Akurat

Terungkap! Alasan ICC Tetap Berwenang Menangkap Rodrigo Duterte

Rahmat Ghafur | 11 Maret 2025, 16:00 WIB
Terungkap! Alasan ICC Tetap Berwenang Menangkap Rodrigo Duterte

AKURAT.CO Mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, ditangkap ICC pada Selasa (11/3/2025), terkait penyelidikan pembunuhan di luar hukum selama "perang melawan narkoba" di masa kepresidenannya.

Duterte ditangkap di Bandara Manila setibanya dari Hong Kong, sesuai dengan pernyataan pemerintah Filipina yang telah menerima permintaan dari ICC (International Criminal Court) melalui Interpol, organisasi kepolisian internasional.

Baca Juga: Profil Rodrigo Duterte: Eks Presiden Filipina yang Ditangkap di Manila dan Kasus Kontroversialnya

Mengapa ICC tetap berwenang untuk menangkap Duterte? Berdasarkan Surat Penangkapan Duterte yang dikeluarkan oleh ICC, Mahkamah Internasional menegaskan kewenangannya atas kasus ini.

"Meskipun Filipina resmi menarik diri dari Statuta pada 17 Maret 2019, Mahkamah masih memiliki yurisdiksi atas kejahatan yang terjadi di Filipina selama negara tersebut menjadi anggota Statuta, yakni dari 1 November 2011 hingga 16 Maret 2019," demikian bunyi dokumen ICC tertanggal 7 Maret 2025.

ICC juga menegaskan bahwa yurisdiksinya tetap berlaku untuk kejahatan yang terjadi sebelum Filipina keluar dari ICC.

Di sisi lain, ICC mulai menyelidiki kasus ini pada 2018, dan perintah penangkapan Duterte dianggap kemenangan bagi aktivis hak asasi manusia dan keluarga korban, meski Filipina menarik diri dari Statuta Roma.

Selama masa jabatannya, Duterte melancarkan perang narkoba tanpa henti, menghasut polisi untuk membunuh tersangka narkoba atau memprovokasi mereka untuk melawan.

Sebagian besar kasus yang diselidiki ICC terjadi antara 2016-2019, ketika penarikan diri Filipina dari ICC mulai berlaku.

Selain itu, penyelidikan juga mencakup dugaan kejahatan selama Duterte menjabat sebagai wali kota Davao.

Banyak korban, termasuk pejabat lokal, pengacara, hakim, dan anak-anak tak terkait narkoba.

Kemarahan Duterte terhadap penyelidikan ICC menyebabkan Filipina menarik diri dari ICC dan mengancam akan menangkap jaksa ICC saat itu, Fatou Bensouda.

Setelah Bensouda pensiun pada 2021, Karim Khan melanjutkan penyelidikan.

Filipina meratifikasi Statuta Roma pada 2011, yang mengatur ICC untuk menangani kejahatan berat seperti genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Penangkapan Duterte Jadi Titik Cerah Masyarakat Filipina

Penangkapan Duterte bisa menjadi langkah penting untuk memberikan keadilan bagi ribuan warga Filipina yang telah lama mencari pertanggungjawaban atas kematian orang-orang terkasih mereka.

Banyak dari mereka dibunuh oleh polisi, pembunuh bayaran, dan warga sipil. Aktivis mengatakan kebanyakan korban adalah orang miskin dari daerah perkotaan, termasuk anak-anak dan orang-orang yang tidak terlibat dalam perdagangan narkoba.

Hanya sedikit orang yang dihukum atas pembunuhan tersebut, yang menurut kelompok hak asasi manusia, jumlahnya diperkirakan sekitar 30.000.

Sebagai informasi, perang melawan narkoba adalah kebijakan utama dalam kampanye Duterte yang membawanya ke posisi presiden pada 2016.

Dalam pidatonya yang keras, Duterte berjanji untuk membunuh ribuan pengedar narkoba sebagai bagian dari upaya memberantas kejahatan ini.

Baca Juga: Ribuan Eks Pekerja PT Sritex Didata Ulang, Menaker: Akan Ditempatkan di Perusahaan Lain

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D