dalam pusaran konflik dan ketegangan geopolitik global, dunia kini merindukan kehadiran pemimpin-pemimpin berani yang berdiri tegak di atas nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian—sosok seperti Paus Fransiskus, yang tak gentar menyuarakan keadilan di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, mengatakan, sosok seperti Paus Fransiskus sangat dibutuhkan di saat banyak pemimpin besar dunia justru abai terhadap isu kemanusiaan.
“Dunia saat ini membutuhkan pemimpin yang konsisten bersuara untuk perdamaian. Sayangnya, tidak semua negara besar punya pemimpin seperti itu,” ujar Hikmahanto dalam forum Dialektika Demokrasi*bertajuk “Mengenang Kesederhanaan Paus Fransiskus: Gong Bapak Suci untuk Perdamaian Israel–Palestina” di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (29/4/2025).
Hikmahanto menegaskan pentingnya konsensus global yang mendorong penghentian kekerasan, seperti yang selama ini diserukan Paus Fransiskus. Menurutnya, upaya menuju perdamaian tak boleh selalu diukur dari kekuatan militer.
“Perdamaian harus menjadi prioritas. Jangan terus-menerus menyelesaikan masalah dengan senjata,” tegasnya.
Baca Juga: 3 Alasan Kenapa Harus Nonton Drama Korea Always Home
Dalam pandangan Hikmahanto, konflik Israel–Palestina bukan soal agama, tetapi sengketa perebutan tanah yang kian brutal.
Ia menyoroti eskalasi kekerasan yang kini mengarah pada genosida, terutama terhadap warga sipil Palestina di Gaza.
“Yang kita lihat hari ini bukan lagi sekadar balas dendam atas serangan 7 Oktober, tapi upaya sistematis untuk menghapuskan Hamas, menguasai Gaza, dan mengulangi apa yang mereka lakukan di Tepi Barat,” papar Hikmahanto.
Ia pun menilai sikap Vatikan, khususnya Paus Fransiskus, menjadi suara moral yang langka dan berani di tengah kekejaman tersebut.
Keberpihakan Paus pada korban sipil dan kesederhanaannya dalam menyampaikan pesan justru membuat beberapa petinggi Israel merasa terusik.
“Ketegasan moral Paus Fransiskus sangat mengganggu elite Israel. Buktinya, tak ada satu pun delegasi Israel yang menghadiri pemakaman tokoh Vatikan. Bandingkan dengan kehadiran Presiden AS, Prancis, bahkan Zelensky,” ujarnya.
Hikmahanto juga menyoroti pergeseran sikap negara-negara Eropa yang mulai menyuarakan dukungan terhadap pengakuan negara Palestina.
Baca Juga: Apa Arti Kedaulatan bagi NKRI dan Apa yang Menjadi Visi dan Cita-cita NKRI?
Sebaliknya, ia mengkritik kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menurutnya hanya memperkeruh konflik melalui dukungan politik terbuka terhadap Israel.
Lebih lanjut, Hikmahanto mengingatkan agar rencana evakuasi 1.000 warga sipil dari Gaza oleh pemerintah Indonesia tidak dimanfaatkan sebagai legitimasi bagi Israel untuk mengosongkan wilayah tersebut.
“Kita harus berhati-hati agar misi kemanusiaan itu tidak malah dimanfaatkan Israel untuk menghilangkan eksistensi Palestina di Gaza,” tegasnya.
Ia menegaskan, Indonesia konsisten pada solusi dua negara (two-state solution), sebuah jalan tengah yang juga selalu disuarakan oleh Paus Fransiskus.
Terakhir, Hikmahanto memberi apresiasi atas konsistensi Paus dalam menyerukan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak Palestina, yang kerap menjadi korban kekerasan sistematis.
“Israel menyerang anak-anak karena mereka adalah generasi pejuang masa depan. Perempuan pun menjadi target karena mereka adalah sumber kehidupan rakyat Palestina. Ini kejahatan kemanusiaan yang tak boleh didiamkan,” pungkasnya.
Baca Juga: PORDI Bareng HGI Dorong Domino ke Panggung Internasional
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









