Akurat

Profil Rodrigo Duterte: Eks Presiden Filipina yang Ditangkap di Manila dan Kasus Kontroversialnya

Kosim Rahman | 11 Maret 2025, 14:50 WIB
Profil Rodrigo Duterte: Eks Presiden Filipina yang Ditangkap di Manila dan Kasus Kontroversialnya

AKURAT.CO Profil Rodrigo Duterte, mantan Presiden Filipina, kembali menjadi sorotan dunia setelah ditangkap oleh pihak berwenang di Manila, Selasa (11/3/2025).

Penangkapan tersebut dilakukan berdasarkan perintah dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Penangkapan ini terkait dengan kasus kejahatan terhadap kemanusiaan yang melibatkan kebijakan kontroversialnya selama menjabat sebagai presiden.

Terlepas dari penangkapannya, berikut ini adalah profil serta kasus yang menimpa Rodrigo Duterte.

Baca Juga: Covid-19 Menggila di Filipina, Rodrigo Duterte Perintahkan Tangkap Warga yang Belum Divaksin

Profil Lengkap Rodrigo Duterte

Duterte lahir pada 28 Maret 1945 di Kota Maasin dan telah lama terlibat dalam dunia politik.

Dia menjabat sebagai Wali Kota Davao pada periode 2001 hingga 2010, kemudian menjadi wakil wali kota pada 2013.

Pada 2016 hingga 2022, Duterte memimpin Filipina sebagai presiden, meskipun pemerintahannya mendapat banyak kritik dan kecaman.

Kasus Rodrigo Duterte

Baca Juga: Perang Narkoba Filipina Tewaskan 6.200 Orang, Rodrigo Duterte Tak Sudi Minta Maaf

Salah satu kebijakan yang menarik perhatian internasional adalah operasi anti-narkoba yang menyebabkan ribuan kematian di Filipina.

Karena hal ini, Duterte diselidiki oleh ICC dan sempat menjadi buronan.

Pada 1 Juli 2016, hanya sehari setelah menjabat, Kepolisian Nasional Filipina meluncurkan Project Double Barrel, sebuah kampanye antinarkoba yang sangat agresif.

Sejak itu, Duterte sering menyuarakan pembunuhan terhadap para penjahat dan anggota jaringan narkoba, menganggap mereka pantas ditembak mati tanpa proses hukum.

Pada Oktober 2016, empat bulan setelah dimulainya operasi tersebut, Jaksa ICC Fatou Bensouda mengungkapkan keprihatinan mengenai laporan eksekusi di luar proses hukum terhadap pengguna dan pengedar narkoba di Filipina.

Baca Juga: Presiden Filipina Rodrigo Duterte Mundur dari Pemilu Senat, Bakal Pensiun?

Kelompok pembela hak asasi manusia mencatat, operasi antinarkoba ini menyebabkan kematian antara 12.000 hingga 30.000 orang, dengan puncaknya terjadi pada 2016 dan 2017.

Sementara itu, data kepolisian melaporkan angka yang lebih rendah, yaitu lebih dari 6.200 korban jiwa.

Laporan dari kelompok pembela HAM menyebutkan bahwa ribuan pengguna narkoba dan pedagang kecil tewas dibunuh oleh penyerang tak dikenal pada periode tersebut.

Lalu, ICC akan memantau dengan cermat perkembangan di Filipina untuk menentukan apakah perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Duterte merespons dengan mengancam untuk mengikuti langkah Rusia yang menarik Filipina dari ICC.

Pada Februari 2018, ICC memulai penyelidikan awal terkait situasi di Filipina.

Baca Juga: Warganya Enggan Divaksin Covid-19, Rodrigo Duterte Usulkan 'Suntik Paksa' saat Mereka Tidur

Duterte marah dan memutuskan untuk secara resmi menarik Filipina dari ICC pada 16 Maret 2018, dengan efektivitas berlaku pada 17 Maret 2019.

Namun, pada 15 September 2021, Kamar Praperadilan I ICC memberikan izin bagi jaksa untuk menyelidiki dugaan pelanggaran kemanusiaan yang berkaitan dengan operasi antinarkoba yang dilakukan oleh Duterte.

Meskipun Filipina telah menarik diri, ICC tetap mempertahankan yurisdiksi karena dugaan kejahatan tersebut terjadi ketika Filipina masih menjadi negara anggota.

Pemerintah Filipina awalnya menentang upaya ICC untuk menyelidiki dan mengadili Duterte, terutama setelah terpilihnya Ferdinand Marcos Jr. sebagai presiden dan Sara Duterte, putri Rodrigo Duterte, sebagai wakil presiden pada pemilu 2022.

Baca Juga: Presiden Rodrigo Duterte Pensiun dari Politik, Putrinya Nyapres Pemilu 2022

Namun, baru-baru ini, pemerintah Filipina mengubah sikapnya. Pada 2024, mereka menyatakan tidak akan menghalangi jika ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Duterte.

Perubahan ini terjadi seiring dengan semakin buruknya hubungan antara keluarga Marcos dan Duterte, yang merupakan dua keluarga paling berpengaruh dalam politik Filipina, akibat perseteruan antara Marcos Jr. dan Sara.

Pada Maret 2025, Rodrigo Duterte akhirnya ditangkap di Manila atas surat perintah dari ICC yang terkait dengan dugaan pelanggaran hak asasi manusia selama masa jabatannya.

Pemerintah Filipina bahkan menyiapkan ribuan pasukan untuk menangkap Duterte, menandakan keseriusan mereka dalam menghadapi kasus ini.

Itulah profil Rodrigo Duterte dan kasus yang menimpanya. Semoga bermanfaat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.