Jepang Tuduh Pesawat Mata-mata China Langgar Wilayah Udaranya

AKURAT.CO Jepang mengklaim bahwa sebuah pesawat mata-mata China melanggar wilayah udaranya, yang menjadi insiden pertama dari jenisnya yang diketahui.
Jet tempur Jepang dikerahkan setelah pesawat pengintai Y-9 terdeteksi melanggar wilayah Kepulauan Danjo selama sekitar dua menit pada Senin pagi waktu setempat.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang menyatakan bahwa pelanggaran ini tidak dapat diterima dan memanggil perwakilan dari Kedutaan Besar China di Tokyo untuk menyampaikan protes resmi.
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan Asia-Pasifik, di mana China dan AS beserta sekutunya, termasuk Jepang, bersaing untuk mendapatkan pengaruh.
Baca Juga: Jepang Tawarkan Insentif Rp62 Juta bagi Wanita Yang Mau Menikah dan Pindah dari Tokyo
Meskipun tidak ada tindakan militer yang diambil oleh Jepang selain memberikan peringatan, insiden ini menimbulkan kekhawatiran yang serius.
Jepang telah menghubungi Beijing melalui jalur diplomatik untuk menyampaikan protes keras dan menuntut agar pelanggaran serupa tidak terulang.
Di pihak China, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, menyatakan bahwa negaranya tidak berniat melanggar wilayah udara negara lain dan masih menyelidiki situasi ini.
Sementara itu, ketegangan antara kedua negara juga terlihat di Kepulauan Senkaku yang diklaim oleh China dan Jepang, serta di Okinawa, rumah bagi pangkalan militer terbesar AS di Asia-Pasifik.
Menurut Profesor Ian Chong dari Universitas Nasional Singapura, insiden ini mencerminkan perilaku China di wilayah lain seperti Taiwan dan Filipina dalam beberapa tahun terakhir.
"Serangan terbaru ini mungkin tampak mengkhawatirkan karena China cenderung tidak menjelajah langsung ke wilayah udara Jepang," katanya, dikutip dari Bbc.com, Rabu (27/8/2024).
Ketegangan ini juga tercermin dalam hubungan China dengan negara lain di kawasan, seperti Filipina, yang baru-baru ini menyebut China sebagai 'pengganggu perdamaian terbesar' di Asia Tenggara.
Di tengah ketegangan ini, Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, sedang berada di Beijing untuk membahas berbagai isu sensitif dengan pejabat tinggi China. Kedua belah pihak diharapkan mencari cara untuk menghindari eskalasi yang tidak terkendali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








